Review Film: The Wicker Man (1973)

1 comment
Review Film: The Wicker Man (1973) Indonesia

Film bergenre horor, thriller sekaligus misteri yang rilis tahun 1973 hasil karya sutradara Robin Hardy ini bercerita tentang seorang Sersan Howie (Edward Woodward) dari Kepolisian West Highland yang mendapatkan surat untuk menyelidiki hilangnya gadis bernama Rowan Morrison di pulau terpencil bernama Summerisle. Anehnya, ia datang jauh-jauh dari West Highland ke Summerisle ini hanya karena ada surat tanpa nama yang memohonnya menyelidiki anak yang hilang tersebut.


Sersan Howie (Edward Woodward) dari Kepolisian West Highland menyelidiki hilangnya gadis bernama Rowan Morrison di pulau terpencil bernama Summerisle
Keanehan nggak berhenti sampai di situ saja, ketika di Summerisle, semua orang yang ditanya Howie tak ada yang tahu kalau gadis bernama Rowan Morrison menghilang. Hal itu tentu tidak wajar, karena Summerisle itu pulau kecil dan penduduknya tidak banyak, jadi tentu setiap orang yang mendiami Summerisle mengenal satu sama lain. Nggak cuma itu, ketika Howie mengunjungi kantor pos milik May Morrison, mereka juga bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tidak ada anak putrinya yang hilang. Bahkan salah satu anak keluarga Morrison mengatakan bahwa Rowan Morrison adalah seekor kelinci.

Menyadari belum bisa kembali dari Summerisle karena penyelidikannya belum selesai, Howie akhirnya menginap di sebuah motel bernama Green Man Inn. Di motel tersebut banyak pria termasuk putri pemilik motel bernama Willow (Britt Ekland) saling bernyanyi dan berdansa. Nggak cuma itu, Howie juga melihat ada seorang pria yang dipersembahkan Lord Summerisle (pemimpin pulau Summerisle) untuk bereksperimen ena-ena dengan Willow, bahkan para pria di lantai bawah motel ikut bernyanyi dan menghadap ke kamar Willow, seolah sengaja bernyanyi mengiringi kegiatan ena-ena mereka. Tak hanya di dalam kamar, banyak pasangan muda-mudi saling ena-ena massal berjamaah di lapangan terbuka. Tentu saja hal ini mengusik jiwa Howie yang diceritakan sebagai sosok yang religius. Sinting! Saya yang cuma nonton aja langsung stres apalagi Howie.

Willow (Britt Ekland)
Film ini sangat horor menurut saya. Kita digiring perlahan-lahan untuk mengetahui bahwa ada yang tidak beres di pulau Summerisle. Misteri tidak hanya tentang hilangnya Rowan Morrison, tapi perilaku "tidak wajar" yang dilakukan oleh penduduk Summerisle. Semua orang di Summerisle melakukan hal yang menurut Howie aneh dan tidak wajar, tapi justru mereka memandang aneh Howie yang seorang religius. Bahkan menjadikannya seperti lelucon.

Menonton film ini, mau nggak mau saya jadi membandingkan dan teringat dengan film Midsommar yang tayang tahun 2019 lalu. 

Baca juga: Review Film Midsommar (2019)

Di Summerisle isinya orang menari, bernyanyi, bercocok tanam dan...bereproduksi
Di Midsommar dan The Wicker Man sama-sama banyak orang suka menari, bernyanyi bahkan sambil telanjang bulat di lapangan terbuka, dan juga ada festival May Day di The Wicker Man yang membuat saya ingat festival serupa yang ada di Midsommar. Bahkan, di penginapan yang ditinggali Dani selama di desa Harga pada film Midsommar juga terdapat foto-foto May Queen, hampir mirip dengan adegan di film The Wicker Man yang juga ada adegan Howie melihat foto gadis-gadis pada setiap acara May Day.


The Wicker Man sukses menyajikan cerita mencekam akan teror justru dari manusia biasa, bukan berwujud makhluk halus atau monster. Bahkan The Wicker Man sama sekali nggak ada adegan gore berdarah-darah tapi tetap bisa bikin saya merinding sampai sekarang. Akhir cerita film ini juga dikemas secara apik dan memuaskan. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penduduk Summeisle juga sangat enak didengarkan sekaligus bikin makin creepy.

Nah buat kamu yang belum nonton, saya sarankan untuk nonton deh, apalagi yang seneng sama Midsommar. Please, saya nggak mau gelisah sendirian gara-gara nonton The Wicker Man! Kalau yang udah nonton, cerita dong gimana rasanya nonton The Wicker Man, apakah sama-sama gelisah kayak saya ini huhu. (*)

Sumber gambar: Imdb.com

1 komentar:

  1. The Wickerman tidak ada apa-apanya dibandingkan scene "titit kepentok landasan kayu".

    BalasHapus