Review Film: Sleepaway Camp (1983)

8 comments
Review Film: Sleepaway Camp (1983) Indonesia

Film horor Sleepaway Camp (1983) garapan sutradara Robert Hiltzik ini dibuka dengan adegan sekelompok remaja yang sedang asyik liburan musim panas sambil bermain kapal boat. Seperti remaja pada umumnya, mereka ingin terlihat keren, menantang adrenalin dengan membuat kapalnya melaju sangat kencang yang menyebabkan mereka tidak tahu kalau ada keluarga (yang terdiri dari bapak, anak laki-laki dan perempuan) sedang berenang di tepi pantai. Alhasil, kapal yang ditumpangi remaja tersebut secara brutal tanpa sengaja menggilas keluarga yang sedang berenang di pantai.

Keasikan ngebut, eh malah ngelindes orang, nggak punya adab emang

Seolah terlepas dari kejadian tersebut, kita dibawa time shift delapan tahun kemudian ke adegan tante Martha (Desiree Gould) yang sedang sibuk mempersiapkan anaknya, Ricky (Jonathan Tiersten) dan keponakannya, Angela (Felissa Rose) pergi untuk berangkat berkemah di Camp Arawak bersama.

Angela dan Ricky berpamitan untuk pergi ke sebuah perkemahan musim panas

Sesampainya di camp, tentu penginapan camper laki-laki dan perempuan dipisah. Oleh karena itu, Angela terpaksa harus terpisah dari Ricky, padahal Angel sangat pendiam dan seolah susah bergaul. Nggak cuma itu, Angela juga sering bikin orang-orang di sekitarnya jengkel, karena dia tidak pernah menjawab omongan siapapun, kecuali pada Ricky dan temannya, Paul (Christopher Collet). 

Angela kerap bikin sebel karena dia selalu diam seribu bahasa alias tutup mulut kecuali kalau ngobrol sama Ricky dan Paul

Hal ini tentu membuat Angela jadi sasaran bullying baik dari orang laki-laki maupun teman-teman sekamarnya yang perempuan, seperti Judy (Karen Fields) dan Meg (Katherine Kamhi) yang mengingatkan saya dengan peran antagonis Nia Ramadhani dan Gracia Indri kalau di sinetron Indonesia. Untungnya, Angela memiliki sepupu yaitu Ricky yang nggak pernah absen melindungi Angela.

Judy dan Meg yang selalu mengganggu Angela

Tak hanya nggak mau bicara, Angela juga bikin resah pengurus camp karena dirinya tidak mau makan makanan apapun. Oleh karena itu, pengurus camp menyuruh Angela untuk ke dapur dan minta tolong kepada koki untuk memberikan makanan yang disukai Angela. Eits di sini mulai terjadi konflik pemirsa. Pasalnya, kepala koki di situ justru nakal alias agak p*dofil nih. 

Angela lagi digodain koki

Untungnya Ricky datang, sehingga Angela bisa selamat. Kepala koki tersebut juga meminta mereka untuk tidak melaporkan perbuatannya pada siapapun. Tak disangka, kepala koki ini mendapatkan pembalasan akibat perbuatannya pada Angela, yaitu tubuhnya melepuh karena masuk ke dalam panci yang berisi air mendidih. 


Sederet peristiwa aneh dan mengerikan akhirnya muncul satu persatu di camp Arawak ini. Banyak peserta camp yang ditemukan tewas, dan semuanya yang tewas sebelumnya memang sempat membully dan menghina Angela habis-habisan. Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan bagi setiap orang yang nonton, siapa nih pelaku utamanya? 

A Perfect Place to meet young girls, might just be the perfect place to die!

Film Sleepaway Camp seolah memberikan formula yang hampir sama pada setiap horor slasher. Yaitu orang yang nyebelin, genit, sok dan suka bully orang lain, biasanya akan tewas secara mengenaskan terlebih dahulu. Ending yang disajikan pun sukses bikin saya ngeri dan ngakak bersamaan hahaha (maap). Tapi, twist yang diberikan Sleepaway Camp ini sebetulnya udah diisi dari awal, udah dikasih petunjuknya gitu. Mulai kejadian keluarga yang terlindas kapal boat, ibunya Ricky alias tantenya Angela yang terlihat sangat ceria dan creepy itu, ternyata saling berhubungan dan masuk akal membentuk kepribadian pelaku utama pembunuhan di Camp Arawak ini.

You will go there in a bus...and come home in a box!

Btw, setelah saya nonton film ini, saya jadi sadar. Walau kisah film ini hanya fiktif belaka, rasanya cukup bisa memberi gambaran kepada saya kalau kecerobohan atau kesalahan yang kita lakukan itu nggak hanya akan berhenti di satu waktu saja. Seperti contohnya peristiwa mengerikan yang dialami oleh korban yang terlindas kapal boat yang ditunggangi remaja tanggung sok keren itu ternyata memberikan trauma yang mendalam pada keluarga yang ditinggalkannya, dan akhirnya malah menimbulkan rentetan tragedi pembunuhan yang mengenaskan. Yah, memang sebaiknya hidup ini harus dijalankan hati-hati, baik dari sikap maupun perkataan. (Huhuhu)

Nah itu tadi review singkat tentang film horor Sleepaway Camp (1983) yang bikin saya ngeri sekaligus ngakak saat nonton endingnya. Buat kamu yang penasaran dengan film ini, silakan nonton dulu deh. Nah buat kamu yang udah nonton, gimana perasaanmu saat nonton adegan endingnya itu? Hahahaha! (*)

8 komentar:

  1. Eh, bukannya ini film yg scene kematiannya emang konyol dan ngakak, ya? tapi endingnya yg bikin kagok/tercengang. palagi Angelanya cuma diem merhatiin orang doang sepanjang film.

    2020 spesial film-film thriller slasher pa gimana dah, Njus...

    dulu saya suka genre film begini. tapi setelah melihat kejadian langsung, maksudnya ngeliat badan orang kebelah kena peralatan tajam, jadi nggak mau nonton film begini lagi. dikurang-kurangi, sih tepatnya. meski di bebrapa film action juga masih nemu. paling nggak, suasananya nggak dibangun horor kayak film ini.

    sekarang milih horor yang ringan2 aja kayak The cabin in the woods.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha malah cabin in the wooooooddds, ngeri banget sih kalau itu. Iya endingnya itu bikin kaget sekaligus ngakak, nggak bakal lupa!

      emm alasan 2020 kok banyak film thrilles slasher di blog ini...selain akhir-akhir ini aku baca Fear Street, alasan lainnya adalah sudah aku jelaskan di postingan yang judulnya Review Film Friday 13th hehe

      Hapus
  2. Suzana dengan kearifan telenovela film ini mah. Emang karakter yang diem-diem polos justru isi kepalanya adalah balas dendam dengan cara sadis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi adegan catokan rambut! hahaha

      Hapus
  3. Saya belom nonton, tapi penasaran. Huft. Oke, saya nonton dulu, terus akan komen lagi kalau sudah nonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu komentarnta lagi ya hahah

      Hapus
    2. Halo, Mbak Njus. Aku kembali dengan isi kepala setelah nonton film ini. Haduuuuh, Angela di ending kenapa jadi gitu dah kan lucuuuu hahahaa.

      Btw, film tahun 1983 ini adegan tewasnya nggak ngeri tapi malah lucu yaaa. Yang lucu pas adegan si Judy mati sih. Sumpah itu tangannya kok gitu :( ga ada serem2nya pisan malah jadi komedi bagiku :(

      Hapus
    3. iya sumpah pas endingnya si Angela nongol itu aku nguakak banget hahaha. Mana ada suara geraman kaya auman macan, makin ngakak.

      Iya, itu Judy aneh banget, kan 2 tangannya masih bebas ya, itu bisa sebetulnya buat ngedorong pelaku biar ga ngebunuh dia. Tapi ya gimana, udah disuruh sutradara gitu kayaknya hihi

      Hapus