Hello!
My name is Justina Landhiani

Writer // Thanks for taking a look at my blog

Review Film: The Fan (1982)

1 comment
Review Film: The Fan (1982)
Review Film: The Fan (1982) Indonesia

Hubungan antara seorang idola dan fans fanatik, merupakan inti cerita dari film horor The Fan atau Der Fan (1982). Film asal Jerman yang disutradarai oleh Eckhart Schmidt ini mengisahkan seorang remaja bernama Simone (Désirée Nosbusch) yang tergila-gila dengan penyanyi pop bernama R (Bodo Staiger).

Simone (Désirée Nosbusch) di film The Fan (1982) yang tergila-gila dengan penyanyi pop bernama R (Bodo Staiger)
Simone (Désirée Nosbusch) di film The Fan (1982) yang tergila-gila dengan penyanyi pop bernama R (Bodo Staiger)

Tentu hal ini sangat wajar dan pernah kita alami saat remaja, di mana kita sering mengidolakan seseorang artis atau penyanyi, kemudian membayangkan, bagaimana jika beneran ketemu, ngobrol sama orang yang kita idolakan, bahkan ngebayangin menjalin hubungan dengannya dan sebagainya. Tapi, Simone ini justru ngefansnya udah sampai tahap fanatik banget. Simone rajin mengirim surat kepada R, bahkan setia menunggu balasan suratnya setiap hari.

Simone di film The Fan (1982) selalu setia menunggu balasan surat dari idolanya
Simone di film The Fan (1982) selalu setia menunggu balasan surat dari idolanya

Simone sangat ingin R memikirkan dirinya, dan membuat dirinya jadi bagian dari kehidupan R. Ia bahkan tampak seperti seseorang yang linglung dan seolah lagi kena sirep alias kayak nggak sadar. Yang ada di pikirannya cuma R, bahkan saat berada di kelas ia juga hanya melamun dan sering membolos. 


Simone di film The Fan (1982) cuma melamun memikirkan R setiap hari
Simone di film The Fan (1982) cuma melamun memikirkan R setiap hari

Sedangkan bagi R sendiri, memiliki karir sebagai penyanyi yang tengah ramai diperbincangkan dan dikelilingi banyak fans tentu merupakan kenikmatan serta kebahagiaan. Banyak orang yang ingin mendapatkan kepopuleran seperti R. Bahkan R sendiri juga sering mendapatkan kiriman banyak surat dari fans-fansnya yang tidak satupun ia baca, dan langsung dibuang begitu saja. R juga mudah sekali mendapatkan apapun yang ia mau, termasuk dapat memilih cewek mana saja yang ia suka. 

R di film The Fan (1982)
Menjadi penyanyi pop terkenal, R tentu kerap dikelilingi banyak orang termasuk cewek cantik

Lama kelamaan, kekaguman Simone kepada R sudah berubah menjadi semacam obsesi. Simone tak tahan suratnya tidak pernah dibalas sang idola. Oleh karena itu, ia bersikeras untuk mendatangi tempat R akan tampil, bagaimana pun caranya. Untuk R sendiri, kehidupan yang menyenangkan sebagai seorang idola kemudian akan terasa berbalik arah menjadi bak film horor ketika memiliki fans fanatik yang sangat ingin memilikinya. 

Saat menonton film The Fan (1982), saya sangat menyukai karakter Simone yang sukses memerankan seorang gadis remaja yang benar-benar mabuk kepayang kepada idolanya. Bahkan dia sering bertengkar dengan orangtuanya, rela membolos hingga melakukan tindakan nekat hanya demi membahagiakan idolanya, yang bahkan tidak mengenal dia. Meski masuk ke genre film horor, film The Fan (1982) tidak memberikan jumpscare seperti hantu atau adegan sadis yang mengagetkan. Film The Fan (1982) juga terasa sangat slow tapi hal ini membuat kita mudah memahami karakter Simone yang pendiam dan hanya fokus kepada R saja. Bahkan sampai ending, Simone juga terlihat tampak tenang dan diam menghadapi semua yang harus ia lakukan demi menjadi bagian dari kehidupan R atau R menjadi bagian dari dirinya.

Lalu, bagaimana nasib Simone setelah bertemu dengan R? Apakah harapan yang selama ini ia pupuk akan terlaksana? Daripada penasaran, coba tonton juga deh! (*)

Review Film: Eyes Without a Face / Les Yeux Sans Visage (1960)

1 comment
Review Film: Eyes Without a Face / Les Yeux Sans Visage (1960)
 Review Film: Eyes Without a Face / Les Yeux Sans Visage (1960) Indonesia

Film horor Eyes Without a Face atau Les Yeux Sans Visage (1960) yang disutradarai dan ditulis oleh sutradara Georges Franju ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karangan Jean Redon. Film horor Eyes Without a Face yang mengambil setting di Paris ini mengisahkan tentang seorang dokter bedah yang berambisi mengembalikan kecantikan wajah putrinya yang sudah rusak akibat kecelakaan.

Christiane Génessier di film Eyes Without a Face (1960) harus memakai topeng karena wajahnya rusak
Christiane Génessier di film Eyes Without a Face (1960) harus memakai topeng karena wajahnya rusak

Setelah istrinya meninggal, Dr. Génessier (Pierre Brasseur) tampaknya sangat terpukul dan bertanggungjawab akan kecelakaan yang menimpa putrinya, Christiane (Edith Scob). Melihat wajah cantik Christiane jadi rusak parah, Dr. Génessier ingin melakukan segala cara agar wajah cantik putrinya bisa kembali. Tapi ternyata Christiane bukan wanita pertama yang jadi 'objek percobaan' ayahnya. Sebelumnya, sekretarisnya yang bernama Louise (Alida Valli) juga telah berhasil dioperasi wajahnya yang rusak parah oleh Dr. Génessier, sehingga kini memiliki wajah cantik dan hanya meninggalkan bekas luka di leher yang bisa ditutupi dengan kalung mutiara.

Louise, sekretaris Dr. Génessier di film Eyes Without a Face (1960)
Louise, sekretaris Dr. Génessier di film Eyes Without a Face (1960)

Mengingat kebaikan Dr. Génessier pada dirinya, maka Louise sangat setia melakukan apapun yang diminta dokter bedah tersebut, walau sebetulnya dia sudah muak dengan permintaan sang dokter. Yaitu mencari "mangsa" untuk diberikan pada Dr. Génessier agar bisa digunakan untuk memperbaiki wajah putrinya. Wanita yang dicari oleh Louise dan Dr. Génessier pun memiliki ciri yang mirip dengan putrinya. Wanita kulit putih, berambut pirang menjadi sasaran Louise dan Dr. Génessier. Nggak cuma itu, Louise juga yang harus membereskan mayat-mayat wanita yang terbunuh usai wajah mayat tersebut digunakan untuk memperbaiki wajah Christiane. 

Louise di film Eyes Without a Face (1960) membantu Dr. Génessier menyingkirkan mayat-mayat wanita yang telah tewas
Louise membantu menyingkirkan mayat-mayat wanita yang telah tewas akibat perbuatan Dr. Génessier 

Para polisi di daerah tersebut tentunya semakin curiga karena laporan orang hilang semakin meningkat. Apalagi orang hilang tersebut memiliki ciri-ciri yang mirip yaitu wanita kulit putih, cantik dan berambut pirang. Oleh karena itu, polisi akhirnya memberikan umpan yang nantinya akan membongkar kelakukan Dr. Génessier.


Selain horor, film Eyes Without a Face (1960) ini juga memberikan drama kehidupan keluarga yang menarik untuk diikuti. Seorang ayah yang ambisius ingin membahagiakan putrinya, namun melakukan segala cara yang sebetulnya malah menyakiti Christiane. Bahkan semua cermin di rumah Dr. Génessier dhilangkan, agar Christiane tidak sedih melihat wajah aslinya. Christiane sendiri juga sebetulnya tidak ingin dirinya tetap hidup bahkan membuat wanita-wanita cantik tersebut tewas agar wajahnya kembali seperti semula. Perasaan tidak enak, terluka dan bersalah Christiane sangat terlihat di film ini walau Eyes Without a Face merupakan film yang berwarna hitam putih. Nggak cuma itu, saya juga terbantu dengan beberapa dialog yang mendeskripsikan warna objek pada film ini, seperti warna rambut pirang dan sebagainya, sehingga mempermudah memahami film hitam putih ini.

Christiane di film Eyes Without a Face (1960) sebetulnya tidak bahagia melihat banyak wanita tewas agar wajahnya kembali seperti semula
Christiane sebetulnya tidak bahagia melihat banyak wanita tewas agar wajahnya kembali seperti semula

Nah, buat kamu yang ingin menonton film horor sekaligus drama, kamu bisa cek film Eyes Without a Face (1960) ini. Well, selamat menonton! (*)

Review Film: Candyman (1992)

1 comment
Review Film: Candyman (1992) Indonesia
Review Film: Candyman (1992) Indonesia

Film horor Candyman (1992) garapan sutradara Bernard Rose ini menceritakan tentang urban legend mengenai sosok mengerikan yang dijuluki sebagai Candyman yang dibintangi oleh Tony Todd, hantu seorang seniman dan putra seorang budak yang dibunuh pada akhir abad ke-19 karena hubungannya dengan putri seorang pelukis kulit putih. Kisah urban legend Candyman membuat mahasiswi Sosiologi Helen Lyle (Viriginia Masden) dan sahabatnya, Bernadette Walsh (Kasi Lemmons) tertarik untuk menjadikannya sebagai topik thesisnya. Hal ini bermula dari desas-desus yang kerap dibicarakan, seperti jika kamu memanggil atau mengucapkan kata "Candyman" sebanyak lima kali di depan cermin, maka Candyman akan datang menemui dan membunuhmu dengan hook atau pengait yang menjadi pengganti tangan kanannya yang sudah putus digergaji. Adanya mitos serta ketakutan akan Candyman ini tentu sering membuat para remaja jadi penasaran, dan bukannya takut. Oleh karena itu, di awal film diperlihatkan kejadian pasangan anak muda yang mengalami kejadian tragis akibat nekat memanggil Candyman di cermin.

Adegan sadis dari film Candyman (1992)
Berani memanggil atau mengucapkan kata "Candyman" sebanyak lima kali di depan cermin, maka Candyman akan datang menemuimu dan membunuhmu

Saat menulis penelitiannya dan memutar ulang wawancaranya dengan responden mengenai Candyman, tiba-tiba seorang wanita yang sedang membersihkan ruang kerja Helen menyebutkan bahwa Candyman tinggal di Cabrini Green, Chicago. Wanita bernama Henrieta Mosely tersebut memperkenalkan Helen kepada temannya, Kitty Culver yang mengetahui cerita mengenai Ruthie Jean. Ruthie Jean dikabarkan mendengar seseorang sedang melubangi tembok, oleh karena itu ia menelepon 911 kalau ada seseorang yang akan masuk melalui tembok. Tapi para polisi justru tidak percaya dan menganggap Ruthie Jean gila. Hingga suatu saat polisi menemukan Ruthie Jean tewas dibunuh menggunakan senjata seperti pengait atau hook. Senjata yang identik dengan Candyman.

Ruthie Jean di film horor Candyman (1992) yang dikabarkan tewas terbunuh
Ruthie Jean di film horor Candyman (1992) yang dikabarkan tewas terbunuh

"You don't have to believe...just beware."

Seperti orang-orang pada umumnya, Helen dan Bernadette juga skeptis dengan cerita Candyman, akhirnya iseng-iseng memanggilnya di depan cermin. Tapi, hanya Helen yang memanggil Candyman sebanyak lima kali di depan cermin, sedangkan Bernadette hanya empat kali menyebut nama Candyman. Hal yang terkesan sepele ini ternyata akan membawa kehidupan Helen menjadi rumit. Tragedi mengerikan menimpa kehidupannya, karena ulah Candyman. Tapi sayangnya hanya dia yang bisa melihat sosok mengerikan tersebut. Hal ini membuat dirinya sering disebut sebagai orang gila dan kerap terlibat kasus yang harus membuatnya ditahan.


Helen dan Bernadette di film Candyman (1992) memanggil nama Candyman di depan cermin
Helen dan Bernadette memanggil nama Candyman di depan cermin

Film horor Candyman (1992) yang diadaptasi dari cerita pendek berjudul The Forbidden karangan Clive Barker ini berhasil menyampaikan horor urban legend yang membuat saya tegang dan bulu kuduk saya selalu merinding saat mendengar suara sosok Candyman berbicara kepada Helen. Film Candyman (1992) juga dilengkapi dengan scoring yang dibuat oleh komposer Phillip Glass ini sangat menyenangkan untuk didengarkan. Nggak hanya menyinggung persoalan konflik perbedaan warna kulit yang terjadi di Amerika Serikat, Candyman (1992) juga memberikan drama kehidupan yang dialami sosok Helen yang sangat kompleks, mulai dari tewasnya satu persatu orang yang ia kenal, sosok Candyman yang selalu mengejarnya hingga hubungan rumah tangganya yang kandas membuat cerita film horor ini semakin berbobot sehingga selalu menarik untuk disimak sampai selesai.

"They will say that I have shed innocent blood. What's blood for if not for shedding? With my hook for a hand, I'll split you from your groin to your gullet. I came for you."

Sebenarnya pada tahun 2020 ini ada sekuel Candyman juga yang akan tayang, tapi akhirnya harus diundur kabarnya hingga tahun 2021 nanti karena pandemi Covid-19 . Nah mungkin sebelum menonton sekuel Candyman pada tahun 2021, kamu bisa nih nonton Candyman (1992) terlebih dahulu agar nggak bingung-bingung banget hehehe. Well, selamat menonton! (*)

Review Film: Rosemary's Baby (1968)

Leave a Comment
Review Film: Rosemary's Baby (1968) Indonesia
Review Film: Rosemary's Baby (1968) Indonesia

Film horor biasanya identik dimulai dengan sesuatu yang baru. Entah sekolah baru, teman baru, kehidupan baru atau rumah baru. Hal itu pula yang dialami oleh Rosemary Woodhouse (Mia Farrow) bersama suaminya Guy Woodhouse (John Cassavetes) di film Rosemary's Baby (1968) ini. Film horor psikologis garapan sutradara Roman Polanski ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karangan Ira Levin. Lewat film Rosemary's Baby (1968), Roman Polanski berhasil masuk jadi Nominee dan salah satu aktris di film ini yaitu Ruth Gordon memenangkan kategori Best Supporting Actress pada ajang Academy Awards. Film yang bertema satanic panic ini juga disebut-sebut memulai tren bertema serupa seperti The Exorcist (1973) dan The Omen (1976).


Film Rosemary's Baby (1968) mengisahkan kehidupan rumah tangga pasangan pengantin baru, Rosemary Woodhouse (Mia Farrow) dan Guy Woodhouse (John Cassavetes) yang berprofesi sebagai seorang aktor. Seperti pasangan suami istri muda pada umumnya, Rosemary dan Guy sibuk memilih apartemen untuk hunian mereka berdua. Hingga akhirnya, mereka mantap memilih apartemen Bramford di New York, meski apartemen tersebut memiliki reputasi yang cukup buruk. Yup, apartemen tersebut sebelumnya dikenal memiliki penghuni seperti pemuja setan dan penyihir seperti Trench Sister, Keith Kennedy, Pearl Ames dan Adrian Marcato.

Guy dan Rosemary Woodhouse pada film Rosemary's Baby (1968) di apartemennya yang baru
Guy dan Rosemary Woodhouse pada film Rosemary's Baby (1968) di apartemennya yang baru

Rosemary digambarkan sebagai seorang ibu rumah tangga yang pemalu dan lembut sedangkan Guy yang merupakan seorang aktor tampak ambisius ingin mengembangkan karir dan menghasilkan banyak uang. Sampai akhirnya mereka berkenalan dengan tetangga sepasang kakek nenek, Minnie (Ruth Gordon) dan Roman Castevet (Sidney Blackmer) yang cukup menyebalkan karena seolah selalu ingin ikut campur urusan rumah tangga Rosemary dan Guy Woodhouse. Tapi anehnya, yang semula awalnya Guy ogah-ogahan berkunjung ke apartemen Minnie dan Roman, berikutnya ia justru yang selalu akrab dengan pasangan Castevet tersebut. 

Minnie (Ruth Gordon) dan Roman Castevet (Sidney Blackmer) menjadi tetangga menyebalkan di film Rosemary's Baby (1968)
Minnie (Ruth Gordon) dan Roman Castevet (Sidney Blackmer) menjadi tetangga menyebalkan di film Rosemary's Baby (1968)

Keanehan nggak berhenti di situ saja, usai akrab dengan Roman Castevet, Guy Woodhouse mendapat kabar bahwa saingan utamanya, Donald Baumgart tiba-tiba menjadi buta. Oleh karena itu, Guy menggantikan Donald berperan di drama barunya. Ia juga masih takut jika Donald tidak lagi buta, maka posisinya di drama baru tersebut akan terancam. Oleh karena itu, Guy mulai merencakan untuk memulai memiliki anak dengan Rosemary, bahkan dia juga sudah mempelajari siklus ovulasi istrinya dan kapan mereka bisa anuan biar cepat punya anak hehe. Lagi-lagi tetangga menyebalkan pasangan Castevet ikut campur saat mereka akan bercinta. Pada malam sebelum pasangan Woodhouse mengeksekusi rencananya, Minnie Castevet memberikan semacam dessert dengan sebutan 'Chocolate Mousse' yang rasanya agak aneh saat dimakan Rosemary. Nggak lama kemudian, Rosemary justru merasa pusing dan akhirnya pingsan dengan mimpi yang aneh. Dia seperti sedang dalam setengah sadar, bercinta dengan sosok makhluk yang bukan manusia, bahkan suaminya juga tampak hadir melihatnya. Keesokan harinya, ia terbangun dengan luka goresan di tubuhnya, dan suaminya mengatakan bahwa itu ulahnya karena tak mau melewatkan 'Baby Night' tersebut.

Rosemary di film Rosemary's Baby (1968) terbangun dengan tubuh tergores
Rosemary terbangun dengan tubuh tergores usai 'Baby Night'

Nggak cuma saat sebelum 'Baby Night', pasangan Castevet juga ikut campur urusan rumah tangga Woodhouse setelah Rosemary dinyatakan hamil. Mulai dari merekomendasikan dokter pilihan mereka, dan memberikan obat-obatan jika kondisi Rosemary sedang down. Sementara sang suami, Guy Woodhouse justru terlihat sibuk dengan karirnya dan seolah menghindari Rosemary. 

Dari sini saja saya sudah merasa ngeri melihat Rosemary yang dikelilingi tetangga cerewet yang selalu ikut campur, serta tidak ada perhatian dari suami saat dirinya sedang hamil. Hingga akhirnya ketakutan saya semakin memuncak saat hampir di akhir film, Rosemary tampak sendirian, tidak lagi memiliki seseorang yang dapat dipercaya termasuk suaminya. 

Rosemary di film Rosemary's Baby (1968) seolah tak lagi memiliki orang yang bisa dipercaya
Rosemary di film Rosemary's Baby (1968) seolah tak lagi memiliki orang yang bisa dipercaya

Meski memiliki pace yang lambat terutama pada bagian awal, film ini mampu mengajak kita menyelami perasaan tokoh utamanya. Kita dapat merasakan naluri seorang ibu lewat kekhawatiran Rosemary terhadap nasib bayinya, bahkan saat ia mengetahui kenyataan yang terjadi di akhir film. Kita juga merasakan kejengkelan Rosemary menghadapi pasangan Castevet meski dirinya adalah wanita yang lembut dan serba nggak enakan.


Film Rosemary's Baby (1968) sangat cocok buat kamu yang ingin nonton film horor psikologis tanpa jumpscare berupa makhluk seram yang muncul secara mendadak. Rosemary's Baby (1968) mungkin juga relevan buat kamu pasangan pengantin baru, yang baru saja membeli rumah baru, dan punya tetangga cerewet suka ikut campur. Well, selamat menonton dan jangan lupa selalu hati-hati dengan tetangga rumahmu! (*)

Review Film: Carrie (1976)

2 comments
Review Film: Carrie (1976)
Review Film: Carrie (1976) Indonesia

Film Carrie (1976) merupakan film yang diadaptasi dari novel berjudul sama dari novelis horor Stephen King. Film horor Carrie (1976) yang disutradarai oleh Brian De Palma ini bahkan menuai sukses besar hingga aktrisnya yaitu Sissy Spacek dan Piper Laurie masuk sebagai Nominee di Oscar sebagai Best Actress dan Best Supporting Actress. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang jarang diraih oleh film horor biasanya. 

Film Carrie (1976) ini mengisahkan seorang gadis SMA bernama Carrie White (Sissy Spacek) yang polos, pemalu, tidak memiliki banyak teman serta sering jadi sasaran bully. Dirinya bahkan tidak mengerti apa itu darah haid, yang membuatnya histeris pada saat mandi di sekolah. Hal ini membuat banyak teman-temannya merundungnya hingga melempari Carrie White dengan pembalut.

Carrie White di film Carrie (1976) panik saat mendapatkan haid pertamanya
Carrie White di film Carrie (1976) panik saat mendapatkan haid pertamanya

Tak hanya di sekolah, Carrie White juga mengalami hal yang tidak menyenangkan saat berada di rumah. Yup, ibunya, Margaret White (Piper Laurie) digambarkan sebagai seorang religius yang kadang kelewatan saat mengajarkan atau menerapkan agama di kehidupannya sehari-hari. Bahkan ibunya menguncinya di sebuah ruangan kecil dan memintanya berdoa saat mengetahui Carrie White sudah mendapatkan haid pertamanya. Tanpa diketahui ibu dan teman-teman serta gurunya, Carrie White ternyata memiliki kemampuan telekinesis. 

Margaret White  di film Carrie (1976) digambarkan seorang religius yang sangat takut anaknya berbuat dosa
Margaret White  di film Carrie (1976) digambarkan seorang religius yang sangat takut anaknya berbuat dosa

Kehidupan suram Carrie White seolah tak pernah berakhir sampai seorang cowok populer, yaitu Tommy Ross (William Katt) yang kebetulan adalah pacar dari Sue Snell (Amy Irving) meminta Carrie White mengikuti prom night bersamanya. Konflik bertambah karena ibu Carrie White tak mengizinkan dirinya datang ke prom night, karena ia takut kalau Carrie White akan melakukan perbuatan dosa. Padahal hal ini mungkin saja menjadi awal Carrie White untuk menimmati hidup dengan melakukan hal yang biasa dilakukan gadis seusianya, sebelum terlambat.

Carrie White di film Carrie (1976) mengikuti pesta prom night di sekolahnya
Carrie White di film Carrie (1976) mengikuti pesta prom night di sekolahnya


Film Carrie (1976) memang bukan film horor biasa yang langsung memberikan adegan gore penuh darah yang mengerikan. Tapi, penonton justru diajak menyelami kehidupan menyedihkan Carrie White yang seolah tidak punya tempat untuk kembali, baik itu di sekolah atau di rumahnya. Hal ini tentu menyeramkan dan horor banget. Di sekolah di-bully, di rumah justru dihukum dan selalu disalahkan oleh ibunya, satu-satunya orang yang seharusnya bisa membantu dan menyayanginya. Hal ini tentu membuat Carrie White kesulitan untuk memercayai orang lain, bahkan yang benar-benar tulus berbuat baik kepada dirinya. Nggak hanya akting para aktor dan aktrisnya yang menjanjikan, scoring yang indah juga mengiringi film Carrie (1976), baik saat adegan drama yang sedih atau saat-saat mengerikan pada akhir film. (*)

Review Film: The Omen (1976)

Leave a Comment
Review Film: The Omen (1976) Indonesia
 Review Film: The Omen (1976) Indonesia

Film horor The Omen (1976) garapan sutradara Richard Donner dibuka dengan lagu opening berjudul Ave Satani yang dinyanyikan oleh kelompok paduan suara yang sukses bikin saya merinding. The Omen (1976) yang jalan ceritanya ditulis oleh David Seltzer ini mengisahkan tentang kehidupan seorang duta besar Amerika Serikat yaitu Robert Thorn (Gregory Peck) dan istrinya, Katherine Thorn (Lee Remick) yang menginginkan kehadiran seorang anak. Meski begitu, ketika kelahiran sang bayi yang dinanti tersebut tiba, bayi tersebut justru meninggal. Karena tak ingin istrinya sedih, mau tidak mau Robert Thorn menyetujui saran seorang pastur bernama Father Spiletto (Martin Benson) untuk mengadopsi seorang bayi yang lahirnya bersamaan dengan anaknya. Kebetulan, bayi tersebut juga tidak memiliki orangtua.

Kehidupan keluarga Robert Thorn dan istrinya serta anaknya yang dinamai Damien (Harvey Stephens) tampak baik-baik saja. Terlihat sangat family goals sekali, Robert Thorn yang akhirnya menjadi duta besar Amerika Serikat di Inggris, memiliki rumah mewah, serta Katherine Thorn juga bahagia dengan anaknya yang lucu. 

Keluarga Robert Thorn, Katherine Thorn dan Damien di film The Omen (1976)
Keluarga bahagia ala Robert Thorn, Katherine Thorn dan Damien di film The Omen (1976)

Tapi keanehan justru mulai terlihat saat perayaan ulang tahun Damien yang dihadiri banyak orang termasuk para fotografer untuk mendokumentasikan pestanya, mengingat Damien merupakan anak orang penting. Holly, pengasuh Damien melihat seekor anjing hitam dan tiba-tiba dia seolah kerasukan dan menjadi terobsesi dengan Damien. Holly naik ke atas gedung dengan tali melilit di lehernya, dan berteriak kepada Damien bahwa ini semua demi Damien, dan akhirnya tewas tergantung. Meski begitu, Damien yang juga melihat seekor anjing hitam yang dilihat Holly tersebut justru menyapanya dan terlihat akrab.

Katherine Thorn dan Damien di film The Omen (1976) menyaksikan pengasuhnya, Holly tewas
Katherine Thorn dan Damien di film The Omen (1976) menyaksikan pengasuhnya, Holly tewas

Kejadian ini nantinya akan membawa kita ke tragedi berikutnya yang nggak kalah mengerikan dan mengancam keselamatan keluarga Robert Thorn. Apalagi setelah datangnya Pastor Brennan (Patrick Troughton) menemui Robert Thorn dan memberi tahu identitas Damien serta apa yang harus ia lakukan, yaitu membunuh Damien.


Meski terkesan seperti film horor biasanya, The Omen (1976) justru terasa mencekam lewat jalan cerita serta akting pemainnya, khususnya Damien. The Omen (1976) memang tidak memberikan sosok hantu atau makhluk menyeramkan, tapi sukses membangun suasana mencekam dan menegangkan lewat scoring, munculnya anjing hitam, dan ekspresi Damien saat tersenyum sinis, marah dan sebagainya. Btw, adegan di makam dan ada anjing hitam di situ bikin saya merinding banget! 

Damien di film The Omen (1976) yang mukanya nyeremin abis
Damien di film The Omen (1976) yang mukanya nyeremin abis

(SPOILER!) Film The Omen (1976) ditutup dengan ending yang bikin saya shock dan merinding, apalagi saat tahu Damien diadopsi oleh Presiden Amerika Serikat, yang membuat saya bertanya-tanya. Apakah selama ini Damien hanyalah alat penguasa di atasnya atau dia sendiri yang mengendalikan orang-orang di sekitarnya. Lalu apa yang akan terjadi jika ia sudah dewasa nanti, mengingat Damien diadopsi oleh orang penting yaitu Presiden Amerika Serikat. Buat yang udah nonton, gimana menurut kamu?

Nah buat kamu yang belum menyaksikan film ini dan lagi pengin nonton film horor tanpa jumpscare hantu tapi tetap menegangkan, boleh coba The Omen (1976) sebagai tontonanmu kali ini. Well selamat menonton! (*)

Review Film: Don't Look Now (1973)

Leave a Comment
Review Film Don't Look Now (1973) Indonesia
Review Film Don't Look Now (1973) Indonesia

Film horor Don't Look Now (1973) garapan sutradara Nicolas Roeg ini mengisahkan kehidupan keluarga yang terdiri dari sang suami bernama John Baxter (Donald Shuterland) dan istrinya, Laura Baxter (Julia Christie). Mereka memiliki dua anak yang masih kecil yaitu Christine (Sharon Williams) dan Johnny Baxter (Nicholas Salter). Namun kedamaian kehidupan keluarga mereka tiba-tiba harus berakhir setelah tragedi kematian putrinya, Christine yang tewas setelah jatuh dan tenggelam di kolam dekat rumah mereka. 

Anak John dan Laura Baxter di film Dont Look Now (1973) yang bernama Christine tewas tenggelam
Anak John dan Laura Baxter di film Dont Look Now (1973) yang bernama Christine tewas tenggelam

Meski putri mereka baru saja meninggal, mau tidak mau John dan Laura Baxter harus melanjutkan kehidupan. Mereka akhirnya pindah ke Venice, karena John mendapatkan proyek merenovasi gereja kuno. Ketika di Venice inilah, Laura kebetulan bertemu dengan dua bersaudara yang sudah tua yaitu Heather (Hilary Mason) dan Wendy (Clelia Matania). Meski baru saja bertemu, Heather yang seorang tuna netra ini tiba-tiba mengatakan bahwa Christine, putri Laura, sudah bahagia di alam baka. Yup, hal ini tentu mengguncang mental Laura karena sebelumnya dia tidak menceritakan apapun mengenai kondisi keluarganya kepada kedua kakak beradik tersebut.

Heather di film Don't Look Now (1973) merupakan seorang cenayang atau psychic
Heather di film Don't Look Now (1973) merupakan seorang cenayang atau psychic

Heather yang tuna netra tersebut ternyata merupakan seorang cenayang atau psychic, dan ia memperingatkan Laura agar dia dan keluarganya segera pergi dari Venice agar terhindar dari bahaya yang mengancam mereka. Sementara itu, Venice sendiri juga sedang tidak aman karena banyak kasus pembunuhan. 


Nggak hanya hal itu saja, keanehan mulai menghampiri John karena saat di Venice, dia sering melihat sosok anak kecil menggunakan hoodie atau tudung berwarna merah, mirip dengan yang digunakan anaknya saat tewas tenggelam. Sosok bertudung merah ini nantinya akan menjadi benang merah sejak dari awal film hingga endingnya. 

Sosok bertudung merah di film Don't Look Now (1973) yang membuat John teringat dengan putrinya
Sosok bertudung merah di film Don't Look Now (1973) yang membuat John teringat dengan putrinya

Film Don't Look Now (1973) yang memiliki score 7,2/10 di situs Imdb ini cocok buat kamu yang menyukai horor berbalut misteri dan thriller. Film Don't Look Now (1973) sukses memberikan suasana mencekam lewat scoring dan setting di Venice yang dipenuhi kanal-kanal, serta jalan yang memiliki banyak persimpangan dan menyeramkan ketika sudah malam. Tak hanya itu, akting Julia Christie dan Donald Sutherland juga mampu menggambarkan sosok pasangan suami istri yang perasaannya hancur akibat kematian anaknya. Sentuhan horor supranatural lewat kemampuan psychic Heather dan John (walau dirinya menyangkalnya karena lebih memilih hal yang logis) membuat film ini jadi makin seru dan menegangkan hingga akhir. Saya juga sempat kebingungan membedakan apakah ini kenyataan di dalam film atau merupakan penampakan yang hanya dilihat oleh John. Hal ini tentu membuat rasa penasaran makin memuncak yang jawabannya bisa kita tahu pada akhir cerita. 

Well, selamat menonton! (*)