Review Film: The House of The Devil (2009)

4 comments
Review Film: The House of The Devil (2009)

Awal menemukan film The House of The Devil (2009) ini sebenarnya tidak sengaja, yaitu saat saya mencari film tentang babysitter yang pernah saya tonton di Trans TV hehe. Tapi yang saya tonton waktu itu settingnya jauh lebih modern, seperti telah menggunakan laptop untuk mengerjakan paper, dan rumahnya juga sudah bergaya modern. Ceritanya tentang seorang cewek yang jadi babysitter, kemudian dia diteror dengan telepon yang selalu berdering di rumah tersebut. Sampai sekarang film itu masih misterius untuk saya, alias belum ketemu judulnya. Kalau kamu tahu, bisa kasih tahu judulnya di komentar yaa, terimakasih!

Film horor The House of The Devil (2009) yang disutradarai oleh Ti West ini bercerita tentang seorang mahasiswi yang ekonominya lagi pas-pasan bernama Samantha Hughes (Jocelin Donahue) yang sedang berusaha mendapatkan uang untuk menebus biaya sewa rumahnya yang baru, yaitu sebesar 300 dolar AS. Soalnya si Samantha ini punya roomate nyebelin dan berantakan, bahkan suka ena-ena sampai pagi, jadi mungkin Samantha sebel akhirnya mau nggak mau harus cari rumah baru.

Samanta Hughes (Jocelin Donahue)

Seperti kampus pada umumnya, papan iklan tentu menjadi spot favorit yang kerap dituju mahasiswa pencari lowongan kerja sampingan atau beasiswa. Di sini, Samantha Hughes melihat info lowongan kerja sebagai babysitter, lengkap dengan nomor yang bisa dihubungi. Meski tak menyukai anak-anak, hal ini harus ia lakukan karena Samantha sama sekali tidak punya uang untuk membayar uang sewa rumah. Sialnya, saat dihubungi dan janjian di suatu tempat, si pemberi kerja ini malah mangkir dan membuat Samantha bosan setengah mati hingga ketiduran di jalan. Untungnya Samantha punya sahabat baik bernama Megan (Greta Gerwig) yang mau menemaninya makan dan selalu menghiburnya. 

Samantha nungguin sampai kering, tinggal dibalik aja ni biar mateng merata

Singkat cerita, si pemberi pekerjaan ini akhirnya menghubungi Samantha dan menyesal karena tadi PHP-in dia hehe. Megan yang khawatir dengan sahabatnya, akhirnya menemani Samantha bahkan memaksa agar bisa ikut menemaninya bekerja di rumah tersebut. Hal ini, karena pekerjaan sebagai babysitter tersebut lokasi rumahnya terletak di daerah terpencil.

Samantha dan Megan di ruang tamu Pak Ulman

Keanehan mulai terjadi saat Samantha tiba di rumah Pak Ulman, yang mempekerjakan Samantha. Pak Ulman ternyata tidak setuju jika Samantha membawa teman yang akan menemaninya bekerja di rumah tersebut. Nggak cuma itu, ternyata yang dijaga ini bukan anak-anak, tapi ibunya Pak Ulman. Pak Ulman beralasan bahwa tentu susah kalau mencari lowongan penjaga orang tua, oleh karena itu, dia bikin click bait nih iklannya, biar kejebak hehe. 

Jadi dek Samantha, aku tuh suka bikin postingan click bait, kata Pak Ulman dengan muka tanpa dosanya

Samantha yang mengetahui dirinya tidak memiliki kemampuan untuk menjaga orang tua tentu menolak, takut nanti kenapa-napa. Tapi Pak Ulman bersikeras, bahwa yang penting Samantha menjaga di rumah saja selama ia dan istrinya pergi nonton gerhana, karena ibunya juga nggak ngerepotin. Nggak cuma itu, Samantha juga diberi bayaran sangat besar yaitu 400 dolar AS hanya untuk menjadi babysitter dalam waktu 4 jam saja. Karena memang lagi kepepet, mau nggak mau Samantha akhirnya menyetujui kesepakatan tersebut.

Megan yang mengetahui hal itu tentu marah dan kecewa. Karena dia tahu betul bahwa ada sesuatu yang aneh, sampai-sampai seorang babysitter rela mereka bayar dengan upah yang tinggi. Meski begitu, Megan tetap mengiyakan keputusan sahabatnya, sembari dirinya berhenti di sebuah pemakanan untuk menunggu jam kerja Samantha habis, kemudian menjemputnya.

Selama ditinggal Pak Ulman dan istrinya, Samantha melakukan apapun untuk mengusir rasa kebosanannya. Hingga suatu ketika, Samantha nggak sengaja nemu foto keluarga yang sedang berpose di mobil Volvo, yang diparkirnya di depan rumah ini. Tapi, keluarga di dalam foto tersebut bukanlah Pak Ulman dan istrinya. Di sinilah ketegangan film ini mulai naik yang akhirnya ditutup ending yang apik, khas film-film era 1970-1980an.



Film The House of The Devil ini sebetulnya keluaran tahun 2009, tapi Ti West berhasil membuat film ini jadi tampak seperti film tahun 70-80an. Kayak nonton film The Omen, Don't Look Now, Halloween, Rosemary's Baby dan sebagainya, di mana pada era tersebut tidak ada handphone atau smartphone, terus pasti ada adegan kabel telepon putus yang bikin tokoh utama jadi makin panik. Nggak cuma itu, kita juga sering melihat Samantha menggunakan walkman mendengarkan kaset, jadi kesan retronya makin keliatan banget.


Saat saya baca review di laman The Horror Syndicate, film ini ternyata menggunakan tema "satanic panic" yang kerap digunakan sebagai plot film horor pada tahun 1970an dan 1980an, contohnya seperti Rosemary's Baby (1968). Di awal film ini juga dijelaskan bahwa film ini berdasarkan kejadian nyata yang tak bisa dijelaskan. Yaitu pada tahun 1980-an sebanyak 70 persen penduduk Amerika percaya pada keberadaan kultus setan yang kejam, sedangkan 30 persen sisanya beralasan kurangnya bukti karena pemerintah menutupi hal ini.

If something seems too good to be true, it probably is not true.

Dari film ini saya jadi menarik pesan moral, bahwa jika kita mendapatkan pekerjaan yang diberi upah terlalu berlebihan daripada jobdesc yang akan kita lakukan, itu bisa jadi pertanda kurang baik. Jadi, berhati-hatilah sebelum tanda tangan kontrak di atas materai!

Nah buat kamu yang lagi pengin nonton horor, apalagi penggemar film horor era 70 sampai 80-an, jangan lupa nonton The House of The Devil (2009) ya, selamat menonton! (*)


4 komentar:

  1. Relate banget aku sebagai orang yang pernah nunggak kosan X(

    Otw masuk daftar tontonan Agustus, deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah iya, mahasiswa memang kerap dihadapkan permasalahan ini, yang penting jangan sampe nyasar ke lowongan kerja abal abal kayak ngelem benang teh celup contohnya

      Hapus
  2. jadi refrensi untuk nonton film.... film 2009 tapi sukses bikin settingkan era 80-an

    BalasHapus