Review Film: Friday the 13th (1980)

4 comments
Review Film: Friday the 13th (1980)

Beberapa hari ini saya lagi seneng banget buat nonton film horor. Mungkin karena sama-sama merasa dihantui seperti karakter di film horor, tapi bedanya sekarang kita lagi dihantui oleh virus corona yang membuat kita harus banyak beraktivitas di rumah saja. Sedih dan serem banget. Oleh karena itu, menonton film apalagi film horor mungkin jadi sebuah sarana coping stress saya biar tetap waras untuk bekerja dan beraktivitas seperti biasa, meski keadaan lagi nggak biasa.


Salah satu film yang menarik untuk saya bahas kali ini adalah Friday The 13th (1980). Film besutan sutradara Seans S. Cunningham ini bercerita tentang sebuah area camp bernama Crystal Lake yang baru saja dibuka lagi, setelah ditutup selama 21 tahun lalu karena kejadian pembunuhan mengerikan yang menimpa pasangan muda-mudi. 


Layaknya sebuah camp, tentu para pendamping yang biasanya berusia anak SMA terlebih dahulu hadir di Crystal Lake, guna mempersiapkan camp sebelum dibuka untuk anak-anak. Annie Philips (Robbi Morgan) petugas logistik camp ketika di jalan menuju Crystal Lake, sebetulnya telah diperingatkan oleh seorang yang dikenal gila bernama Ralph, untuk segera membatalkan rencana ke Crystal Lake, karena dikhawatirkan akan terjadi kejadian serupa 21 tahun yang lalu. Tak mengindahkan nasehat itu, Annie Philips tetap berangkat hingga ia tak sadar telah menumpang mobil seseorang yang ternyata merupakan serial killer yang akan menghantui Crystal Lake.


Film yang dibintangi Kevin Beacon (yang masih muda banget hahaha), Betsy Palmer, Adrienne King, Harry Crosby, Laurie Bartram, Mark Nelson, Jeannine Taylor, Robbi Morgan ini mengingatkan saya dengan novel series Fear Street karangan RL Stine. Buat kamu yang suka baca Goosebumps pasti tahu RL Stine hehe. Nah di Fear Street memang kerap diceritakan kalau anak SMA banyak yang menghabiskan waktu musim panasnya dengan menjadi pendamping camp, seperti yang dilakukan para tokoh utama di Friday 13th ini. 



Seperti remaja SMA Amerika biasanya, di dalam kelompok tersebut tentu ada pasangan yang akhirnya memanfaatkan kondisi jauh dari orangtua, sehingga sekalian saja mereka mantap-mantap di camp. Ada yang suka usil, nge-prank sesama pendamping camp, dan sebagainya. Mereka tidak sadar kalau sedang diawasi oleh sesosok makhluk dari jauh. Camp Crystal Lake mulai mencekam karena akhirnya anggota camp menghilang satu persatu.


Pada akhirnya, anggota camp yang tersisa mau tidak mau harus mencari tahu keberadaan teman-temannya yang menghilang dan tetap berjuang untuk mempertahankan hidup melawan serial killer yang berusaha membunuhnya, yang ternyata berkaitan dengan kejadian 21 tahun lalu sebelum Crystal Lake ditutup.


Meski plotnya terbilang sederhana, saya cukup menikmati suasana diteror di film horor ini. Kayak lagi baca Fear Street banget, apalagi ini settingnya juga pada tahun 90-an jadi kesan jadulnya mirip. Hari Jumat ke 13 atau yang kerap disebut Friday The 13th tampaknya memang kerap jadi momok oleh banyak orang, termasuk orang Amerika. Bahkan film yang membawa cerita tentang Jumat ke 13 ini juga dibilang sudah sangat banyak. Kalau di Amerika ada Friday The 13th, kalau di Indonesia mungkin lebih akrab malam Jumat Kliwon haha. 

Nah, buat kamu yang pengin nonton horor tapi ringan dan biasa aja, tidak ada salahnya untuk mencoba nonton film Friday the 13th.

Well, happy watching! (*)

4 komentar:

  1. ((mantap-mantap di camp))

    Jadi ingat, calon film mantap-mantap di camp KKN ala Indonesia belum jadi tayang karena corona.

    Kalau di Amerika 13 itu angka sakral, banyak sejarah kelam terjadi di hari Jumat tanggal 13. Ada pengeboman Istana Buckingham, topan Bhola yang korbannya ratusan ribu jiwa. Kalau di Asia Timur (Korea, China, Jepang) angka sakralnya malah 4 (shi) yang artinya kematian. Di beberapa gedung yang nggak ada lantai 4-nya biasanya yang punya orang keturunan Asia Timur. Katanya sih bawa sial. Jadi habis lantai 3 langsung lompat ke angka 5 :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha mirip juga yak sama KKN di Desa Penari, gara-gara mantap mantap juga...hadeeehh

      Hapus
  2. Hihi ini film kayaknya yg bikin formula banyak film horror slasher lain, di tempat terpencil, sekumpulan muda mudi beragam karakter, mati satu-satu, yg sompral cepet matinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa bener, yang paling genit, yang paling sok keren itu memang kerap paling dulu terbunuh. Yang nggak aneh-aneh biasanya antara jadi satu-satunya yang selamat, atau malah itu pelakunya

      Hapus