Hello!
My name is Justina Landhiani

Writer // Marvel addict // Thanks for taking a look at my blog

Review Film: Parasite (2019)

5 comments
Review Film: Parasite (2019) via Imdb.com
Film drama keluarga bergenre thriller komedi yang disutradarai oleh Bong Joon Ho ini berkisah tentang keluarga Kim Ki-Taek (Kang-ho Song) yang miskin karena semua anggota keluarganya menganggur dan hobi numpang wifi agar tetap bisa chatting/telpon tanpa harus bayar. Hidup di rumah yang letaknya nyaris di bawah tanah, mereka bertahan hidup dengan bekerja sebagai tukang melipat kotak wadah pizza. Kim Ki-Taek dan sang istri, Kim Chung Sook (Jang Hyejin) memiliki dua orang anak, Kim Ki-Woo (Woo-sik Choi) dan Kim Ki-Jung (So-dam Park) yang keduanya tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena tidak memiliki biaya. Komplit sudah, mereka tidak memiliki pekerjaan, dan sang anak tidak memiliki kesempatan untuk berkuliah. 

Keluarga Kim Ki-Taek yang miskin via imdb.com
Suatu ketika, teman Ki Woo bernama Min Hyuk datang dan memberikan sebuah batu peninggalan kakeknya kepada keluarga Kim Taek. Ki Woo pada saat itu juga bercerita kepada Min Hyuk bahwa dirinya tak bisa melanjutkan kuliah karena biaya. Mendengar hal tersebut Min Hyuk menyerahkan pekerjaannya sebagai guru les privat bahasa Inggris anak keluarga Park kepada Ki Woo karena dia harus kuliah di luar negeri. Pekerjaan tersebut dinilainya cukup bagus karena “hanya” mengajari tentang bahasa Inggris, dan gajinya banyak mengingat keluarga Park dikenal sebagai keluarga yang kaya raya. 

Tergiur dengan upah yang banyak, akhirnya Ki Woo melakukan rekayasa sedemikian rupa bahwa dia adalah lulusan perguruan tinggi ternama. Ia juga berhasil meyakinkan istri Park Dong-ik (Sun-kyun Lee) yaitu Park Yeon-kyo (Yeo-jeong Jo) untuk mempekerjakannya sebagai guru les anaknya, Park Da Hye (Ji-so Jung). 

Kim Ki Woo menjadi guru les bahasa inggris anak keluarga Park
Mengetahui sangat mudah diterima untuk bekerja di rumah keluarga Park, yaitu hanya dengan rekomendasi, Ki Woo jadi memiliki ide untuk membuat semua anggota keluarganya agar bisa bekerja di rumah keluarga Park juga. Mereka sekeluarga bekerjasama menghalalkan segala cara termasuk menyingkirkan pembantu lama keluarga Park agar bisa bekerja di rumah tersebut, yang dikemas secara menarik dan kocak banget. Berkat sandiwara keluarga Kim Ki Taek yang bisa dikatakan sempurna, keluarga Park tidak tahu bahwa pekerja yang bekerja di rumahnya adalah satu keluarga. Keluarga Kim Ki Taek bagaikan parasit yang baru saja mendapatkan tempat enak untuk menghisap kekayaan inangnya, yaitu keluarga Park. 

Kim Ki Taek bagaikan parasit yang baru saja mendapatkan tempat enak untuk menghisap kekayaan inangnya, yaitu keluarga Park via imdb.com
Di film ini, sutradara Bong Joon Ho yang sebelumnya telah sukses menyutradarai berbagai film seperti Memories of Murderer, OkJa, Snowpiercer, juga berhasil mengemas Parasite menjadi sebuah film yang mengandung makna kritik social di dalamnya. Film Parasite menceritakan perbedaan antara golongan menengah ke atas seperti keluarga Park dengan orang miskin, yaitu keluarga Kim Ki Taek. Park Dong-ik diceritakan sebagai seorang arsitek yang sukses dan memiliki banyak harta, sedangkan Kim Ki Taek sebaliknya, yaitu seorang pengangguran. Meski begitu, anggota keluarga Kim Ki Taek sebenarnya juga tetap punya keahlian, seperti Ki Woo yang pintar berbahasa Inggris, adiknya, Ki Jung yang berbakat di bidang seni (atau di bidang pemalsuan ya hehe), dan istri Kim Ki Taek yang merupakan mantan atlet. Saya setuju dengan review dari Bogi Yuniar Rachman di Mediumnya, ia mengatakan bahwa parasit yang mengancam masyarakat bukanlah pengangguran, tapi parasit yang sebenarnya tumbuh adalah tidak meratanya kesempatan. Keluarga miskin juga tetap ingin hidup dengan bekerja apapun, begitu pula orang-orang kaya, tapi keluarga miskin ini tidak mendapatkan kesempatan yang sama yang seringkali menjadi privilege orang kaya.

Film Parasite kali ini juga menyinggung masalah batas. Batasan antara orang kaya dan orang miskin. Di film diceritakan bahwa Park Dong-ik curhat masalah ini kepada istrinya. Ia tetap bersikap seperti biasa kalau saja pekerja rumahnya tidak melampaui batas. Sayangnya, bau badan Kim Ki Taek yang menjadi supir keluarga Park justru melampaui batas, karena baunya bahkan tercium sampai jok belakang mobil Mercedes tempat duduk Park Dong-ik dan istrinya.

Bau badan Kim Ki Taek melampaui batas sampai tercium di jok belakang mobil keluarga Park
Berbicara permasalahan batas, saya jadi ingat salah satu bab berjudul Tiada Keadilan dalam Sejarah di buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, Sapiens. Dalam buku ini Yuval Noah Harari berpendapat bahwa untuk mengorganisasi diri dalam jaringan kerjasama masal, manusia membentuk sebuah tatanan atau hierarki sosial yang imajiner. Hierarki sebenarnya memiliki sebuah fungsi yaitu memungkinkan orang-orang yang tidak saling mengenal tahu bagaimana cara memperlakukan sesama manusia tanpa membuang-buang waktu dan energi yang dibutuhkan untuk mengenalnya secara pribadi dan tentunya lebih dalam.

“Sebagian besar orang mengklaim bahwa hierarki sosial mereka adalah alamiah sedangkan di masyarakat lain didasarkan pada kriteria-kriteria palsu yang menggelikan. Orang-orang Barat modern diajari untuk mencela pemikiran tentang hierarki rasial. Mereka terguncang oleh hukum yang melarang kulit hitam hidup dalam perkampungan kulit putih, belajar di sekolah-sekolah kulit putih, atau dirawat di rumah sakit kulit putih. Namun, hierarki kaya dan miskin—mandat yang membuat orang kaya hidup di perkampungan terpisah dan lebih mewah, belajar terpisah di sekolah-sekolah yang lebih prestisius, dan menerima perawatan medis terpisah di fasilitas-fasilitas kesehatan dengan perlengkapan lebih baik—tampak sangat masuk akal bagi banyak orang Amerika dan Eropa. Meskipun demikian, sudah terbukti bahwa kebanyakan orang kaya adalah karena sebab sederhana, bahwa mereka dilahirkan dalam keluarga kaya, sedangkan orang miskin tetap miskin sepanjang hidup karena dilahirkan dalam keluarga miskin.

Tatanan- tatanan yang diimajinasikan pemelihara jaringan-jaringan itu tidaklah netral dan tidak pula adil. Tatanan-tatanan itu membagi orang ke dalam kelompok-kelompok seolah-olah, yang disusun dalam suatu hierarki. Tingkatan-tingkatan atas menikmat hak- hak istimewa, sedangkan tingkatan-tingkatan bawah tertimpa diskriminasi dan penindasan. Undang-Undang Hammurabi, misalnya, menciptakan tata tingkatan golongan kelas atas, orang biasa, dan budak. Kelas atas mendapatkan semua kebaikan dalam hidup. Orang biasa mendapatkan sisanya. Budak mendapat pukulan jika mengeluh.” Yuval Noah Harari – Sapiens

Dengan adanya batas antara orang kaya dan miskin, kesempatan yang diterima tiap individu tentu juga tidak sama. Setiap orang pasti ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, tapi jika ada yang berani melampaui batas maka akan dihukum. Ki Woo dan Ki Jung tidak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik karena keterbatasan ekonomi, yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. Film Parasite ini juga sepertinya cukup bagus untuk memberikan kita gambaran tentang apa yang dirasakan orang kaya dan orang miskin.

Itu saja dulu review saya hehe maaf panjang banget ya, mari lanjut belajar dan bekerja mumpung punya dan diberi kesempatan, karena kalau kita malas kita akan semakin miskin dan nggak bisa protes persoalan privilege lagi hehe. (*)

Review Film: When Marnie Was There (2014)

2 comments
Review Film: When Marnie Was There (2014) via imdb.com
Setelah menonton Spirited Away, sejujurnya saya takut untuk menonton film animasi lainnya dari Studio Ghibli. Ya, saya takut kalau film animasi yang lain kalah bagus dari Spirited Away yang menurut saya sangat sempurna bahkan sukses bikin saya menangis karena terharu, ya sebagus itu, sekali lagi...menurutku loh ya. Saya juga takut kalau nonton film malah ketiduran karena pace-nya sangat lambat, terakhir saya ketiduran adalah…saat menonton ulang film Midsommar pas siang hari panas-panasnya. Tapi, karena akhir-akhir ini saya bosan nonton mufinya itu-itu mulu karena nggak bisa move on dari film yang bagus, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat daftar film-film apa saja yang harus saya tonton, termasuk film animasi. Nah kali ini saya akan mereview When Marnie Was There yang saya tonton beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga: Review Spirited Away

When Marnie Was There, film animasi karya sutradara Hiromasa Yonebayashi dari Studio Ghibli yang rilis pada tahun 2014 ini berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Anna yang hobi menggambar namun sangat pendiam, tidak memiliki teman di sekolah, selalu menyendiri dan membenci dirinya sendiri.

Anna memilih menyendiri dan selalu menarik diri dari lingkungannya
Ia juga terlihat unik karena memiliki bola mata berwarna biru, dan berambut kecokelatan, berbeda dengan anak-anak Jepang pada umumnya. Anna yang diketahui memiliki penyakit asma ini juga terlihat menarik diri dari keluarganya dan selalu memasang wajah tanpa ekspresi. Hal ini tentu membuat orangtuanya khawatir, meski antara Anna dan orangtuanya tidak memiliki hubungan darah. Melihat hal itu, dokter yang menangani Anna menyarankan agar Anna dikirim ke suatu tempat sehingga cepat sembuh. 

Singkat cerita, Anna dikirim ibu tirinya untuk tinggal bersama paman dan bibi Oiwa, dengan alasan udara di daerah tersebut masih baik dan dipercaya dapat membantu menyembuhkan penyakit asma yang ia derita. Ternyata hal yang dikatakan Paman Oiwa benar, di daerah tersebut terdapat rawa, perbukitan, silo tempat menyimpan pakan ternak yang akhirnya dijadikan tempat uji nyali anak-anak di desa dan pemandangan alam yang indah yang tentunya membuat Anna mendapatkan udara yang (lebih) segar. 

Udara yang segar dipercaya dapat menyembuhkan penyakit asma yang diderita Anna
Anna juga menemukan spot favorit baru untuk menggambar, yaitu di tepi rawa. Dari tempat tersebut Anna bisa melihat sebuah rumah berukuran besar yang terus menarik perhatiannya. Ia bahkan sampai berani mendekati rumah tersebut yang ternyata sudah kosong dan tidak diurus. 

Rumah yang ada di tepi rawa selalu mencuri perhatian Anna
Meski begitu, Anna terus memimpikan rumah itu, termasuk penghuninya, seorang gadis seusia dengan dirinya yang memiliki rambut berwarna blonde dan bola mata berwarna biru. Hingga suatu ketika Anna akhirnya bisa bertemu dengan gadis tersebut, yang diketahui bernama Marnie. 

Marnie saat pertama kali menemui Anna
Marnie meyakinkan Anna bahwa ini bukanlah mimpi, tapi Marnie memohon hubungan antara mereka berdua harus rahasia dan tidak boleh ada yang mengetahuinya. Melihat adegan ini saya jadi ingat peraturan dari Mayhem Project di film Fight Club, “1st rule: You don't ask questions about Project Mayhem. 2nd rule: You don't ask questions about Project Mayhem." 

Hehe.

Dari sini, dimulailah perjalanan persahabatan antara Anna dan Marnie, persahabatan yang jalan kalau Marnie-nya nongol. Soalnya, rumah rawa itu kan sebenarnya sudah kosong, tapi entah kenapa kadang-kadang rumah tersebut rame, ada pesta termasuk ada orangtua Marnie juga. Saya yang nonton film ini malem-malem jadi merinding, jadi membayangkan kalau tiba-tiba Marnie buka topeng, terus keluar makhluk cewek kayak di manga-nya Junji Ito. 


Sosok Marnie yang sangat misterius memancing Anna untuk menyelidikinya lebih jauh. Seiring dengan penyelidikannya kepada sosok Marnie, Anna juga belajar dan semakin mengetahui rahasia di balik kehidupannya yang sebelumnya ia benci. Sosok Marnie membuatnya tersadar bahwa kehidupan tak lagi memuakkan seperti yang ia rasakan sebelumnya, dan ternyata hubungannya dengan Marnie tak lagi sederhana sekadar kasih sayang antara teman. 


Menonton film ini membuat saya makin menyukai film-film dari Studio Ghibli. Film When Marnie Was There yang dibuat tahun 2014 ini tetap mempertahankan gaya serta scoring khas dari Ghibli lengkap cerita yang menyentuh serta dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film ini juga bikin saya susah move on seperti setelah saya nonton Spirited Away.

Nah, itu tadi review sedikit dari saya tentang film When Marnie Was There, menurutmu gimana nih? Boleh tulis di kolom komentar ya! (*)

Review Film: The Hustle (2019)

Leave a Comment

Review Film: The Hustle (2019)  via Imdb.com

The Hustle, film yang rilis tahun 2019 karya sutradara Chris Addison ini bercerita tentang dua orang wanita yang berprofesi sebagai penipu yang ulung. Penny Rust yang diperankan oleh Rebel Wilson di film ini menjadi seorang penipu kelas teri. Ia menipu pria-pria mesum dengan trik murahan seperti chatting dan mengirimkan foto wanita berambut blonde seksi yang tentunya ia klaim sebagai foto dirinya. Tentu saja saat mereka ketemuan, atau istilah jadulnya yaitu kopdar (kopi darat bukan Ngopi Dara), si pria akan kecewa karena fisik Penny yang sangat jauh dari foto yang selama ini ia kirimkan. 

Penny (Rebel Wilson) sedang kopdaran dengan seorang pria yang telah chatting bersamanya selama sebulan
Meski begitu, Penny tak kalah akal dengan beralasan bahwa yang difoto tersebut merupakan saudarinya yang malu bertemu pria tersebut karena dadanya berukuran kecil sehingga butuh uang sebesar 500 dolar AS agar bisa memenuhi ekspektasi pria tersebut. Belum selesai “bertransaksi”, tiba-tiba Penny dikejar rombongan polisi sekaligus pria yang telah ia tipu sebelumnya. Sementara itu, di Perancis, Josephine Chesterfield (Anne Hathaway) yang juga berprofesi sebagai penipu papan atas ini tampil elegan dalam balutan gaun backless, lengkap dengan riasan memukau dan berhasil memikat pria beristri untuk menyerahkan perhiasan istrinya. 

Josephine Chesterfield (Anne Hathaway) sedang asyik mengeluarkan trik tipuannya untuk mendapatkan harta dari pria beristri yang ia temui
Singkat cerita, Josephine akhirnya bertemu dengan Penny yang ingin mengunjungi Perancis karena ia mengetahui bahwa di negara tersebut banyak pria-pria kaya yang dapat ia hisap kekayaannya. Adegan Peny dan Josephine bertemu di kereta juga menjelaskan perbedaan “kelas” antara mereka berdua. Penny membawa tas ransel dan tas gunung, sedangkan Josephine tampil elegan dengan tas Hermes Birkin. 
Dua orang penipu profesional secara kebetulan bertemu, yang satu kelas teri yang satu kelas kakap
Josephine yang telah mengetahui bahwa Penny adalah seorang penipu, akhirnya menjebak Penny agar tak sampai di wilayah tempat dia “beraksi”. Malang bagi Josephine, Penny justru berhasil sampai di lokasinya yaitu di Beaumont-sur-Mer dengan menipu pria yang sedang menjadi target Josephine. 

Dua orang penipu yang berada di lokasi yang sama, tentu akan membuat pekerjaan Josephine menjadi lebih berat. Yup, dengan adanya saingan, Josephine tentu berpikir pendapatannya akan menurun karena skill Penny dalam menipu orang sangat cerdik dan licik. 

Kehadira Penny di daerah tempat beraksi Josephine tentu mengusik dirinya karena Penny sangat ahli dalam menipu pria-pria tajir
Oleh karena itu, Josephine akhirnya membuat berbagai cara licik dan perlombaan agar bisa menyingkirkan Penny dari kota tempat ia beraksi. Di sinilah mereka akhirnya berlomba untuk menjadi penipu yang paling ahli dengan menargetkan seorang pria yang di film ini diceritakan sebagai seorang programmer aplikasi smartphone bernama Thomas Westerburg (Alex Sharp).

Penny dan Josephine bersaing untuk menjadi penipu yang paling cerdik dan bisa memenangkan perlombaan antara mereka berdua

Mengingat film ini adalah bergenre komedi dan female-centered remake dari film berjudul Dirty Rotten Scoundrels (1988), lengkap dengan cast seperti Anne Hathaway serta Rebel Wilson yang terkenal kocak, membuat saya berharap lebih terhadap The Hustle. Yah paling nggak, saya berharap komedinya bikin ngakak seperti saat saya menonton film Rebel Wilson sebelumnya, seperti How To Be A Single dan Pitch Perfect. Pada awal film, saya lumayan terhibur dengan tingkah Penny saat meluncurkan trik tipuannya, tapi saat mulai perkenalan tokoh Josephine, menurut saya film ini jadi makin nggak masuk dengan selera humor saya. Selain itu, akting Anne Hathaway di film komedi seperti The Hustle ini terlihat kaku yang membuat film ini jadi terasa makin garing. 


Lalu bagaimana nasib mereka, siapa yang nanti akan lebih unggul, apakah Penny atau Josephine? Lebih baik kamu tonton dulu deh daripada saya bocorin di sini, hehe. Ya, itung-itung yang ketawa garing nggak cuma saya saja. 

Selamat menonton, tapi kalau garing jangan salahin saya ya, protes saja sama filmnya, hehehe. (*) 

Review Film: Midsommar (2019)

5 comments
Review Film: Midsommar (2019) Indonesia, via Imdb.com
Hai halo semua, kali ini saya akan membahas sebuah film yang disutradarai oleh Ari Aster, Midsommar. Yup, sebelumnya pada tahun 2018 Ari Aster telah menyutradarai film bergenre horor berjudul Hereditary yang sukses membuat resah dan gelisah banyak orang. Oleh karena itu, tentu film Midsommar sangat dinanti khususnya bagi para pencinta film. Midsommar yang rilis pada Juli 2019 ini semula dijadwalkan akan tayang di Indonesia pada 21 Agustus 2019, sayangnya karena masalah sensor Midsommar dikabarkan tak bisa tayang di Indonesia. Beruntung, akhirnya Midsommar jadi tayang pada 11 September 2019 ini. Alhamdulillah ya Allah akhirnya bisa nonton film resah lagi haha. 

Well, Midsommar bercerita tentang Dani (Florence Pugh) mahasiswi psikologi yang memiliki masalah berat yang menimpa keluarganya. Tentu saja hal ini membuat Dani menjadi depresi dan sangat bergantung kepada pacarnya, Christian (Jack Reynor) yang juga sedang mengerjakan tesisnya di jurusan antropologi sebagai tempat untuk curhat atau berkeluh kesah. Meski begitu, Christian terlihat tidak begitu menikmati hubungannya dengan Dani ini, dan tetap menjaga hubungannya tetap awet karena komitmen. 

Dani dan Christian kerap terlibat percek-cokan, meski begitu Christian enggan memutuskan Dani karena merasa bertanggung jawab mengurusnya dan menjaga komitmen
Hal ini tentu membuat teman-temannya seperti Mark (Will Poulter) risih dengan sikap Christian dan membujuknya untuk mengakhiri hubungannya yang toxic serta mengajaknya berlibur di desa leluhur Pelle (Vilhelm Blomgren), Hårga, di Hälsingland, Swedia. Singkat cerita, karena Christian tampak tidak ingin menyakiti pacarnya, akhirnya ia mengajak Dani ke Swedia bersama teman-temannya yang lain, agar hubungannya bisa menjadi lebih baik. 

Dani akhirnya ikut berlibur bersama Christian dan teman-temannya di Swedia via Imdb.com
Dalam film Midsommar, diceritakan bahwa di Swedia tepatnya desa Hårga, Hälsingland, memiliki sebuah acara festival spesial yang akan berlangsung selama 9 hari. Festival yang diadakan sekali dalam 90 tahun ini dihiasi dengan berbagai dekorasi unik dan cantik, memakai kostum khusus lengkap dengan simbol dihiasi alfabet Runik, pemilihan May Queen, makan, minum dan sebagainya.

Festival unik tiap pertengahan musim panas yang diadakan sekali dalam 90 tahun di desa Hårga, Hälsingland, Swedia, via Imdb.com
Pastinya hal itu bikin ngiler turis-turis asing macam Mark yang pengin segera anuan bersama cewek-cewek seksi di Swedia, Christian-Dani agar bisa memiliki hubungan yang lebih solid, sedangkan Josh (William Jackson Harper) bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penduduk Harga yang akan ia angkat sebagai topik tesisnya. 

Festival Midsommar yang diadakan oleh penduduk desa Harga, Halsingland, Swedia, via Imdb.com
Seperti yang bisa kalian lihat di trailernya, di film yang bergenre horror ini terlihat unik karena menyajikan suasana yang sangat terang pada siang atau pagi hari, tidak seperti selayaknya film horror yang identik dengan ruangan yang gelap pada malam hari. Tidak seperti di film Hereditary, dari awal film kita memang sudah bisa merasakan kejanggalan penduduk Hårga di Swedia ini. Kita juga dituntun untuk melihat berbagai ritual “aneh” pada festival spesial ini yang sudah terlihat jelas di trailer-nya. Anggota suku Hårga juga sering terlihat riang gembira yang justru membuat kita jadi merasakan ngeri dan muak, bertanya-tanya apakah ada maksud di balik keramahan mereka semua. 

Di balik senyuman dan keramahan mereka, mungkin menyembunyikan kengerian yang nggak bisa kita bayangkan, via imdb.com
Untuk kamu yang menyukai adegan jump scare yang super bikin kaget seperti nonton Conjuring, kamu harus siap-siap agak merasa bosan atau mengantuk saat nonton film Midsommar ini. Yup, hal ini karena Midsommar menyajikan ceritanya secara lambat yang lama kelamaan akan memuncak pada adegan sadis dan brutal yang bisa membuat perut jadi terasa tidak nyaman. 

Adegan sadis dan brutal di film Midsommar bisa membuat perasaan jadi resah dan gelisah, via imdb.com
Jujur, saya juga berkali-kali merasa pusing karena harus menahan kantuk agar tetap bisa melihat detail yang disajikan Ari Aster di filmnya kali ini. Setiap detail seperti lukisan, gambar-gambar di dinding dan atap rumah juga menarik untuk diperhatikan karena sangat berhubungan dengan cerita di Midsommar ini. 

Detail gambar kayak gini jangan lupa diperhatikan waktu nonton Midsommar, nah kalau gambarnya kayak gini kira-kira mereka bakal ngapain ya? Hahaha via Imdb.com

Oiya, karena saya nonton di bioskop, adegan selama 9 menit yang dipotong di film Midsommar ini menurut saya tidak cukup mengganggu, dan tetap bisa mengikuti jalan ceritanya dengan baik. Ya, cuma kurang nampol aja sih. Nah buat kamu yang penasaran dengan nasib Dani dan kawan-kawan yang lagi asyik berlibur di Swedia ini, sebaiknya segera nonton deh daripada penasaran dan keburu kena spoiler haha! Happy watching! (*)

Review Series Netflix: You (2018)

6 comments
Review Series: You (2018) Netflix  via Bustle.com

Hai halo semua, kali ini saya akan membahas sebuah series yang sebenarnya telah tayang pada tahun 2018 di Netflix, berjudul You. Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Caroline Kepnes, kini You hadir menjadi sebuah series sepanjang 10 episode dalam satu season.

Meski bergenre pychological thriller, series ini nyatanya tetap akrab dengan kehidupan sehari-hari kita. Berkisah tentang perjalanan dan perjuangan seorang manager toko buku, Joe Goldberg (Penn Badgley) untuk mendapatkan cinta Beck (Elizabeth Lail), salah satu pengunjung toko bukunya. Di awal cerita, kita diperlihatkan monolog tokoh Joe Goldberg, mempertanyakan sosok Beck. Mulai dari apa buku pilihan Beck hingga asumsi pribadinya mengenai kepribadian Beck lewat buku pilihannya, berlanjut ke pikiran-pikiran nakal yang akhirnya berhasil ia tutupi dengan kalimat manis bak manager toko buku teladan, "Hey can i help you find something?".

Joe Goldberg, manager sebuah toko buku yang menyukai wanita bernama Beck yang jadi pelanggan tokonya, via cnn.com
Tak hanya itu saja, ternyata Joe Goldberg yang seorang kutu buku ini mampu menyusun kata-kata manis, serta memancing Beck untuk berdiskusi seputar buku dan kepribadian pengunjung lain saat membeli buku di tokonya. By the way, saat melihat tingkah Joe dan Beck ini saya jadi teringat beberapa orang pernah menjadikan bahan lelucon orang-orang yang suka membaca novel bergenre romance, teenlit dan tentunya novel karangan Tere Liye. Nah, sedangkan Joe dan Beck menganggap orang yang suka dan membeli novel karangan Dan Brown adalah seperti sebuah lelucon dan aib yang memalukan. Ups. 

Siapa sangka lewat percakapan kecil ini ternyata telah menimbulkan obsesi dalam diri Joe Goldberg kepada Beck. Beck yang seorang mahasiswi sekaligus penulis ini tentu tersentuh dengan sikap Joe Goldberg, hingga membuatnya rela menyodorkan kartu kredit untuk pembayaran bukunya kali ini. Tentu saja hal ini menjadi kunci penting, karena Joe Goldberg akhirnya mendapatkan nama lengkap dari Beck. 

Awalnya sih nggak mau ngaku, eh tetep ya kepo juga abis dapet nama lengkapnya Beck, via imdb.com

Di zaman digital seperti ini mendapatkan nama lengkap seseorang sepertinya menjadi sebuah harta karun, apalagi nama seorang wanita cantik seperti Beck. Dunia maya tampaknya juga menjadi ladang harta karun bagi seorang Joe Goldberg yang sedang dimabuk cinta pada pandangan pertama. Hanya dengan nama, apapun yang dilakukan Beck, di mana tempat tinggalnya, siapa teman-temannya, termasuk identitas kekasihnya bagaikan informasi yang diberikan Beck secara cuma-cuma untuk semua orang di dunia, termasuk untuk Joe Goldberg. 

Media sosial yang nggak dikunci jadi sumber informasi berharga buat orang-orang kaya Joe Goldberg

Berawal dari rasa cinta pada pandangan pertama yang berubah menjadi obsesi, ternyata Joe Goldberg juga memiliki kasih sayang pada Beck yang diwujudkan dengan melindunginya dari apapun yang akan mencelakakan Beck, dengan cara apapun yang menurut saya cenderung berlebihan. Termasuk melindungi Beck dari lingkungan pertemanan yang toxic dan hanya memamerkan keakraban di media sosial, seperti melakukan kegiatan instagramable night, serta dari perilaku kekasihnya yang munafik. 

Walau lagi bokek dan kere, makan-makan di tempat hits dan beli kado mahal buat teman demi konten instagram tetap jadi jalan ninja Beck, via imdb.com

Menonton series ini jujur saja membuat saya ngeri tapi gemes. Ngeri sama Joe Goldberg sekaligus gemes. Siapa yang tidak ngeri kalau ternyata apapun informasi yang kita share di internet ditambang oleh orang yang terobsesi dengan kita. Nggak hanya itu, saya juga gemes sama tokoh Beck di series You ini. Yup, Elizabeth Lail menurut saya sukses memerankan sosok Beck yang rapuh, butuh perhatian serta ingin dilihat banyak orang, tapi rumit dan susah untuk dimengerti. Mungkin seperti cewek yang mau bilang kangen tapi harus muter-muter dulu kode ini itu ke pasangannya, eh giliran nggak diperhatiin karena terlalu muter-muter malah jadi baper. Mwehehek.

Lalu, apakah Joe Goldberg berhasil mendapatkan Beck? Apakah Beck sadar bahwa selama ini ada yang membuntutinya? Apa hanya Joe saja yang diam-diam memata-matainya, mengingat kepribadian Beck adalah seorang yang rapuh dan selalu berhasil menyedot orang-orang untuk terlibat mengatur kehidupannya? 

Beck yang selalu bisa menarik perhatian sekaligus menyedot orang-orang untuk mengatur hidupnya, via imdb.com

Well, selain memiiki jalan cerita yang menarik, dan terasa mencekam, series ini juga saya rekomendasikan buat kamu yang masih suka share hal-hal pribadi di internet. Ya, karena bisa saja ada orang yang terobsesi dengan diri kita. Siapa tahu? Oiya, di series ini saya juga mendapatkan beberapa rekomendasi novel yang sepertinya menarik untuk dibaca. 

Selamat menonton! (*)

Inilah Ending Game of Thrones Season 8 yang Sukses Bikin Penggemarnya Benci dan Kecewa

Leave a Comment
Inilah Ending Game of Thrones Season 8 yang Sukses Bikin Penggemarnya Benci dan Kecewa 

Sebagai seorang penggemar Game of Thrones karbitan (ya, saya menyelesaikan season 1-7 series Game of Thrones tahun 2017 lalu), kehadiran season 8 merupakan hal yang sangat ditunggu di tahun 2019 ini. Season 8 yang juga menjadi season final dari Game of Thrones ini tentu membuat banyak penggemarnya berharap agar endingnya paling nggak sesuai dengan harapan dan gambaran yang mereka pikir. Nggak cuma itu saja, banyak juga youtuber yang telah memprediksi hal-hal yang akan terjadi di season 8 ini, berdasarkan apa yang telah terjadi dari season 1-7, dan dari novelnya sendiri (yang belum tamat). Hei, dan Game of Thrones season 8 ini tayang hampir bersamaan dengan Avengers: Endgame tayang di bioskop. So, rame banget nggak sih bulan April 2019 lalu? 

Yak, season 8 Game of Thrones ini dimulai dengan episode 1 yang menjadi semacam reuni. Arya, Sansa dan Brandon Stark yang sudah kembali di Winterfell menyambut rombongan pasukan Dragon Queen, Daenerys Targaryen. Adegan ini sebetulnya mirip dengan season 1 episode 1, di mana penduduk Winterfell menyambut raja dan ratu mereka saat itu, yaitu Robert Baratheon dan Cersei Lannister. Bedanya, saat Daenerys Targeryen dan pasukan datang, penduduk Winterfell nggak begitu menyambut kedatangan mereka dengan hangat, dan tentu saja membuat Daenerys bete abis. Apalagi si Dragon Queen ini sekaligus memamerkan kedua naganya, Drogon dan Rhaegal (1 naganya yang bernama Viserion udah tewas, dan sekarang jadi pasukannya Night King). 

Reuni Arya Stark dan Jon Snow via Den of Geek
Sebenarnya tujuan dari Daenerys Targaryen ke Winterfell ini bukan (secara langsung) untuk menduduki wilayah ini, tapi karena diminta tolong oleh kekasihnya, Jon Snow. Ya, Jon Snow minta tolong pasukannya Daenerys Targaryen untuk membantu mengalahkan Night King, serta mengizinkan Jon Snow untuk menambang Dragon Glass (untuk dijadikan senjata mengalahkan White Walker dan Night King)yang ada di Dragonstone, markasnya Daenerys, yang dulu merupakan markasnya Stannis Baratheon.

Selanjutnya, saya akan membahas beberapa hal yang bikin penggemar Game of Thrones fanatik dan karbitan macam saya ini agak sebel dengan season 8 ini. Eits, kalau belum nonton, kamu boleh stop di sini karena isinya spoiler banget.

1. Arya Stark membunuh atau mengalahkan Night King 

Arya Stark membunuh atau mengalahkan Night King via Denofgeek.com
Oke jadi gini, menurut sumber yang saya lansir, dari channel Youtube Alt Shift X, mereka menjelaskan bahwa ada tujuan tersendiri mengapa Jon Snow yang telah tewas dibunuh teman-temannya Night Watch bisa hidup lagi. Hal ini karena adanya prophecy, ramalan dan sebagainya, bahwa secara tersirat yang bisa mengalahkan Night King adalah Jon Snow. Karena Jon Snow adalah wujud A Song of Ice and Fire. Ice karena ibunya adalah Lyanna Stark, dan Fire karena ayahnya adalah Rhaegar Targaryen (kakaknya Daenerys Targaryen). Jadi cerita pengorbanan Rhaegar dan Lyanna biar punya anak perpaduan Targaryen dan Stark biar bisa mengalahkan Night King akan terasa nggak masuk akal dan sia-sia banget, karena ternyata yang bunuh Night King adalah Arya Stark. Kalau Lyanna tahu dari dulu sih, kayaknya mending dia nikah sama Robert Baratheon aja deh hihihi.

2. Pengembangan karakter yang kurang
Kalau diperhatikan, sepertinya season 8 dari Game of Thrones ini memang berjalan cukup cepat, dan salah satu efeknya yaitu beberapa perubahan karakter terlihat secara tiba-tiba. Contohnya pada Daenerys Targaryen. Sejak season 1 sampai season 7, Daenerys Targaryen ini digambarkan sebagai seorang yang cukup unggul untuk mendapatkan tahta atau iron throne. Daenerys bener-bener mulai dari nol, dia nggak punya apa-apa, bahkan dijual kakaknya untuk dinikahkan kepada Khal Drogo. Abis itu Khal Drogo meninggal, dia nggak punya apa-apa lagi, selain beberapa orang yang masih percaya sama dia dan 3 naganya. Pasukan Dothraki juga ninggalin dia. Hingga suatu saat dia mulai meraih beberapa pencapaian, seperti memiliki pasukan Unsullied, dan punya sahabat sekaligus penasehatnya, Missandei. Di season 8 ini, Daeneryes Targaryen melihat dengan mata kepalanya sendiri sahabatnya, Missandei dibunuh dengan dipenggal kepalanya. 

Daeneryes Targeryen setelah melihat sahabatnya, Missandei dibunuh di depan matanya sendiri
Tentu hal ini sangat mengejutkan Daenerys, karena dirinya nggak punya siapa-siapa lagi yang percaya dengan dirinya, kecuali Grey Worm dan pasukan Unsullied. Daeneryes sebetulnya memang menampakkan dirinya kalah, cuma mungkin kurang diperlihatkan saja ya. Terlihat dari penampilannya setelah itu, rambutnya yang biasa dikepang sekarang beberapa kepangannya telah terurai dan kusut, nggak mau makan, dan sebagainya. Ya, pantas saja kalau Daeneryes akhirnya jadi Mad Queen, orang dia nggak punya siapa-siapa lagi. Karena Jon Snow yang dia percaya untuk tidak mengatakan apapun tentang hubungan keluarga mereka, malah cerita ke Arya, Sansa dan kemudian menyebar ke Lord Varys. 

"Pokoknya aku nggak mau makan, kalau nggak ditemeni Missandei"
Nah, mungkin karena perubahan yang secara tiba-tiba ini bagi beberapa orang mungkin menilai, bahwa Daenerys ini emang kaya bapaknya lah. Anak nggak jauh beda dari bapak. Bapaknya Mad King anaknya Mad Queen, yang penting nggak pakai semaqueen yaqueen aja. Padahal ya, karena kita nggak diperlihatkan atau diingatkan saja tentang kekalahan dan kehilangan yang telah dialami Daenerys.

3. Cersei dan Jaime Lannister tewas 

Cersei Lannister dan Jaime Lannister tewas
Oke, kita pasti udah sebel banget dengan si kembar Cersei Lannister dan Jaime Lannister ini. Saking nyebelinnya, banyak orang mengharapkan mereka akan mendapatkan hukuman atau kematian yang tragis dari perbuatan yang telah mereka perbuat. Tapi, di season 8 ini ternyata penggemar nggak puas atas kematian mereka berdua, yang hanya mati karena tertimbun reruntuhan bangunan saat Daenerys membakar seluruh Kings Landing.

4. Brandon Stark jadi raja 

Brandon Stark dipilih menjadi raja
Oke, saya nggak keberatan sih sebenarnya Brandon Stark jadi raja. Hal yang membuat saya agak sebel sama Brandon Stark karena, waktu Brandon Stark ditawari jadi raja, jawabannya gini, “Why do you think I came all this way?”. Hal ini bikin saya emosi, hei Bambang! eh Brandon maksudnya, kalau kamu udah ngerti jalan ceritanya, bisa nggak sih ikut usul waktu nyusun strategi perang? Kenapa malah diem, terus pas dijagain Theon malah pake mode Warg gitu. Saya jadi curiga, jangan-jangan dia lagi nyusup ke bioskop buat nonton Avengers: Endgame.

Nah itu tadi menurut saya , ending dari Game of Thrones season 8 yang bikin saya sebel dan benci, meski begitu, saya tetap menyukai series Game of Thrones ini. Kalau menurut kamu, adegan apa yang bikin kamu kecewa di season 8 Game of Thrones ini? Bisa tulis di komentar ya!

Review Series Netflix: Stranger Things Season 3 (2019)

Leave a Comment
Review Series Netflix: Stranger Things Season 3 (2019) via Netflix
Hai semua, kali ini saya akan membahas salah satu series yang tayang di Netflix yang juga lagi rame diomongin hehe. Ya, hal ini karena saya nggak mau ketinggalan nonton lagi huhu, soalnya saya sudah ketinggalan season 1 dan 2 sehingga baru bisa menonton tahun lalu. Yosh, kita mulai saja!

Series Stranger Things Season 3 kali ini masih menyuguhkan cerita yang hampir mirip dengan season sebelumnya. Di awal cerita, diperlihatkan banyak perubahan yang terjadi pada karakter-karakter di Stranger Things Season 3 ini, seperti Steve Harrington (Joe Keery) yang mulai bekerja di kedai es krim bersama temannya, Robin (Maya Hawke). Kemudian Nancy Wheeler (Natalia Dyer) serta kekasihnya, Jonathan Byers (Charlie Heathon) yang mulai magang di sebuah kantor media setempat, The Hawkin Post. Kakak laki-laki Max (Sadie Sink), Billy (Dacre Montgomery) juga terlihat bekerja menjadi seorang penjaga kolam renang yang berhasil memikat banyak wanita, termasuk ibunya Nancy hahaha.

Billy yang bikin cewek sampai ibu-ibu meleleh, via imdb.com
Nggak cuma itu, Eleven (Millie Bobby Brown) dan Mike (Finn Wolfhard) ternyata juga telah menjalin hubungan kekasih, yang sukses membuat Hopper (David Harbour) kesal lantaran Mike sering kali nempel terus bak perangko dengan El. Ya sih, kalian bete banget nggak sih lihat orang yang lagi kasmaran kaya gitu. Lalu, Dustin yang baru pulang dari liburannya juga mengklaim memiliki seorang pacar yang kata dia sih genius abis bernama Suzy. Oiya, si cewek yang bikin Eleven sebel di season 2, Max ini ternyata sekarang juga pacaran dengan Lucas (Caleb McLaughlin). Yang sama aja cuma Will (Noah Schnapp) yang tetap sendiri dan tetep gosok-gosok leher kalau ngrasa ada yang nggak beres.

Will dikit-dikit gosok leher kalau nggak enak badan, enaknya pake koyo saldopas aja ya, via instagram.com/netflixid

Cerita dimulai dengan gerombolan Mike, Will dkk nonton film di bioskop mall Starcourt. Tiba-tiba, listrik mati...pet! Nggak cuma bioskop, seluruh kota ternyata juga mati listrik. Aneh banget, bahkan magnet di kulkas ibunya Will, Joyce Byers (Winona Rider) juga nggak bisa nempel lagi. Hal ini tentu bikin Joyce penasaran, sampai dia datengin rumah guru sainsnya Will untuk mendapatkan penjelasan. Sementara itu, Dustin yang baru saja pulang dari kamp sains ingin menghubungi pacarnya bernama Suzy melalui Cerebro, kebetulan malah menangkap sinyal komunikasi dari pasukan Rusia yang mengirim pesan dalam bentuk kode berbahasa Rusia, yang tentu saja mencuri perhatian Dustin.

Setelah diselidiki, mati listrik yang dialami kota Hawkins ini disebabkan karena sebuah mesin di lab yang dibangun oleh pasukan Rusia. Mesin ini ternyata bertujuan untuk membuka portal atau gerbang yang pada season 2 telah ditutup oleh Eleven. Hal ini tentu bahaya banget, karena bisa saja pasukan Demogorgon itu menyerang kota ini lagi. Nggak cuma itu, ada lagi monster yang nyata masih ada di kota ini. Yaitu monster bernama Mind Flayer yang dulu ada di dalam tubuh Will, yang sekarang ternyata masih berada di Hawkins, dan belum balik ke dunia asalnya. Mind Flayer inilah yang bikin Will ngrasa nggak enak waktu di bioskop.

Mind Flayer ini sepertinya juga butuh host atau inang untuk hidup, seperti yang terjadi pada Will pada season 2. Inang pertama dari Mind Flyer ini yaitu...Billy, kakak dari Max. Monster ini kalau dilihat sih wujudnya fleksibel ya, bisa jadi manusia, bisa jadi semacam kumpulan lendir terus merasuki tubuh inangnya. Seperti selayaknya parasit, Mind Flayer ini juga membangun koloni dengan cara merasuki banyak penduduk Hawkins.

Di sinilah tokoh utama dari series Stranger Things Season 3 akan memulai perjuangan dan petualangannya. Yang saya suka di Stranger Things Season 3 kali ini sih karena karakternya dibagi menjadi 4 kelompok. Erica (adik Lucas yang suka minta sampel es krim Ahoy) masuk ke kelompok geng es krim alias Scoop Ahoy Gang bersama Dustin, Robin dan Steve Harrington. Mike, Will, Eleven, Lucas dan Max jadi satu kelompok yang akhirnya bergabung dengan Nancy dan Jonathan. Hopper yang dibantu Joyce juga ikut mengatasi masalah dengan dibantu seorang private investigator, Murray Bauman yang ahli berbahasa Rusia. Tapi, dari 4 kelompok tadi, saya paling suka geng es krim Ahoy sih. Mereka seru banget sumpah!! Gara-gara geng es krim, perasaan tegang saat nonton Stranger Things jadi ikut adem gara-gara nonton Steve Harrington yang ganteng adegan mereka berempat yang lucu abis.

Geng es krim Scoop Ahoy via Screen Rant
Meski dikemas menarik dan cukup menghibur, tapi menurut saya masih ada beberapa pertanyaan yang sekarang masih belum saya temukan jawabannya, yaitu tujuan Mind Flyer sendiri apa sih membangun koloni di Hawkins ini? Seperti sama bingungnya saya waktu Game of Thrones Season 8, tujuan Night King membasmi kehidupan manusia ini juga apa? Tentu saja kehadiran Mind Flyer ini pasti punya tujuan, sayangnya memang belum jelas aja, atau saya yang nggak paham. Kalau kamu paham, tolong jelasin di komentar ya, please. Hehehe.

Well, meski masih menyisakan pertanyaan, Stranger Things Season 3 yang cuma punya 8 episode ini  sangat cocok kamu tonton apalagi penyuka film sci-fi, action and adventure.

Oiya, jangan lupa, di akhir episode 8 ada credit scene loh, jangan kelewat ya. Selamat menonton!