Hello!
My name is Justina Landhiani

Writer // Thanks for taking a look at my blog

Review Film: Friday the 13th (1980)

2 comments
Review Film: Friday the 13th (1980)

Beberapa hari ini saya lagi seneng banget buat nonton film horor. Mungkin karena sama-sama merasa dihantui seperti karakter di film horor, tapi bedanya sekarang kita lagi dihantui oleh virus corona yang membuat kita harus banyak beraktivitas di rumah saja. Sedih dan serem banget. Oleh karena itu, menonton film apalagi film horor mungkin jadi sebuah sarana coping stress saya biar tetap waras untuk bekerja dan beraktivitas seperti biasa, meski keadaan lagi nggak biasa.


Salah satu film yang menarik untuk saya bahas kali ini adalah Friday The 13th (1980). Film besutan sutradara Seans S. Cunningham ini bercerita tentang sebuah area camp bernama Crystal Lake yang baru saja dibuka lagi, setelah ditutup selama 21 tahun lalu karena kejadian pembunuhan mengerikan yang menimpa pasangan muda-mudi. 


Layaknya sebuah camp, tentu para pendamping yang biasanya berusia anak SMA terlebih dahulu hadir di Crystal Lake, guna mempersiapkan camp sebelum dibuka untuk anak-anak. Annie Philips (Robbi Morgan) petugas logistik camp ketika di jalan menuju Crystal Lake, sebetulnya telah diperingatkan oleh seorang yang dikenal gila bernama Ralph, untuk segera membatalkan rencana ke Crystal Lake, karena dikhawatirkan akan terjadi kejadian serupa 21 tahun yang lalu. Tak mengindahkan nasehat itu, Annie Philips tetap berangkat hingga ia tak sadar telah menumpang mobil seseorang yang ternyata merupakan serial killer yang akan menghantui Crystal Lake.


Film yang dibintangi Kevin Beacon (yang masih muda banget hahaha), Betsy Palmer, Adrienne King, Harry Crosby, Laurie Bartram, Mark Nelson, Jeannine Taylor, Robbi Morgan ini mengingatkan saya dengan novel series Fear Street karangan RL Stine. Buat kamu yang suka baca Goosebumps pasti tahu RL Stine hehe. Nah di Fear Street memang kerap diceritakan kalau anak SMA banyak yang menghabiskan waktu musim panasnya dengan menjadi pendamping camp, seperti yang dilakukan para tokoh utama di Friday 13th ini. 


Seperti remaja SMA Amerika biasanya, di dalam kelompok tersebut tentu ada pasangan yang akhirnya memanfaatkan kondisi jauh dari orangtua, sehingga sekalian saja mereka mantap-mantap di camp. Ada yang suka usil, nge-prank sesama pendamping camp, dan sebagainya. Mereka tidak sadar kalau sedang diawasi oleh sesosok makhluk dari jauh. Camp Crystal Lake mulai mencekam karena akhirnya anggota camp menghilang satu persatu.


Pada akhirnya, anggota camp yang tersisa mau tidak mau harus mencari tahu keberadaan teman-temannya yang menghilang dan tetap berjuang untuk mempertahankan hidup melawan serial killer yang berusaha membunuhnya, yang ternyata berkaitan dengan kejadian 21 tahun lalu sebelum Crystal Lake ditutup.


Meski plotnya terbilang sederhana, saya cukup menikmati suasana diteror di film horor ini. Kayak lagi baca Fear Street banget, apalagi ini settingnya juga pada tahun 90-an jadi kesan jadulnya mirip. Hari Jumat ke 13 atau yang kerap disebut Friday The 13th tampaknya memang kerap jadi momok oleh banyak orang, termasuk orang Amerika. Bahkan film yang membawa cerita tentang Jumat ke 13 ini juga dibilang sudah sangat banyak. Kalau di Amerika ada Friday The 13th, kalau di Indonesia mungkin lebih akrab malam Jumat Kliwon haha. 

Nah, buat kamu yang pengin nonton horor tapi ringan dan biasa aja, tidak ada salahnya untuk mencoba nonton film Friday the 13th.

Well, happy watching! (*)

Review Film: The Wicker Man (1973)

1 comment
Review Film: The Wicker Man (1973) Indonesia

Film bergenre horor, thriller sekaligus misteri yang rilis tahun 1973 hasil karya sutradara Robin Hardy ini bercerita tentang seorang Sersan Howie (Edward Woodward) dari Kepolisian West Highland yang mendapatkan surat untuk menyelidiki hilangnya gadis bernama Rowan Morrison di pulau terpencil bernama Summerisle. Anehnya, ia datang jauh-jauh dari West Highland ke Summerisle ini hanya karena ada surat tanpa nama yang memohonnya menyelidiki anak yang hilang tersebut.


Sersan Howie (Edward Woodward) dari Kepolisian West Highland menyelidiki hilangnya gadis bernama Rowan Morrison di pulau terpencil bernama Summerisle
Keanehan nggak berhenti sampai di situ saja, ketika di Summerisle, semua orang yang ditanya Howie tak ada yang tahu kalau gadis bernama Rowan Morrison menghilang. Hal itu tentu tidak wajar, karena Summerisle itu pulau kecil dan penduduknya tidak banyak, jadi tentu setiap orang yang mendiami Summerisle mengenal satu sama lain. Nggak cuma itu, ketika Howie mengunjungi kantor pos milik May Morrison, mereka juga bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tidak ada anak putrinya yang hilang. Bahkan salah satu anak keluarga Morrison mengatakan bahwa Rowan Morrison adalah seekor kelinci.

Menyadari belum bisa kembali dari Summerisle karena penyelidikannya belum selesai, Howie akhirnya menginap di sebuah motel bernama Green Man Inn. Di motel tersebut banyak pria termasuk putri pemilik motel bernama Willow (Britt Ekland) saling bernyanyi dan berdansa. Nggak cuma itu, Howie juga melihat ada seorang pria yang dipersembahkan Lord Summerisle (pemimpin pulau Summerisle) untuk bereksperimen ena-ena dengan Willow, bahkan para pria di lantai bawah motel ikut bernyanyi dan menghadap ke kamar Willow, seolah sengaja bernyanyi mengiringi kegiatan ena-ena mereka. Tak hanya di dalam kamar, banyak pasangan muda-mudi saling ena-ena massal berjamaah di lapangan terbuka. Tentu saja hal ini mengusik jiwa Howie yang diceritakan sebagai sosok yang religius. Sinting! Saya yang cuma nonton aja langsung stres apalagi Howie.

Willow (Britt Ekland)
Film ini sangat horor menurut saya. Kita digiring perlahan-lahan untuk mengetahui bahwa ada yang tidak beres di pulau Summerisle. Misteri tidak hanya tentang hilangnya Rowan Morrison, tapi perilaku "tidak wajar" yang dilakukan oleh penduduk Summerisle. Semua orang di Summerisle melakukan hal yang menurut Howie aneh dan tidak wajar, tapi justru mereka memandang aneh Howie yang seorang religius. Bahkan menjadikannya seperti lelucon.

Menonton film ini, mau nggak mau saya jadi membandingkan dan teringat dengan film Midsommar yang tayang tahun 2019 lalu. 

Baca juga: Review Film Midsommar (2019)

Di Summerisle isinya orang menari, bernyanyi, bercocok tanam dan...bereproduksi
Di Midsommar dan The Wicker Man sama-sama banyak orang suka menari, bernyanyi bahkan sambil telanjang bulat di lapangan terbuka, dan juga ada festival May Day di The Wicker Man yang membuat saya ingat festival serupa yang ada di Midsommar. Bahkan, di penginapan yang ditinggali Dani selama di desa Harga pada film Midsommar juga terdapat foto-foto May Queen, hampir mirip dengan adegan di film The Wicker Man yang juga ada adegan Howie melihat foto gadis-gadis pada setiap acara May Day.


The Wicker Man sukses menyajikan cerita mencekam akan teror justru dari manusia biasa, bukan berwujud makhluk halus atau monster. Bahkan The Wicker Man sama sekali nggak ada adegan gore berdarah-darah tapi tetap bisa bikin saya merinding sampai sekarang. Akhir cerita film ini juga dikemas secara apik dan memuaskan. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penduduk Summeisle juga sangat enak didengarkan sekaligus bikin makin creepy.

Nah buat kamu yang belum nonton, saya sarankan untuk nonton deh, apalagi yang seneng sama Midsommar. Please, saya nggak mau gelisah sendirian gara-gara nonton The Wicker Man! Kalau yang udah nonton, cerita dong gimana rasanya nonton The Wicker Man, apakah sama-sama gelisah kayak saya ini huhu. (*)

Sumber gambar: Imdb.com

Review Film: Teeth (2007)

2 comments
Review Film: Teeth (2007) Indonesia via Imdb.com

Sebetulnya, saya sudah nonton film ini sejak tahun 2016 hehe, tapi suatu ketika, di twitter ada akun @tomspr yang kembali membahas film Teeth ini, wah saya jadi pengin nonton lagi deh hehe.


Sebelum itu, saya tahu film ini saat asyik baca blog milik sinefil terkenal di twitter yang kerap disebut sebagai Pseudony, Dony Iswara atau siapa itu hehe soalnya saya tidak begitu akrab (( A K R A B )), ini blognya btw >>> Rekomendeath.blogspot.com.

Film Teeth (2007) ini bercerita tentang seorang remaja bernama Dawn (Jess Weixler) yang aktif dalam organisasi atau komunitas bernama The Promise. Nah, perkumpulan tersebut merupakan sebuah grup yang berisi orang-orang yang memegang janji (promise) untuk tidak berhubungan intim sebelum menikah, hal itu berlaku untuk anggota laki-laki dan persempuan. Di komunitas tersebut, Dawn berkenalan dengan seorang lelaki yang juga satu sekolah dengannya bernama Tobey (Hale Appleman). Memiliki prinsip dan pandangan hidup yang sama, serta sama-sama masih puber, tidak butuh waktu lama akhirnya Tobey menaruh hati kepada Dawn. 

Dawn ikut komunitas The Promise yang berjanji tidak akan berhubungan seks sebelum menikah | via diaboliquemagazine
Layaknya seorang wanita puber seusianya, Dawn mulai bereksplorasi mengenai tubuhnya, termasuk organ reproduksinya. Meski begitu, Dawn tetap mengendalikan diri karena telah terikat janji bahwa tidak akan bercinta sebelum menikah. Meski begitu, layaknya manusia biasa, Dawn akhirnya tergoda untuk melakukan hubungan intim dengan Tobey karena sangat terobsesi dan penasaran.

Dawn lagi mabuk asmara | via tinyzone
Nah di sini lah masalah mulai terlihat. Dawn sebetulnya ingin melakukan, tapi dia tetap memiliki kesadaran bahwa hal tersebut dilarang. Karena Tobey sedang "on" banget, sedangkan Dawn mulai menolak, maka itu artinya tidak ada consent dari Dawn untuk melakukannya. Tobey yang terus memaksa hingga Dawn panik, akhirnya terjadilah sesuatu yang tidak terduga, Tobey tiba-tiba bersimbah darah karena "Mr.P"-nya putus.

Melihat hal tersebut, tentu Dawn jadi makin panik, apalagi hal itu baru pertama kali ia lakukan. Ia pun mencari tahu di internet, dan akhirnya ketemu sebuah artikel mengenai mitos V*g*na Dentata, yaitu miss v yang memiliki gigi.


Berbekal rasa penasaran, akhirnya Dawn memeriksakan kondisinya tersebut ke sebuah klinik. Nahasnya, dokter yang menanganinya adalah seorang laki-laki dan lagi-lagi, ingin "iseng" saat memeriksa kondisi miss v-nya. Tentu saja hal ini tidak disertai consent Dawn, yang berakibat jari-jari dokter tersebut akhirnya putus saat nekat dimasukkan ke miss v Dawn.


Film bergenre horor, komedi sekaligus fantasi ini sukses bikin saya ngakak, tapi kalau saya lihat di review-review yang lain katanya pada ngilu hehe. Meski cuma meraih rating sebesar 5.4 di Imdb, tapi film ini menurut saya tetap nyaman buat ditonton. Terlepas dari hal tersebut, film ini sebenarnya mengajarkan kita pentingnya consent atau persetujuan mau sama mau saat melakukan hubungan selayaknya suami istri. Ya, daripada putus atau "putus"...hehe.



Nah kira-kira gimana nasib Dawn, Tobey dan dokter nakal itu selanjutnya? Apakah Dawn tidak bisa mengatasi "masalah"-nya tersebut? Nah daripada penasaran, coba kamu juga nonton deh! (*)

Review Film: Swallow (2019)

Leave a Comment
Review Film: Swallow (2019) Indonesia via twitter.com/bluefinchfilms

Film besutan sutradara Carlo Mirabella-Davis ini bercerita tentang Hunter (Haley Bennett), seorang ibu rumah tangga yang menikah dengan pria dari keluarga kaya raya, bernama Richie (Austin Stowell). Tanpa harus bekerja, Hunter hidup di rumah mewah yang nyaman, sambil mengurus urusan rumah tangganya. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, hingga berkebun.



Hunter memang diceritakan sebagai sosok wife material banget, kalem anggun dan terobsesi ingin membahagiakan sang suami. Kehidupan mereka pun semakin bahagia karena Hunter dinyatakan positif hamil.

"Do i make you happy?"

Meski begitu, di film ini juga terlihat bahwa Hunter tampak sangat kesepian. Ketika makan malam di rumah, sang suami tetap sibuk dengan smartphone-nya mengurusi urusan pekerjaan, bahkan saat mereka berkumpul dengan keluarga suaminya, Hunter tetap tidak mendapatkan perhatian. Mertuanya juga kerap berkata pada Hunter bahwa dia harusnya bersyukur dan berterimakasih serta merasa beruntung dapat menikah dengan suaminya.



Setelah hamil, Hunter semakin tidak memiliki kontrol atau kendali dalam keluarganya bahkan dirinya. Hal ini tentu membuat ia semakin stres sehingga memunculkan obsesi baru yang membuatnya tetap dapat memegang kendali, yaitu menelan berbagai macam benda. Mulai dari kelereng, baterai, bahkan kertas dari buku yang diberikan mertuanya.

Menurut saya, film ini sepertinya cocok dengan bayangan horor saya tentang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan dan harus di rumah. Ibu rumah tangga yang tidak dapat bekerja, harus memanjakan suami, dan tidak boleh membantah suami serta mertuanya. Hal ini tentu bikin stres dan yes, ini horor banget. Siapa yang tidak takut kalau kehilangan kendali bahkan kontrol akan diri kita sendiri? Saat mertua berani mengkritik gaya rambut kita dengan alasan anaknya tidak suka, it is blow my mind. 

Swallow sukses bikin saya ngeri sekaligus jadi inget film The Invisible Man yang baru saya tonton. Sama-sama tentang seorang wanita yang ingin melepaskan kendali suami atau kekasihnya yang abusive dan menyebalkan. Swallow dan The Invisible Man juga sama-sama menghadirkan sosok suami atau kekasih yang menginginkan sang wanita untuk kembali kepadanya, agar bisa kembali mengendalikan kehidupannya.

Worth to watch! Selamat menonton. (*)

Sumber gambar: imdb.com dan twitter.com/bluefinchfilm

Review Film: Parasite (2019)

5 comments
Review Film: Parasite (2019) via Imdb.com
Film drama keluarga bergenre thriller komedi yang disutradarai oleh Bong Joon Ho ini berkisah tentang keluarga Kim Ki-Taek (Kang-ho Song) yang miskin karena semua anggota keluarganya menganggur dan hobi numpang wifi agar tetap bisa chatting/telpon tanpa harus bayar. Hidup di rumah yang letaknya nyaris di bawah tanah, mereka bertahan hidup dengan bekerja sebagai tukang melipat kotak wadah pizza. Kim Ki-Taek dan sang istri, Kim Chung Sook (Jang Hyejin) memiliki dua orang anak, Kim Ki-Woo (Woo-sik Choi) dan Kim Ki-Jung (So-dam Park) yang keduanya tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena tidak memiliki biaya. Komplit sudah, mereka tidak memiliki pekerjaan, dan sang anak tidak memiliki kesempatan untuk berkuliah. 

Keluarga Kim Ki-Taek yang miskin via imdb.com
Suatu ketika, teman Ki Woo bernama Min Hyuk datang dan memberikan sebuah batu peninggalan kakeknya kepada keluarga Kim Taek. Ki Woo pada saat itu juga bercerita kepada Min Hyuk bahwa dirinya tak bisa melanjutkan kuliah karena biaya. Mendengar hal tersebut Min Hyuk menyerahkan pekerjaannya sebagai guru les privat bahasa Inggris anak keluarga Park kepada Ki Woo karena dia harus kuliah di luar negeri. Pekerjaan tersebut dinilainya cukup bagus karena “hanya” mengajari tentang bahasa Inggris, dan gajinya banyak mengingat keluarga Park dikenal sebagai keluarga yang kaya raya. 

Tergiur dengan upah yang banyak, akhirnya Ki Woo melakukan rekayasa sedemikian rupa bahwa dia adalah lulusan perguruan tinggi ternama. Ia juga berhasil meyakinkan istri Park Dong-ik (Sun-kyun Lee) yaitu Park Yeon-kyo (Yeo-jeong Jo) untuk mempekerjakannya sebagai guru les anaknya, Park Da Hye (Ji-so Jung). 

Kim Ki Woo menjadi guru les bahasa inggris anak keluarga Park
Mengetahui sangat mudah diterima untuk bekerja di rumah keluarga Park, yaitu hanya dengan rekomendasi, Ki Woo jadi memiliki ide untuk membuat semua anggota keluarganya agar bisa bekerja di rumah keluarga Park juga. Mereka sekeluarga bekerjasama menghalalkan segala cara termasuk menyingkirkan pembantu lama keluarga Park agar bisa bekerja di rumah tersebut, yang dikemas secara menarik dan kocak banget. Berkat sandiwara keluarga Kim Ki Taek yang bisa dikatakan sempurna, keluarga Park tidak tahu bahwa pekerja yang bekerja di rumahnya adalah satu keluarga. Keluarga Kim Ki Taek bagaikan parasit yang baru saja mendapatkan tempat enak untuk menghisap kekayaan inangnya, yaitu keluarga Park. 

Kim Ki Taek bagaikan parasit yang baru saja mendapatkan tempat enak untuk menghisap kekayaan inangnya, yaitu keluarga Park via imdb.com
Di film ini, sutradara Bong Joon Ho yang sebelumnya telah sukses menyutradarai berbagai film seperti Memories of Murderer, OkJa, Snowpiercer, juga berhasil mengemas Parasite menjadi sebuah film yang mengandung makna kritik social di dalamnya. Film Parasite menceritakan perbedaan antara golongan menengah ke atas seperti keluarga Park dengan orang miskin, yaitu keluarga Kim Ki Taek. Park Dong-ik diceritakan sebagai seorang arsitek yang sukses dan memiliki banyak harta, sedangkan Kim Ki Taek sebaliknya, yaitu seorang pengangguran. Meski begitu, anggota keluarga Kim Ki Taek sebenarnya juga tetap punya keahlian, seperti Ki Woo yang pintar berbahasa Inggris, adiknya, Ki Jung yang berbakat di bidang seni (atau di bidang pemalsuan ya hehe), dan istri Kim Ki Taek yang merupakan mantan atlet. Saya setuju dengan review dari Bogi Yuniar Rachman di Mediumnya, ia mengatakan bahwa parasit yang mengancam masyarakat bukanlah pengangguran, tapi parasit yang sebenarnya tumbuh adalah tidak meratanya kesempatan. Keluarga miskin juga tetap ingin hidup dengan bekerja apapun, begitu pula orang-orang kaya, tapi keluarga miskin ini tidak mendapatkan kesempatan yang sama yang seringkali menjadi privilege orang kaya.

Film Parasite kali ini juga menyinggung masalah batas. Batasan antara orang kaya dan orang miskin. Di film diceritakan bahwa Park Dong-ik curhat masalah ini kepada istrinya. Ia tetap bersikap seperti biasa kalau saja pekerja rumahnya tidak melampaui batas. Sayangnya, bau badan Kim Ki Taek yang menjadi supir keluarga Park justru melampaui batas, karena baunya bahkan tercium sampai jok belakang mobil Mercedes tempat duduk Park Dong-ik dan istrinya.

Bau badan Kim Ki Taek melampaui batas sampai tercium di jok belakang mobil keluarga Park
Berbicara permasalahan batas, saya jadi ingat salah satu bab berjudul Tiada Keadilan dalam Sejarah di buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, Sapiens. Dalam buku ini Yuval Noah Harari berpendapat bahwa untuk mengorganisasi diri dalam jaringan kerjasama masal, manusia membentuk sebuah tatanan atau hierarki sosial yang imajiner. Hierarki sebenarnya memiliki sebuah fungsi yaitu memungkinkan orang-orang yang tidak saling mengenal tahu bagaimana cara memperlakukan sesama manusia tanpa membuang-buang waktu dan energi yang dibutuhkan untuk mengenalnya secara pribadi dan tentunya lebih dalam.

“Sebagian besar orang mengklaim bahwa hierarki sosial mereka adalah alamiah sedangkan di masyarakat lain didasarkan pada kriteria-kriteria palsu yang menggelikan. Orang-orang Barat modern diajari untuk mencela pemikiran tentang hierarki rasial. Mereka terguncang oleh hukum yang melarang kulit hitam hidup dalam perkampungan kulit putih, belajar di sekolah-sekolah kulit putih, atau dirawat di rumah sakit kulit putih. Namun, hierarki kaya dan miskin—mandat yang membuat orang kaya hidup di perkampungan terpisah dan lebih mewah, belajar terpisah di sekolah-sekolah yang lebih prestisius, dan menerima perawatan medis terpisah di fasilitas-fasilitas kesehatan dengan perlengkapan lebih baik—tampak sangat masuk akal bagi banyak orang Amerika dan Eropa. Meskipun demikian, sudah terbukti bahwa kebanyakan orang kaya adalah karena sebab sederhana, bahwa mereka dilahirkan dalam keluarga kaya, sedangkan orang miskin tetap miskin sepanjang hidup karena dilahirkan dalam keluarga miskin.

Tatanan- tatanan yang diimajinasikan pemelihara jaringan-jaringan itu tidaklah netral dan tidak pula adil. Tatanan-tatanan itu membagi orang ke dalam kelompok-kelompok seolah-olah, yang disusun dalam suatu hierarki. Tingkatan-tingkatan atas menikmat hak- hak istimewa, sedangkan tingkatan-tingkatan bawah tertimpa diskriminasi dan penindasan. Undang-Undang Hammurabi, misalnya, menciptakan tata tingkatan golongan kelas atas, orang biasa, dan budak. Kelas atas mendapatkan semua kebaikan dalam hidup. Orang biasa mendapatkan sisanya. Budak mendapat pukulan jika mengeluh.” Yuval Noah Harari – Sapiens

Dengan adanya batas antara orang kaya dan miskin, kesempatan yang diterima tiap individu tentu juga tidak sama. Setiap orang pasti ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, tapi jika ada yang berani melampaui batas maka akan dihukum. Ki Woo dan Ki Jung tidak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik karena keterbatasan ekonomi, yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. Film Parasite ini juga sepertinya cukup bagus untuk memberikan kita gambaran tentang apa yang dirasakan orang kaya dan orang miskin.

Itu saja dulu review saya hehe maaf panjang banget ya, mari lanjut belajar dan bekerja mumpung punya dan diberi kesempatan, karena kalau kita malas kita akan semakin miskin dan nggak bisa protes persoalan privilege lagi hehe. (*)

Review Film: When Marnie Was There (2014)

2 comments
Review Film: When Marnie Was There (2014) via imdb.com
Setelah menonton Spirited Away, sejujurnya saya takut untuk menonton film animasi lainnya dari Studio Ghibli. Ya, saya takut kalau film animasi yang lain kalah bagus dari Spirited Away yang menurut saya sangat sempurna bahkan sukses bikin saya menangis karena terharu, ya sebagus itu, sekali lagi...menurutku loh ya. Saya juga takut kalau nonton film malah ketiduran karena pace-nya sangat lambat, terakhir saya ketiduran adalah…saat menonton ulang film Midsommar pas siang hari panas-panasnya. Tapi, karena akhir-akhir ini saya bosan nonton mufinya itu-itu mulu karena nggak bisa move on dari film yang bagus, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat daftar film-film apa saja yang harus saya tonton, termasuk film animasi. Nah kali ini saya akan mereview When Marnie Was There yang saya tonton beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga: Review Spirited Away

When Marnie Was There, film animasi karya sutradara Hiromasa Yonebayashi dari Studio Ghibli yang rilis pada tahun 2014 ini berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Anna yang hobi menggambar namun sangat pendiam, tidak memiliki teman di sekolah, selalu menyendiri dan membenci dirinya sendiri.

Anna memilih menyendiri dan selalu menarik diri dari lingkungannya
Ia juga terlihat unik karena memiliki bola mata berwarna biru, dan berambut kecokelatan, berbeda dengan anak-anak Jepang pada umumnya. Anna yang diketahui memiliki penyakit asma ini juga terlihat menarik diri dari keluarganya dan selalu memasang wajah tanpa ekspresi. Hal ini tentu membuat orangtuanya khawatir, meski antara Anna dan orangtuanya tidak memiliki hubungan darah. Melihat hal itu, dokter yang menangani Anna menyarankan agar Anna dikirim ke suatu tempat sehingga cepat sembuh. 

Singkat cerita, Anna dikirim ibu tirinya untuk tinggal bersama paman dan bibi Oiwa, dengan alasan udara di daerah tersebut masih baik dan dipercaya dapat membantu menyembuhkan penyakit asma yang ia derita. Ternyata hal yang dikatakan Paman Oiwa benar, di daerah tersebut terdapat rawa, perbukitan, silo tempat menyimpan pakan ternak yang akhirnya dijadikan tempat uji nyali anak-anak di desa dan pemandangan alam yang indah yang tentunya membuat Anna mendapatkan udara yang (lebih) segar. 

Udara yang segar dipercaya dapat menyembuhkan penyakit asma yang diderita Anna
Anna juga menemukan spot favorit baru untuk menggambar, yaitu di tepi rawa. Dari tempat tersebut Anna bisa melihat sebuah rumah berukuran besar yang terus menarik perhatiannya. Ia bahkan sampai berani mendekati rumah tersebut yang ternyata sudah kosong dan tidak diurus. 

Rumah yang ada di tepi rawa selalu mencuri perhatian Anna
Meski begitu, Anna terus memimpikan rumah itu, termasuk penghuninya, seorang gadis seusia dengan dirinya yang memiliki rambut berwarna blonde dan bola mata berwarna biru. Hingga suatu ketika Anna akhirnya bisa bertemu dengan gadis tersebut, yang diketahui bernama Marnie. 

Marnie saat pertama kali menemui Anna
Marnie meyakinkan Anna bahwa ini bukanlah mimpi, tapi Marnie memohon hubungan antara mereka berdua harus rahasia dan tidak boleh ada yang mengetahuinya. Melihat adegan ini saya jadi ingat peraturan dari Mayhem Project di film Fight Club, “1st rule: You don't ask questions about Project Mayhem. 2nd rule: You don't ask questions about Project Mayhem." 

Hehe.

Dari sini, dimulailah perjalanan persahabatan antara Anna dan Marnie, persahabatan yang jalan kalau Marnie-nya nongol. Soalnya, rumah rawa itu kan sebenarnya sudah kosong, tapi entah kenapa kadang-kadang rumah tersebut rame, ada pesta termasuk ada orangtua Marnie juga. Saya yang nonton film ini malem-malem jadi merinding, jadi membayangkan kalau tiba-tiba Marnie buka topeng, terus keluar makhluk cewek kayak di manga-nya Junji Ito. 


Sosok Marnie yang sangat misterius memancing Anna untuk menyelidikinya lebih jauh. Seiring dengan penyelidikannya kepada sosok Marnie, Anna juga belajar dan semakin mengetahui rahasia di balik kehidupannya yang sebelumnya ia benci. Sosok Marnie membuatnya tersadar bahwa kehidupan tak lagi memuakkan seperti yang ia rasakan sebelumnya, dan ternyata hubungannya dengan Marnie tak lagi sederhana sekadar kasih sayang antara teman. 


Menonton film ini membuat saya makin menyukai film-film dari Studio Ghibli. Film When Marnie Was There yang dibuat tahun 2014 ini tetap mempertahankan gaya serta scoring khas dari Ghibli lengkap cerita yang menyentuh serta dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film ini juga bikin saya susah move on seperti setelah saya nonton Spirited Away.

Nah, itu tadi review sedikit dari saya tentang film When Marnie Was There, menurutmu gimana nih? Boleh tulis di kolom komentar ya! (*)

Review Film: The Hustle (2019)

Leave a Comment

Review Film: The Hustle (2019)  via Imdb.com

The Hustle, film yang rilis tahun 2019 karya sutradara Chris Addison ini bercerita tentang dua orang wanita yang berprofesi sebagai penipu yang ulung. Penny Rust yang diperankan oleh Rebel Wilson di film ini menjadi seorang penipu kelas teri. Ia menipu pria-pria mesum dengan trik murahan seperti chatting dan mengirimkan foto wanita berambut blonde seksi yang tentunya ia klaim sebagai foto dirinya. Tentu saja saat mereka ketemuan, atau istilah jadulnya yaitu kopdar (kopi darat bukan Ngopi Dara), si pria akan kecewa karena fisik Penny yang sangat jauh dari foto yang selama ini ia kirimkan. 

Penny (Rebel Wilson) sedang kopdaran dengan seorang pria yang telah chatting bersamanya selama sebulan
Meski begitu, Penny tak kalah akal dengan beralasan bahwa yang difoto tersebut merupakan saudarinya yang malu bertemu pria tersebut karena dadanya berukuran kecil sehingga butuh uang sebesar 500 dolar AS agar bisa memenuhi ekspektasi pria tersebut. Belum selesai “bertransaksi”, tiba-tiba Penny dikejar rombongan polisi sekaligus pria yang telah ia tipu sebelumnya. Sementara itu, di Perancis, Josephine Chesterfield (Anne Hathaway) yang juga berprofesi sebagai penipu papan atas ini tampil elegan dalam balutan gaun backless, lengkap dengan riasan memukau dan berhasil memikat pria beristri untuk menyerahkan perhiasan istrinya. 

Josephine Chesterfield (Anne Hathaway) sedang asyik mengeluarkan trik tipuannya untuk mendapatkan harta dari pria beristri yang ia temui
Singkat cerita, Josephine akhirnya bertemu dengan Penny yang ingin mengunjungi Perancis karena ia mengetahui bahwa di negara tersebut banyak pria-pria kaya yang dapat ia hisap kekayaannya. Adegan Peny dan Josephine bertemu di kereta juga menjelaskan perbedaan “kelas” antara mereka berdua. Penny membawa tas ransel dan tas gunung, sedangkan Josephine tampil elegan dengan tas Hermes Birkin. 
Dua orang penipu profesional secara kebetulan bertemu, yang satu kelas teri yang satu kelas kakap
Josephine yang telah mengetahui bahwa Penny adalah seorang penipu, akhirnya menjebak Penny agar tak sampai di wilayah tempat dia “beraksi”. Malang bagi Josephine, Penny justru berhasil sampai di lokasinya yaitu di Beaumont-sur-Mer dengan menipu pria yang sedang menjadi target Josephine. 

Dua orang penipu yang berada di lokasi yang sama, tentu akan membuat pekerjaan Josephine menjadi lebih berat. Yup, dengan adanya saingan, Josephine tentu berpikir pendapatannya akan menurun karena skill Penny dalam menipu orang sangat cerdik dan licik. 

Kehadira Penny di daerah tempat beraksi Josephine tentu mengusik dirinya karena Penny sangat ahli dalam menipu pria-pria tajir
Oleh karena itu, Josephine akhirnya membuat berbagai cara licik dan perlombaan agar bisa menyingkirkan Penny dari kota tempat ia beraksi. Di sinilah mereka akhirnya berlomba untuk menjadi penipu yang paling ahli dengan menargetkan seorang pria yang di film ini diceritakan sebagai seorang programmer aplikasi smartphone bernama Thomas Westerburg (Alex Sharp).

Penny dan Josephine bersaing untuk menjadi penipu yang paling cerdik dan bisa memenangkan perlombaan antara mereka berdua

Mengingat film ini adalah bergenre komedi dan female-centered remake dari film berjudul Dirty Rotten Scoundrels (1988), lengkap dengan cast seperti Anne Hathaway serta Rebel Wilson yang terkenal kocak, membuat saya berharap lebih terhadap The Hustle. Yah paling nggak, saya berharap komedinya bikin ngakak seperti saat saya menonton film Rebel Wilson sebelumnya, seperti How To Be A Single dan Pitch Perfect. Pada awal film, saya lumayan terhibur dengan tingkah Penny saat meluncurkan trik tipuannya, tapi saat mulai perkenalan tokoh Josephine, menurut saya film ini jadi makin nggak masuk dengan selera humor saya. Selain itu, akting Anne Hathaway di film komedi seperti The Hustle ini terlihat kaku yang membuat film ini jadi terasa makin garing. 


Lalu bagaimana nasib mereka, siapa yang nanti akan lebih unggul, apakah Penny atau Josephine? Lebih baik kamu tonton dulu deh daripada saya bocorin di sini, hehe. Ya, itung-itung yang ketawa garing nggak cuma saya saja. 

Selamat menonton, tapi kalau garing jangan salahin saya ya, protes saja sama filmnya, hehehe. (*)