Hello!
My name is Justina Landhiani

Writer // Thanks for taking a look at my blog

Review Film: Phenomena (1985)

Leave a Comment
Review Film: Phenomena (1985) Indonesia
Review Film: Phenomena (1985) Indonesia via Imdb.com 

Nama Dario Argento, sutradara film Phenomena (1985) tentu sudah tak asing lagi buat para "sinefil" hehehe. Yup, Dario Argento merupakan sutradara asal Italia yang dikenal lewat filmnya seperti Deep Red (1975), Suspiria (1977), Inferno (1980) dan masih banyak lagi. Btw, film Phenomena (1985) ini juga dibintangi oleh Jennifer Connelly saat masih remaja. Buat kamu fans Jennifer tentu nggak boleh ketinggalan nonton film Phenomena (1985) ini, hehehe.

Jennifer Connelly sebagai Jennifer Corvino di film Phenomena (1985)
Jennifer Connelly sebagai Jennifer Corvino di film Phenomena (1985)
Film Phenomena (1985) yang mengambil setting di Swiss ini dibuka dengan adegan seorang gadis yang berlari karena ketinggalan bis yang akan ia tumpangi. 

Seorang gadis ketinggalan bis
Seorang gadis yang lagi apes ketinggalan bis
Nah karena di tempat tersebut cukup terpencil dan sepi banget, gadis tersebut berinsiatif mengunjungi sebuah rumah yang terletak tak jauh dari tempat ia akan menumpang bis, untuk mencari pertolongan. Setibanya di rumah tersebut, bukannya mendapat pertolongan, gadis tersebut justru diserang menggunakan senjata berupa gunting yang tajam, hingga dirinya tewas dan kepalanya terlepas dari tubuhnya.

Kepala gadis tersebut yang diketahui bernama Vera Grandt (Fiore Argento) kemudian berhasil ditemukan oleh Inspektur Rudolf Geiger (Patrick Bauchau) dan asistennya, Kurt (Michele Soavi), dan diselidiki bersama ahli entomologi (ahli serangga) John McGregor (Donald Pleasance). Hal ini karena John McGregor mampu memperkirakan waktu kematian dengan memeriksa belatung yang terdapat pada sisa tubuh korban.

Inspektur Rudolf Geiger dan asistennya, Kurt menyelidiki jasad gadis tersebut bersama ahli entomologi, John McGregor
Inspektur Rudolf Geiger dan asistennya, Kurt menyelidiki jasad gadis tersebut bersama ahli entomologi, John McGregor
Sementara itu, seorang anak bintang film ternama bernama Jennifer Corvino (Jennifer Connelly) tiba di Swiss Richard Wagner Academy for Girls sambil didampingi oleh Frau Bruckner (Daria Nicolodi). Di sekolah yang sekaligus asrama tersebut ia mendapatkan teman sekamar bernama Sophie (Federica Mastroianni).

Jennifer Corvino (Jennifer Connelly) tiba di Swiss Richard Wagner Academy for Girls
 Jennifer Corvino (Jennifer Connelly) tiba di Swiss Richard Wagner Academy for Girls
Menjadi seorang murid baru sekaligus anak dari bintang film terkenal tentu membuat Jennifer Corvino selalu menjadi sorotan. Dirinya disorot nggak hanya karena ketenaran ayahnya, tapi ia juga dikenal aneh karena menyukai serangga serta sering sering tidur sambil berjalan. Bahkan, Jennifer Corvino pernah menyaksikan seorang siswa terbunuh hingga berakhir tersesat di hutan karena masih tidak sadar, apakah hal itu mimpi atau nyata.

Jennifer Corvino tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan seorang gadis
Jennifer Corvino tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan
Jennifer Corvino yang masih linglung dan hampir tertabrak mobil kemudian ditemukan dan ditolong oleh Inga, seekor simpanse yang selalu mendampingi ahli entomologi John McGregor. Di situlah akhirnya Jennifer Corvino menemukan sosok sahabat yaitu John McGregor sendiri, karena John menganggap kemampuan Jennifer bukanlah hal yang aneh. Bahkan, John McGregor menugaskan Jennifer Corvino menjadi seorang detektif bersama lalat Sarkofagus atau Sarcophaga sp. untuk menyelidiki pembunuhan yang sering terjadi di wilayah tersebut. Hal ini karena John mengetahui Jennifer memiliki bakat yaitu mampu berkomunikasi dengan serangga, untuk mengetahui lokasi di mana mayat-mayat serta rumah pembunuh tersebut. 

John McGregor menugaskan Jennifer Corvino menjadi seorang detektif bersama lalat Sarkofagus untuk menyelidiki pembunuhan
John McGregor menugaskan Jennifer Corvino menjadi seorang detektif bersama lalat Sarkofagus untuk menyelidiki pembunuhan
Sementara itu, Jennifer Corvino juga kerap mendapatkan bully dari teman sekolahnya, serta guru dan pendampingnya, Frau Bruckner juga tidak ikut membelanya. Bahkan orang-orang terdekat Jennifer justru tewas dibunuh secara mengenaskan, sehingga Jennifer makin kacau. Hal ini tentu membuat dirinya kesepian, sedih dan ingin segera pulang, namun lagi-lagi dia terjebak dalam suatu keadaan yang mengancam nyawanya. Sebab, Jennifer Corvino tanpa sengaja melihat sang pelaku yang sedang membunuh seorang gadis.

Jennifer Corvino tidak tahan tinggal lebih lama di sekolah dan asrama tersebut
Jennifer Corvino tidak tahan tinggal lebih lama di sekolah dan asrama tersebut
Saat menonton film Phenomena (1985) ini, saya seneng banget karena disuguhi pemandangan alam Swiss yang menakjubkan, jadi pengin pergi ke Tawangmangu lagi haha. Phenomena (1985) ini juga unik karena tokohnya menggunakan serangga untuk menyelidiki suatu kasus pembunuhan. Saat melihat kemampuan Jennifer Corvino, saya langsung jadi inget tokoh Shino Aburame di anime Naruto karena sama-sama menggunakan serangga untuk membantunya menyerang lawan, hehehe. Oh iya, karena banyak serangga di film ini, tentu kamu ingat dalam daur hidup serangga (dalam film ini serangga yang digunakan adalah lalat) terdapat satu fase setelah telur menetas yaitu fase larva alias belatung. 
Daur hidup flesh fly Boettcherisca peregrina (Diptera: Sarcophagidae)
Daur hidup flesh fly Boettcherisca peregrina (Diptera: Sarcophagidae)*
Nah, kalau kamu agak jijik dengan belatung saya sarankan nggak nonton film ini saat makan ya hehe, takut jadi nggak doyan makan.

Jennifer Corvino ditemani lalat untuk memecahkan misteri pembunuhan
Jennifer Corvino ditemani lalat untuk memecahkan misteri pembunuhan

Bisakah Jennifer Corvino yang hanya berbekal lalat Sarkofagus menemukan dan memecahkan misteri pembunuhan berantai ini? Lalu apakah dirinya berhasil selamat dari pembunuh tersebut? Daripada penasaran, mending coba nonton aja deh. Well, selamat menonton! (*)

*Tropical Biomedicine 36(1): 131–142 (2019), judul: Boettcherisca peregrina (Diptera: Sarcophagidae): A flesh fly species of medical and forensic importance

Review Film: Black Christmas (1974)

Leave a Comment
Review Film: Black Christmas (1974)
Review Film: Black Christmas (1974) via Imdb.com

Jika kamu menginginkan horor slasher yang tidak biasa, kamu bisa menonton film Black Christmas (1974). Yup, sesuai dengan judulnya, film horor karya sutradara Bob Clark ini mengisahkan teror yang bertepatan pada hari Natal. Seperti biasanya, tentu Hari Raya Natal kerap dilaksanakan dengan berkumpul bersama sahabat, atau keluarga. Hal ini jugalah yang dilakukan oleh penghuni asrama putri Pi-Kappa-Sigma. 

Penghuni asrama Pi Kapp Sigma berkumpul merayakan Hari Raya Natal
Penghuni asrama Pi Kappa Sigma berkumpul merayakan Hari Raya Natal  
Setelah adegan pembuka tersebut, tiba-tiba kita dibawa ke sudut pandang pelaku teror, yang nggak tahu kenapa pengin membuat asrama tersebut sebagai target aksi berikutnya. Pelaku teror yang wajahnya tidak disorot ini tampak berhasil masuk ke dalam asrama kemudian memilih bersembunyi di loteng.

Kebahagiaan penghuni asrama Pi Kappa Sigma merayakan Hari Natal ternyata tak berlangsung lama. Usai para tamu laki-laki pulang karena sudah jam malam, teror pun mulai berdatangan. Awalnya, teror ini berupa seringnya telepon iseng yang diterima Jess (Olivia Hussey) di asrama tersebut. Tapi, isengnya tuh nyebelin banget yang jorok berbau mesum gitu. Hal ini tentu membuat para penghuni asrama jadi jijik, sehingga Barb (Margot Kidder) yang memang anaknya rebel banget nggak tahan buat membalas omongan si penelepon tersebut. Bukannya malah takut, si penelepon malah mengancam akan membunuhnya.

Jess menerima telepon iseng
Jess menerima telepon iseng
Salah satu penghuni asrama bernama Clare (Lynne Griffin) yang tak tahan dengan perilaku Barb, kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan berkemas, karena besok dia akan dijemput oleh orangtuanya. Tapi, tiba-tiba dia melihat keanehan pada lemarinya, yang semula ia kira Claude, kucingnya tapi justru ternyata adalah pelaku teror yang telah bersembunyi dan akan membunuh kemudian membungkusnya dengan plastik dan dibawa ke loteng asrama.

Clare dibungkus plastik dan diikat di kursi yang terdapat pada loteng
Clare dibungkus plastik dan diikat di kursi yang terdapat pada loteng
Bukan, dia bukan Gilang Bungkus, tahan, walau setelah melakukan hal menyeramkan pada Clare si pelaku malah nyanyi tentang bungkus-bungkus juga.

If this picture doesn't make your skin crawl...it's on TOO TIGHT.

Seperti yang kita tahu, Clare sebetulnya sudah janjian di suatu tempat untuk dijemput orangtuanya. Nah, ayah Clare yang sudah menunggu di tempat penjemputan ini merasa janggal karena anaknya nggak nongol-nongol. Akhirnya ayah Clare pergi ke asrama, mencari keterangan dari Chris Hayden  (Art Hindle) kekasih Clare hingga minta bantuan kepada polisi yang juga tetap hasilnya nihil.

Ayah Clare menunggu anaknya untuk menjemputnya pulang ke rumah
Ayah Clare menunggu anaknya untuk menjemputnya pulang ke rumah
Nggak berhenti di situ, teror ternyata masih berlangsung. Mulai dari seringnya telepon aneh dan mesum hingga mulai terbunuhnya satu persatu penghuni asrama tersebut.

Meski ceritanya agak terkesan repetitif seperti film horor slasher pada umumnya, ternyata ada hal-hal unik pada film Black Christmas (1974) ini. Yup, kita diberikan rasa mencekam sekaligus penasaran sampai akhir film, siapa sih sebenarnya pelaku teror ini, yang pada di akhir film kita diberikan sesuatu "yang tidak biasa" (sukses bikin saya masih kepikiran sampai sekarang). Selain itu, biasanya kan kalau di film horor slasher yang duluan mati terbantai adalah anak rebel dan nyebelin gitu, tapi di Black Christmas justru yang pertama tewas adalah Clare yang bisa dibilang adalah cewek baik-baik. Jadi ya pelakunya tampak seperti asal aja milih korbannya. Tak hanya menegangkan, film Black Christmas (1974) juga menyajikan sedikit selingan humor dari ibu asramanya yang nyentrik, pemabuk dan agak rebel sekaligus kocak yang harus berhadapan dengan ayah Clare yang tampaknya adalah orang yang "lurus". Btw waktu lihat ayahnya Clare yang tampak anteng, diem dan tetap kepala dingin mencoba mencari keberadaan putrinya ini bikin saya jadi sedih huhu.

Ayah Clare dan ibu asrama Pi Kappa Sigma
Ayah Clare dan ibu asrama Pi Kappa Sigma
Nah buat kamu yang pengin nonton film horor slasher yang agak beda dari biasanya, atau penasaran dengan nasib Jess dan teman-temannya menghadapi teror yang tak kunjung berakhir tersebut, film Black Christmas (1974) bisa jadi pilihanmu kali ini. 

Well, selamat menonton! (*)

Review Film: Happy Birthday To Me (1981)

4 comments
Review Film: Happy Birthday To Me (1981) Indonesia

Film horor Happy Birthday To Me (1981) garapan sutradara J. Lee Thompson, mengisahkan tentang Virginia Wainwright (Melissa Sue Anderson), seorang remaja yang baru saja kembali ke sebuah private school yaitu Crawford Academy setelah berhasil selamat dari kecelakaan maut yang menewaskan ibunya, serta sembuh dari operasi otak. Usai kembali lagi bersekolah, dia juga berhasil menjadi anggota kelompok elit di Crawford Academy, yang tentunya beranggotakan murid-murid high class. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Virginia kembali ke Crawford Academy

Seperti siswa kelompok elit pada umumnya, saat malam hari tentu mereka juga kerap hang out bersama di bar, kalau zaman sekarang ya mungkin buat konten Story di Instagram mungkin ya hehe. Di pembukaan film kita sudah diperlihatkan sebuah konflik, yaitu salah satu siswa elit yang bernama Bernadette O'Hara (Lesleh Donaldson) tiba-tiba dicekik dari belakang saat dirinya akan mengendarai mobilnya. Beberapa saat setelah dia berhasil melarikan diri, terlihat bahwa Bernadette bertemu dengan seseorang yang ia kenal. Tapi, sosok yang mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam itu justru mengeluarkan pisau yang digunakan membunuh Bernadette.

Bernadette melihat pembunuh tersebut seperti orang yang ia kenal

Sementara itu, para siswa elit telah berkumpul di bar, dengan Virginia yang terakhir muncul sebelum Alfred Morris (Jack Blum). Jika kamu memerhatikan dengan cermat, Virginia ini juga mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam, mirip dengan yang dikenakan si pelaku pembunuhan Bernadette. Singkat cerita, karena keadaan di bar makin chaos (ya gara-gara mereka sendiri sih), akhirnya mereka berlomba menyeberang jembatan meski jembatan tersebut akan dibuka agar bisa dilewati kapal. Salah satu mobil dari siswa elit tersebut ada yang nekat menyeberang jembatan, padahal jembatannya udah dibuka tinggi banget, dan membuat mobil yang mereka tumpangi jatuh. Virginia yang ikut menumpang di mobil tersebut tentu merasa kaget. Hal ini karena "permainan" tersebut merupakan hal yang belum pernah ia lakukan. Virginia yang langsung ngambek kemudian berlari menuju makam ibunya yang terletak di dekat rumahnya, di dekat TKP tempat mobil mereka jatuh. 

Setelah peristiwa tewasnya Bernadette, satu persatu anggota siswa elit ini mulai menghilang misterius, yang membuat pihak Crawford Academy mulai menyelidiki kasus-kasus tersebut. 

Satu persatu teman Virginia menghilang dan tewas secara misterius

Nggak cuma itu, Virginia yang diketahui sedang dalam proses pemulihan cedera dan kehilangan sebagian memorinya setelah kecelakaan tahun lalu, tiba-tiba diserang perasaan ketakutan dan bersalah. Takut kalau semua itu terjadi karena ulah dirinya. Tapi, pembunuhan ini terus berlanjut bahkan sampai hari ulang tahunnya yang nantinya penonton akan diberikan kejutan atau twist akan identitas pelaku dan motifnya.

Virginia yang kehilangan sebagian ingatannya merasa takut, jangan-jangan ia yang menyebabkan temannya hilang secara misterius

Film Happy Birthday To Me (1981) ini sebenarnya cukup menarik dan membuat saya penasaran hingga akhir film, cuma ada beberapa bagian yang bikin bingung, seperti adegan flashback yang agak nyaru dengan adegan sebelum atau sesudahnya. Twist di akhir film sebetulnya juga cukup make sense, karena mulai di awal film sudah banyak clue yang disajikan. Tapi mungkin saya merasa agak janggal dengan trik si pelaku, mengingatkan dengan trik yang sering digunakan Vermouth di anime atau komik Detektif Conan hahaha. 


Meski begitu, film ini tetap asyik ditonton, apalagi buat kamu yang lagi ulang tahun. Well selamat menonton! (*)

Review Film: The House of The Devil (2009)

4 comments
Review Film: The House of The Devil (2009)

Awal menemukan film The House of The Devil (2009) ini sebenarnya tidak sengaja, yaitu saat saya mencari film tentang babysitter yang pernah saya tonton di Trans TV hehe. Tapi yang saya tonton waktu itu settingnya jauh lebih modern, seperti telah menggunakan laptop untuk mengerjakan paper, dan rumahnya juga sudah bergaya modern. Ceritanya tentang seorang cewek yang jadi babysitter, kemudian dia diteror dengan telepon yang selalu berdering di rumah tersebut. Sampai sekarang film itu masih misterius untuk saya, alias belum ketemu judulnya. Kalau kamu tahu, bisa kasih tahu judulnya di komentar yaa, terimakasih!

Film horor The House of The Devil (2009) yang disutradarai oleh Ti West ini bercerita tentang seorang mahasiswi yang ekonominya lagi pas-pasan bernama Samantha Hughes (Jocelin Donahue) yang sedang berusaha mendapatkan uang untuk menebus biaya sewa rumahnya yang baru, yaitu sebesar 300 dolar AS. Soalnya si Samantha ini punya roomate nyebelin dan berantakan, bahkan suka ena-ena sampai pagi, jadi mungkin Samantha sebel akhirnya mau nggak mau harus cari rumah baru.

Samanta Hughes (Jocelin Donahue)

Seperti kampus pada umumnya, papan iklan tentu menjadi spot favorit yang kerap dituju mahasiswa pencari lowongan kerja sampingan atau beasiswa. Di sini, Samantha Hughes melihat info lowongan kerja sebagai babysitter, lengkap dengan nomor yang bisa dihubungi. Meski tak menyukai anak-anak, hal ini harus ia lakukan karena Samantha sama sekali tidak punya uang untuk membayar uang sewa rumah. Sialnya, saat dihubungi dan janjian di suatu tempat, si pemberi kerja ini malah mangkir dan membuat Samantha bosan setengah mati hingga ketiduran di jalan. Untungnya Samantha punya sahabat baik bernama Megan (Greta Gerwig) yang mau menemaninya makan dan selalu menghiburnya. 

Samantha nungguin sampai kering, tinggal dibalik aja ni biar mateng merata

Singkat cerita, si pemberi pekerjaan ini akhirnya menghubungi Samantha dan menyesal karena tadi PHP-in dia hehe. Megan yang khawatir dengan sahabatnya, akhirnya menemani Samantha bahkan memaksa agar bisa ikut menemaninya bekerja di rumah tersebut. Hal ini, karena pekerjaan sebagai babysitter tersebut lokasi rumahnya terletak di daerah terpencil.

Samantha dan Megan di ruang tamu Pak Ulman

Keanehan mulai terjadi saat Samantha tiba di rumah Pak Ulman, yang mempekerjakan Samantha. Pak Ulman ternyata tidak setuju jika Samantha membawa teman yang akan menemaninya bekerja di rumah tersebut. Nggak cuma itu, ternyata yang dijaga ini bukan anak-anak, tapi ibunya Pak Ulman. Pak Ulman beralasan bahwa tentu susah kalau mencari lowongan penjaga orang tua, oleh karena itu, dia bikin click bait nih iklannya, biar kejebak hehe. 

Jadi dek Samantha, aku tuh suka bikin postingan click bait, kata Pak Ulman dengan muka tanpa dosanya

Samantha yang mengetahui dirinya tidak memiliki kemampuan untuk menjaga orang tua tentu menolak, takut nanti kenapa-napa. Tapi Pak Ulman bersikeras, bahwa yang penting Samantha menjaga di rumah saja selama ia dan istrinya pergi nonton gerhana, karena ibunya juga nggak ngerepotin. Nggak cuma itu, Samantha juga diberi bayaran sangat besar yaitu 400 dolar AS hanya untuk menjadi babysitter dalam waktu 4 jam saja. Karena memang lagi kepepet, mau nggak mau Samantha akhirnya menyetujui kesepakatan tersebut.

Megan yang mengetahui hal itu tentu marah dan kecewa. Karena dia tahu betul bahwa ada sesuatu yang aneh, sampai-sampai seorang babysitter rela mereka bayar dengan upah yang tinggi. Meski begitu, Megan tetap mengiyakan keputusan sahabatnya, sembari dirinya berhenti di sebuah pemakanan untuk menunggu jam kerja Samantha habis, kemudian menjemputnya.

Selama ditinggal Pak Ulman dan istrinya, Samantha melakukan apapun untuk mengusir rasa kebosanannya. Hingga suatu ketika, Samantha nggak sengaja nemu foto keluarga yang sedang berpose di mobil Volvo, yang diparkirnya di depan rumah ini. Tapi, keluarga di dalam foto tersebut bukanlah Pak Ulman dan istrinya. Di sinilah ketegangan film ini mulai naik yang akhirnya ditutup ending yang apik, khas film-film era 1970-1980an.


Film The House of The Devil ini sebetulnya keluaran tahun 2009, tapi Ti West berhasil membuat film ini jadi tampak seperti film tahun 70-80an. Kayak nonton film The Omen, Don't Look Now, Halloween, Rosemary's Baby dan sebagainya, di mana pada era tersebut tidak ada handphone atau smartphone, terus pasti ada adegan kabel telepon putus yang bikin tokoh utama jadi makin panik. Nggak cuma itu, kita juga sering melihat Samantha menggunakan walkman mendengarkan kaset, jadi kesan retronya makin keliatan banget.


Saat saya baca review di laman The Horror Syndicate, film ini ternyata menggunakan tema "satanic panic" yang kerap digunakan sebagai plot film horor pada tahun 1970an dan 1980an, contohnya seperti Rosemary's Baby (1968). Di awal film ini juga dijelaskan bahwa film ini berdasarkan kejadian nyata yang tak bisa dijelaskan. Yaitu pada tahun 1980-an sebanyak 70 persen penduduk Amerika percaya pada keberadaan kultus setan yang kejam, sedangkan 30 persen sisanya beralasan kurangnya bukti karena pemerintah menutupi hal ini.

If something seems too good to be true, it probably is not true.

Dari film ini saya jadi menarik pesan moral, bahwa jika kita mendapatkan pekerjaan yang diberi upah terlalu berlebihan daripada jobdesc yang akan kita lakukan, itu bisa jadi pertanda kurang baik. Jadi, berhati-hatilah sebelum tanda tangan kontrak di atas materai!

Nah buat kamu yang lagi pengin nonton horor, apalagi penggemar film horor era 70 sampai 80-an, jangan lupa nonton The House of The Devil (2009) ya, selamat menonton! (*)


Review Film: It Follows (2014)

9 comments
Review Film: It Follows (2014) Indonesia

Film horor It Follows (2014) garapan sutradara David Robert Mitchell ini dibuka dengan scene seorang wanita yang tampak panik dikejar sosok tidak terlihat. Keesokan harinya, wanita ini ditemukan tewas di pantai dengan posisi ganjil atau aneh banget. Sungguh, scene pembuka yang bikin penasaran buat mengikuti keseluruhan cerita di filmnya.

Scene pembuka film It Follows (2014) aja udah begini

Kita kemudian digiring ke kehidupan seorang gadis remaja bernama Jay (Maika Monroe) yang lagi seneng-senengnya karena punya pacar bernama Hugh (Jake Weary). Selayaknya pasangan kekasih yang baru aja jadian, mereka mulai nih melakukan wakuncar (waktu kunjungan pacaran -buset tua banget saya), dengan nonton film di bioskop.

Jay sibuk makeup-an sebelum kencan dengan Hugh

Untuk membunuh rasa bosan saat antri membeli tiket, Jay dan Hugh akhirnya memutuskan untuk memainkan permainan klasik Jay, yaitu memilih secara random orang yang kita temui (tapi tidak diucapkan siapa yang kita pilih), lalu lawan mainnya harus menebak siapa orang yang kita pilih tadi. Nah, ketika giliran Hugh menebak orang yang ditunjuk Jay, dirinya malah menunjuk sosok yang sebetulnya tidak dilihat oleh Jay. Hal ini langsung membuat Hugh moodnya berubah dan memutuskan untuk pulang.

Eh ketika Hugh nunjuk orang, ternyata yang ditunjuk adalah sosok tak kasat mata

Esoknya, mereka akhirnya memutuskan kencan lagi dan kali ini mereka memutuskan untuk mantap-mantap di mobil. Eh lagi abis mantap-mantap, si Jay malah dibekep sama Hugh. Bangun-bangun, dia cuma pakai daleman doang (wah Hugh nih kan dingin yak), dan diikat di kursi oleh Hugh, untuk dijadikan umpan kepada "sosok" yang tidak terlihat. 

Jay kaget karena ketika sadar sudah dalam keadaan terikat di kursi roda

Nah ternyata nih, Hugh itu telah "tertular" usai mantap-mantap dengan wanita sebelumnya. Tapi bukan tertular PMS, Hugh ini sebetulnya jadi semacam objek pemindahan kutukan yang semula sosok tersebut mengincar wanita yang dikencani Hugh, dan kini sosok tersebut mengikuti dirinya. Agar dia bebas dari sosok tersebut, dia harus secepat mungkin mencari objek baru untuk memindahkan kutukan tersebut, kalau tidak berhasil maka nyawa Hugh akan terancam. Nah, karena Jay sudah berhubungan dengan Hugh yang sudah "tertular", maka sosok tersebut kini mengincar Jay. Hugh berpesan agar Jay tidak mati karena jika Jay berhasil dibunuh oleh sosok itu, maka sosok itu akan kembali memburu Hugh dan seterusnya.

Jay tiba-tiba diikuti oleh orang asing yang anehnya hanya dirinya yang bisa melihat sosok tersebut

Sosok ini bisa berwujud siapa saja. Bisa berwujud orang asing yang tiba-tiba berjalan lurus ke arah Jay, atau menyerupai orang yang dikenal akrab oleh Jay. Tentu hal ini membuat Jay makin depresi dan susah tidur karena selalu dikejar sosok yang mau membunuhnya. Nggak cuma itu, sosok ini juga cuma dia yang bisa melihatnya, sehingga membuat orang-orang di sekitar Jay kesulitan untuk mempercayai ceritanya.

Kelly (Lili Sepe) tidak percaya dengan cerita Jay

Meski It Follows bergenre horor, tapi film ini seolah tidak menggunakan pakem seperti yang biasa kita temui, contohnya kayak suasana yang terkesan gelap, jumpscare atau efek suara yang terlalu keras dan bikin kaget. Film It Follows justru memberikan scorring yang nyaman didengarkan, tapi tetap berhasil membuat suasana di film ini mencekam. Film It Follows (2014) ini juga jadi mengingatkan saya dengan film slasher pada umumnya, yang sering menghukum remaja-remaja yang melakukan hubungan bebas alias mantap-mantap.


Film ini juga tidak diceritakan latar dan waktunya secara pasti, karena terlihat Jay masih menggunakan telepon rumah untuk berkomunikasi, orang-orang di situ tidak ada yang menggunakan handphone atau smartphone serta TV di kamar Jay masih jadul. Tapi, mobil yang digunakan juga nggak jadul-jadul amat serta Yara (teman Jay) malah punya ebook reader berbentuk kerang yang lucu itu huhu. 

Ebook reader-nya Yara bukan Kobo atau Kindle, tapi lucu gini, pasti dikira cushion kalau dimasukin di pouch makeup

Btw, ngeri juga ya kalau kita di film It Follows (2014), nggak hanya dihantui STD alias PMS, tapi juga takut jangan-jangan pasangan kita hanya menjadikan kita sebagai sosok objek buat memindahkan kutukannya.

Nah itu tadi review singkat tentang film It Follows (2014), selamat menonton! (*)

Review Film: Sleepaway Camp (1983)

8 comments
Review Film: Sleepaway Camp (1983) Indonesia

Film horor Sleepaway Camp (1983) garapan sutradara Robert Hiltzik ini dibuka dengan adegan sekelompok remaja yang sedang asyik liburan musim panas sambil bermain kapal boat. Seperti remaja pada umumnya, mereka ingin terlihat keren, menantang adrenalin dengan membuat kapalnya melaju sangat kencang yang menyebabkan mereka tidak tahu kalau ada keluarga (yang terdiri dari bapak, anak laki-laki dan perempuan) sedang berenang di tepi pantai. Alhasil, kapal yang ditumpangi remaja tersebut secara brutal tanpa sengaja menggilas keluarga yang sedang berenang di pantai.

Keasikan ngebut, eh malah ngelindes orang, nggak punya adab emang

Seolah terlepas dari kejadian tersebut, kita dibawa time shift delapan tahun kemudian ke adegan tante Martha (Desiree Gould) yang sedang sibuk mempersiapkan anaknya, Ricky (Jonathan Tiersten) dan keponakannya, Angela (Felissa Rose) pergi untuk berangkat berkemah di Camp Arawak bersama.

Angela dan Ricky berpamitan untuk pergi ke sebuah perkemahan musim panas

Sesampainya di camp, tentu penginapan camper laki-laki dan perempuan dipisah. Oleh karena itu, Angela terpaksa harus terpisah dari Ricky, padahal Angel sangat pendiam dan seolah susah bergaul. Nggak cuma itu, Angela juga sering bikin orang-orang di sekitarnya jengkel, karena dia tidak pernah menjawab omongan siapapun, kecuali pada Ricky dan temannya, Paul (Christopher Collet). 

Angela kerap bikin sebel karena dia selalu diam seribu bahasa alias tutup mulut kecuali kalau ngobrol sama Ricky dan Paul

Hal ini tentu membuat Angela jadi sasaran bullying baik dari orang laki-laki maupun teman-teman sekamarnya yang perempuan, seperti Judy (Karen Fields) dan Meg (Katherine Kamhi) yang mengingatkan saya dengan peran antagonis Nia Ramadhani dan Gracia Indri kalau di sinetron Indonesia. Untungnya, Angela memiliki sepupu yaitu Ricky yang nggak pernah absen melindungi Angela.

Judy dan Meg yang selalu mengganggu Angela

Tak hanya nggak mau bicara, Angela juga bikin resah pengurus camp karena dirinya tidak mau makan makanan apapun. Oleh karena itu, pengurus camp menyuruh Angela untuk ke dapur dan minta tolong kepada koki untuk memberikan makanan yang disukai Angela. Eits di sini mulai terjadi konflik pemirsa. Pasalnya, kepala koki di situ justru nakal alias agak p*dofil nih. 

Angela lagi digodain koki

Untungnya Ricky datang, sehingga Angela bisa selamat. Kepala koki tersebut juga meminta mereka untuk tidak melaporkan perbuatannya pada siapapun. Tak disangka, kepala koki ini mendapatkan pembalasan akibat perbuatannya pada Angela, yaitu tubuhnya melepuh karena masuk ke dalam panci yang berisi air mendidih. 


Sederet peristiwa aneh dan mengerikan akhirnya muncul satu persatu di camp Arawak ini. Banyak peserta camp yang ditemukan tewas, dan semuanya yang tewas sebelumnya memang sempat membully dan menghina Angela habis-habisan. Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan bagi setiap orang yang nonton, siapa nih pelaku utamanya? 

A Perfect Place to meet young girls, might just be the perfect place to die!

Film Sleepaway Camp seolah memberikan formula yang hampir sama pada setiap horor slasher. Yaitu orang yang nyebelin, genit, sok dan suka bully orang lain, biasanya akan tewas secara mengenaskan terlebih dahulu. Ending yang disajikan pun sukses bikin saya ngeri dan ngakak bersamaan hahaha (maap). Tapi, twist yang diberikan Sleepaway Camp ini sebetulnya udah diisi dari awal, udah dikasih petunjuknya gitu. Mulai kejadian keluarga yang terlindas kapal boat, ibunya Ricky alias tantenya Angela yang terlihat sangat ceria dan creepy itu, ternyata saling berhubungan dan masuk akal membentuk kepribadian pelaku utama pembunuhan di Camp Arawak ini.

You will go there in a bus...and come home in a box!

Btw, setelah saya nonton film ini, saya jadi sadar. Walau kisah film ini hanya fiktif belaka, rasanya cukup bisa memberi gambaran kepada saya kalau kecerobohan atau kesalahan yang kita lakukan itu nggak hanya akan berhenti di satu waktu saja. Seperti contohnya peristiwa mengerikan yang dialami oleh korban yang terlindas kapal boat yang ditunggangi remaja tanggung sok keren itu ternyata memberikan trauma yang mendalam pada keluarga yang ditinggalkannya, dan akhirnya malah menimbulkan rentetan tragedi pembunuhan yang mengenaskan. Yah, memang sebaiknya hidup ini harus dijalankan hati-hati, baik dari sikap maupun perkataan. (Huhuhu)

Nah itu tadi review singkat tentang film horor Sleepaway Camp (1983) yang bikin saya ngeri sekaligus ngakak saat nonton endingnya. Buat kamu yang penasaran dengan film ini, silakan nonton dulu deh. Nah buat kamu yang udah nonton, gimana perasaanmu saat nonton adegan endingnya itu? Hahahaha! (*)

Review Film: The Invisible Man (2020)

6 comments
Review Film: The Invisible Man (2020) Indonesia via Imdb.com

Film The Invisible Man yang mulai tayang pada Februari tahun 2020 dan disutradarai oleh Leigh Whannell ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita bernama Cecilia (Elisabeth Moss) yang berusaha untuk melarikan diri dari pasangannya, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen) yang dikenal memiliki perilaku abusive dan toksik.

Cecilia diam-diam kabur dari rumahnya via imdb.com
Agar rencana melarikan dirinya mulus, Cecilia pun melakukannya dengan serapi dan sehati-hati mungkin. Mulai memberikan obat tidur kepada Adrian hingga memanipulasi CCTV di rumahnya. Meski begitu, ada saja yang bikin jantungan seperti saat anjing Cecilia tidak sengaja menyenggol mobilnya yang membuat alarm jadi berbunyi.

Hal ini tentu membuat Adrian jadi terbangun dan mau tidak mau Cecilia harus mengambil langkah seribu alias lari terbirit-birit menunggu saudaranya yang akan menjemput dirinya.

Apakah Cecilia lolos?

Tentu saja tidak ahahah. Karena tiba-tiba Adrian bikin kaget saat menghantam jendela mobil yang ditumpangi Cecilia. Singkat cerita akhirnya Cecilia bisa bernapas lega karena bisa lolos dari Adrian. Keesokan harinya, justru ia malah mendapatkan berita mengejutkan bahwa, Adrian telah tewas bunuh diri. Dirinya bahkan juga mendapatkan harta warisan dalam jumlah yang banyak. Hal ini tentu aneh, karena Cecilia tahu betul watak Adrian yang menyebalkan layaknya sosiopat, dan tidak akan melepaskan Cecilia begitu saja.

Adrian dinyatakan tewas bunuh diri via imdb.com
Seperti yang bisa kita lihat di trailernya, meski Adrian sudah dinyatakan meninggal, Cecilia justru curiga dan merasa bahwa ada sesuatu yang aneh yang menyelinap masuk ke dalam rumah yang dia tinggali saat itu. Tak hanya itu saja, sesuatu yang diam-diam masuk ke rumahnya tersebut juga berusaha untuk mencelakakan Cecilia. Hingga suatu saat Cecilia yakin, bahwa yang berusaha mencelakakannya adalah Adrian, dan dia yakin jika mantannya tersebut belum benar-benar meninggal.

Cecilia merasa ada sesuatu yang menyelinap masuk ke kediamannya via imdb.com
WHAT YOU CAN’T SEE CAN HURT YOU
Tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang susah dipercaya jika diceritakan kepada anggota keluarga di rumah yang ia tinggali tersebut. Bahkan Cecilia sampai dikira gila. Meski begitu, Cecilia sadar dirinya harus segera bertindak, karena Adrian dalam wujud yang tidak dapat dilihat alias invisible ini semakin berani menjauhkan Cecilia dari orang terdekatnya. Nggak cuma itu saja, Adrian juga berusaha untuk membunuh orang-orang di sekitar Cecilia.



Film berdurasi 124 menit ini cocok banget buat kamu yang suka menikmati tayangan bergenre horor, science fiction dan thriller. Saat menonton film ini, saya jadi mendapatkan gambaran pria-pria toksik dan abusive yang tampaknya memang selalu ingin mengontrol dan mengatur kehidupan pasangannya. Nggak cuma itu saja, pria tersebut juga berusaha untuk menjauhkan si wanita dari orang-orang terdekatnya, agar wanita ini tetap mau tidak mau bergantung pada dirinya. Pria abusive juga sering menyerang mental dengan mengerdilkan kepercayaan diri pasangan wanitanya, dengan ucapan seolah wanita ini tidak bisa hidup apa-apa tanpa dirinya. Kisah pasangan tersebut beberapa pernah saya lihat, seperti Hunter dan Richie di film Swallow (2019), Beverly dan Tom Rogan di film It Chapter Two (2019), John dan pasangannya di serial TV Dirty John, dan sebagainya (ada yang mau nambahin? hehe). Jadi buat kamu cewek-cewek, hati-hati ya kalau dapetin cowok atau pria dengan ciri-ciri seperti itu hehehe.


Lalu apakah Cecilia berhasil mengetahui rahasia Adrian menjadi sosok tidak terlihat dan bagaimana dirinya menyelesaikan masalah ini?

Menurut saya, film ini memang menarik untuk ditonton dan diikuti hingga akhir, tapi kurang terasa greget atau penasaran, karena sebagian dari cerita di film ini justru sudah ada di trailernya. Itu sih kekurangannya hehe. Nah buat kamu yang sudah nonton, menurut kamu gimana nih? Boleh tulis di kolom komentar ya. (*)