Hello!
My name is Justina Landhiani

Writer // Thanks for taking a look at my blog

Review Film: Happy Birthday To Me (1981)

2 comments
Review Film: Happy Birthday To Me (1981) Indonesia

Film horor Happy Birthday To Me (1981) garapan sutradara J. Lee Thompson, mengisahkan tentang Virginia Wainwright (Melissa Sue Anderson), seorang remaja yang baru saja kembali ke sebuah private school yaitu Crawford Academy setelah berhasil selamat dari kecelakaan maut yang menewaskan ibunya, serta sembuh dari operasi otak. Usai kembali lagi bersekolah, dia juga berhasil menjadi anggota kelompok elit di Crawford Academy, yang tentunya beranggotakan murid-murid high class. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Virginia kembali ke Crawford Academy

Seperti siswa kelompok elit pada umumnya, saat malam hari tentu mereka juga kerap hang out bersama di bar, kalau zaman sekarang ya mungkin buat konten Story di Instagram mungkin ya hehe. Di pembukaan film kita sudah diperlihatkan sebuah konflik, yaitu salah satu siswa elit yang bernama Bernadette O'Hara (Lesleh Donaldson) tiba-tiba dicekik dari belakang saat dirinya akan mengendarai mobilnya. Beberapa saat setelah dia berhasil melarikan diri, terlihat bahwa Bernadette bertemu dengan seseorang yang ia kenal. Tapi, sosok yang mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam itu justru mengeluarkan pisau yang digunakan membunuh Bernadette.

Bernadette melihat pembunuh tersebut seperti orang yang ia kenal

Sementara itu, para siswa elit telah berkumpul di bar, dengan Virginia yang terakhir muncul sebelum Alfred Morris (Jack Blum). Jika kamu memerhatikan dengan cermat, Virginia ini juga mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam, mirip dengan yang dikenakan si pelaku pembunuhan Bernadette. Singkat cerita, karena keadaan di bar makin chaos (ya gara-gara mereka sendiri sih), akhirnya mereka berlomba menyeberang jembatan meski jembatan tersebut akan dibuka agar bisa dilewati kapal. Salah satu mobil dari siswa elit tersebut ada yang nekat menyeberang jembatan, padahal jembatannya udah dibuka tinggi banget, dan membuat mobil yang mereka tumpangi jatuh. Virginia yang ikut menumpang di mobil tersebut tentu merasa kaget. Hal ini karena "permainan" tersebut merupakan hal yang belum pernah ia lakukan. Virginia yang langsung ngambek kemudian berlari menuju makam ibunya yang terletak di dekat rumahnya, di dekat TKP tempat mobil mereka jatuh. 

Setelah peristiwa tewasnya Bernadette, satu persatu anggota siswa elit ini mulai menghilang misterius, yang membuat pihak Crawford Academy mulai menyelidiki kasus-kasus tersebut. 

Satu persatu teman Virginia menghilang dan tewas secara misterius

Nggak cuma itu, Virginia yang diketahui sedang dalam proses pemulihan cedera dan kehilangan sebagian memorinya setelah kecelakaan tahun lalu, tiba-tiba diserang perasaan ketakutan dan bersalah. Takut kalau semua itu terjadi karena ulah dirinya. Tapi, pembunuhan ini terus berlanjut bahkan sampai hari ulang tahunnya yang nantinya penonton akan diberikan kejutan atau twist akan identitas pelaku dan motifnya.

Virginia yang kehilangan sebagian ingatannya merasa takut, jangan-jangan ia yang menyebabkan temannya hilang secara misterius

Film Happy Birthday To Me (1981) ini sebenarnya cukup menarik dan membuat saya penasaran hingga akhir film, cuma ada beberapa bagian yang bikin bingung, seperti adegan flashback yang agak nyaru dengan adegan sebelum atau sesudahnya. Twist di akhir film sebetulnya juga cukup make sense, karena mulai di awal film sudah banyak clue yang disajikan. Tapi mungkin saya merasa agak janggal dengan trik si pelaku, mengingatkan dengan trik yang sering digunakan Vermouth di anime atau komik Detektif Conan hahaha. 


Meski begitu, film ini tetap asyik ditonton, apalagi buat kamu yang lagi ulang tahun. Well selamat menonton! (*)

Review Film: The House of The Devil (2009)

3 comments
Review Film: The House of The Devil (2009)

Awal menemukan film The House of The Devil (2009) ini sebenarnya tidak sengaja, yaitu saat saya mencari film tentang babysitter yang pernah saya tonton di Trans TV hehe. Tapi yang saya tonton waktu itu settingnya jauh lebih modern, seperti telah menggunakan laptop untuk mengerjakan paper, dan rumahnya juga sudah bergaya modern. Ceritanya tentang seorang cewek yang jadi babysitter, kemudian dia diteror dengan telepon yang selalu berdering di rumah tersebut. Sampai sekarang film itu masih misterius untuk saya, alias belum ketemu judulnya. Kalau kamu tahu, bisa kasih tahu judulnya di komentar yaa, terimakasih!

Film horor The House of The Devil (2009) yang disutradarai oleh Ti West ini bercerita tentang seorang mahasiswi yang ekonominya lagi pas-pasan bernama Samantha Hughes (Jocelin Donahue) yang sedang berusaha mendapatkan uang untuk menebus biaya sewa rumahnya yang baru, yaitu sebesar 300 dolar AS. Soalnya si Samantha ini punya roomate nyebelin dan berantakan, bahkan suka ena-ena sampai pagi, jadi mungkin Samantha sebel akhirnya mau nggak mau harus cari rumah baru.

Samanta Hughes (Jocelin Donahue)

Seperti kampus pada umumnya, papan iklan tentu menjadi spot favorit yang kerap dituju mahasiswa pencari lowongan kerja sampingan atau beasiswa. Di sini, Samantha Hughes melihat info lowongan kerja sebagai babysitter, lengkap dengan nomor yang bisa dihubungi. Meski tak menyukai anak-anak, hal ini harus ia lakukan karena Samantha sama sekali tidak punya uang untuk membayar uang sewa rumah. Sialnya, saat dihubungi dan janjian di suatu tempat, si pemberi kerja ini malah mangkir dan membuat Samantha bosan setengah mati hingga ketiduran di jalan. Untungnya Samantha punya sahabat baik bernama Megan (Greta Gerwig) yang mau menemaninya makan dan selalu menghiburnya. 

Samantha nungguin sampai kering, tinggal dibalik aja ni biar mateng merata

Singkat cerita, si pemberi pekerjaan ini akhirnya menghubungi Samantha dan menyesal karena tadi PHP-in dia hehe. Megan yang khawatir dengan sahabatnya, akhirnya menemani Samantha bahkan memaksa agar bisa ikut menemaninya bekerja di rumah tersebut. Hal ini, karena pekerjaan sebagai babysitter tersebut lokasi rumahnya terletak di daerah terpencil.

Samantha dan Megan di ruang tamu Pak Ulman

Keanehan mulai terjadi saat Samantha tiba di rumah Pak Ulman, yang mempekerjakan Samantha. Pak Ulman ternyata tidak setuju jika Samantha membawa teman yang akan menemaninya bekerja di rumah tersebut. Nggak cuma itu, ternyata yang dijaga ini bukan anak-anak, tapi ibunya Pak Ulman. Pak Ulman beralasan bahwa tentu susah kalau mencari lowongan penjaga orang tua, oleh karena itu, dia bikin click bait nih iklannya, biar kejebak hehe. 

Jadi dek Samantha, aku tuh suka bikin postingan click bait, kata Pak Ulman dengan muka tanpa dosanya

Samantha yang mengetahui dirinya tidak memiliki kemampuan untuk menjaga orang tua tentu menolak, takut nanti kenapa-napa. Tapi Pak Ulman bersikeras, bahwa yang penting Samantha menjaga di rumah saja selama ia dan istrinya pergi nonton gerhana, karena ibunya juga nggak ngerepotin. Nggak cuma itu, Samantha juga diberi bayaran sangat besar yaitu 400 dolar AS hanya untuk menjadi babysitter dalam waktu 4 jam saja. Karena memang lagi kepepet, mau nggak mau Samantha akhirnya menyetujui kesepakatan tersebut.

Megan yang mengetahui hal itu tentu marah dan kecewa. Karena dia tahu betul bahwa ada sesuatu yang aneh, sampai-sampai seorang babysitter rela mereka bayar dengan upah yang tinggi. Meski begitu, Megan tetap mengiyakan keputusan sahabatnya, sembari dirinya berhenti di sebuah pemakanan untuk menunggu jam kerja Samantha habis, kemudian menjemputnya.

Selama ditinggal Pak Ulman dan istrinya, Samantha melakukan apapun untuk mengusir rasa kebosanannya. Hingga suatu ketika, Samantha nggak sengaja nemu foto keluarga yang sedang berpose di mobil Volvo, yang diparkirnya di depan rumah ini. Tapi, keluarga di dalam foto tersebut bukanlah Pak Ulman dan istrinya. Di sinilah ketegangan film ini mulai naik yang akhirnya ditutup ending yang apik, khas film-film era 1970-1980an.


Film The House of The Devil ini sebetulnya keluaran tahun 2009, tapi Ti West berhasil membuat film ini jadi tampak seperti film tahun 70-80an. Kayak nonton film The Omen, Don't Look Now, Halloween, Rosemary's Baby dan sebagainya, di mana pada era tersebut tidak ada handphone atau smartphone, terus pasti ada adegan kabel telepon putus yang bikin tokoh utama jadi makin panik. Nggak cuma itu, kita juga sering melihat Samantha menggunakan walkman mendengarkan kaset, jadi kesan retronya makin keliatan banget.


Saat saya baca review di laman The Horror Syndicate, film ini ternyata menggunakan tema "satanic panic" yang kerap digunakan sebagai plot film horor pada tahun 1970an dan 1980an, contohnya seperti Rosemary's Baby (1968). Di awal film ini juga dijelaskan bahwa film ini berdasarkan kejadian nyata yang tak bisa dijelaskan. Yaitu pada tahun 1980-an sebanyak 70 persen penduduk Amerika percaya pada keberadaan kultus setan yang kejam, sedangkan 30 persen sisanya beralasan kurangnya bukti karena pemerintah menutupi hal ini.

If something seems too good to be true, it probably is not true.

Dari film ini saya jadi menarik pesan moral, bahwa jika kita mendapatkan pekerjaan yang diberi upah terlalu berlebihan daripada jobdesc yang akan kita lakukan, itu bisa jadi pertanda kurang baik. Jadi, berhati-hatilah sebelum tanda tangan kontrak di atas materai!

Nah buat kamu yang lagi pengin nonton horor, apalagi penggemar film horor era 70 sampai 80-an, jangan lupa nonton The House of The Devil (2009) ya, selamat menonton! (*)


Review Film: It Follows (2014)

9 comments
Review Film: It Follows (2014) Indonesia

Film horor It Follows (2014) garapan sutradara David Robert Mitchell ini dibuka dengan scene seorang wanita yang tampak panik dikejar sosok tidak terlihat. Keesokan harinya, wanita ini ditemukan tewas di pantai dengan posisi ganjil atau aneh banget. Sungguh, scene pembuka yang bikin penasaran buat mengikuti keseluruhan cerita di filmnya.

Scene pembuka film It Follows (2014) aja udah begini

Kita kemudian digiring ke kehidupan seorang gadis remaja bernama Jay (Maika Monroe) yang lagi seneng-senengnya karena punya pacar bernama Hugh (Jake Weary). Selayaknya pasangan kekasih yang baru aja jadian, mereka mulai nih melakukan wakuncar (waktu kunjungan pacaran -buset tua banget saya), dengan nonton film di bioskop.

Jay sibuk makeup-an sebelum kencan dengan Hugh

Untuk membunuh rasa bosan saat antri membeli tiket, Jay dan Hugh akhirnya memutuskan untuk memainkan permainan klasik Jay, yaitu memilih secara random orang yang kita temui (tapi tidak diucapkan siapa yang kita pilih), lalu lawan mainnya harus menebak siapa orang yang kita pilih tadi. Nah, ketika giliran Hugh menebak orang yang ditunjuk Jay, dirinya malah menunjuk sosok yang sebetulnya tidak dilihat oleh Jay. Hal ini langsung membuat Hugh moodnya berubah dan memutuskan untuk pulang.

Eh ketika Hugh nunjuk orang, ternyata yang ditunjuk adalah sosok tak kasat mata

Esoknya, mereka akhirnya memutuskan kencan lagi dan kali ini mereka memutuskan untuk mantap-mantap di mobil. Eh lagi abis mantap-mantap, si Jay malah dibekep sama Hugh. Bangun-bangun, dia cuma pakai daleman doang (wah Hugh nih kan dingin yak), dan diikat di kursi oleh Hugh, untuk dijadikan umpan kepada "sosok" yang tidak terlihat. 

Jay kaget karena ketika sadar sudah dalam keadaan terikat di kursi roda

Nah ternyata nih, Hugh itu telah "tertular" usai mantap-mantap dengan wanita sebelumnya. Tapi bukan tertular PMS, Hugh ini sebetulnya jadi semacam objek pemindahan kutukan yang semula sosok tersebut mengincar wanita yang dikencani Hugh, dan kini sosok tersebut mengikuti dirinya. Agar dia bebas dari sosok tersebut, dia harus secepat mungkin mencari objek baru untuk memindahkan kutukan tersebut, kalau tidak berhasil maka nyawa Hugh akan terancam. Nah, karena Jay sudah berhubungan dengan Hugh yang sudah "tertular", maka sosok tersebut kini mengincar Jay. Hugh berpesan agar Jay tidak mati karena jika Jay berhasil dibunuh oleh sosok itu, maka sosok itu akan kembali memburu Hugh dan seterusnya.

Jay tiba-tiba diikuti oleh orang asing yang anehnya hanya dirinya yang bisa melihat sosok tersebut

Sosok ini bisa berwujud siapa saja. Bisa berwujud orang asing yang tiba-tiba berjalan lurus ke arah Jay, atau menyerupai orang yang dikenal akrab oleh Jay. Tentu hal ini membuat Jay makin depresi dan susah tidur karena selalu dikejar sosok yang mau membunuhnya. Nggak cuma itu, sosok ini juga cuma dia yang bisa melihatnya, sehingga membuat orang-orang di sekitar Jay kesulitan untuk mempercayai ceritanya.

Kelly (Lili Sepe) tidak percaya dengan cerita Jay

Meski It Follows bergenre horor, tapi film ini seolah tidak menggunakan pakem seperti yang biasa kita temui, contohnya kayak suasana yang terkesan gelap, jumpscare atau efek suara yang terlalu keras dan bikin kaget. Film It Follows justru memberikan scorring yang nyaman didengarkan, tapi tetap berhasil membuat suasana di film ini mencekam. Film It Follows (2014) ini juga jadi mengingatkan saya dengan film slasher pada umumnya, yang sering menghukum remaja-remaja yang melakukan hubungan bebas alias mantap-mantap.


Film ini juga tidak diceritakan latar dan waktunya secara pasti, karena terlihat Jay masih menggunakan telepon rumah untuk berkomunikasi, orang-orang di situ tidak ada yang menggunakan handphone atau smartphone serta TV di kamar Jay masih jadul. Tapi, mobil yang digunakan juga nggak jadul-jadul amat serta Yara (teman Jay) malah punya ebook reader berbentuk kerang yang lucu itu huhu. 

Ebook reader-nya Yara bukan Kobo atau Kindle, tapi lucu gini, pasti dikira cushion kalau dimasukin di pouch makeup

Btw, ngeri juga ya kalau kita di film It Follows (2014), nggak hanya dihantui STD alias PMS, tapi juga takut jangan-jangan pasangan kita hanya menjadikan kita sebagai sosok objek buat memindahkan kutukannya.

Nah itu tadi review singkat tentang film It Follows (2014), selamat menonton! (*)

Review Film: Sleepaway Camp (1983)

8 comments
Review Film: Sleepaway Camp (1983) Indonesia

Film horor Sleepaway Camp (1983) garapan sutradara Robert Hiltzik ini dibuka dengan adegan sekelompok remaja yang sedang asyik liburan musim panas sambil bermain kapal boat. Seperti remaja pada umumnya, mereka ingin terlihat keren, menantang adrenalin dengan membuat kapalnya melaju sangat kencang yang menyebabkan mereka tidak tahu kalau ada keluarga (yang terdiri dari bapak, anak laki-laki dan perempuan) sedang berenang di tepi pantai. Alhasil, kapal yang ditumpangi remaja tersebut secara brutal tanpa sengaja menggilas keluarga yang sedang berenang di pantai.

Keasikan ngebut, eh malah ngelindes orang, nggak punya adab emang

Seolah terlepas dari kejadian tersebut, kita dibawa time shift delapan tahun kemudian ke adegan tante Martha (Desiree Gould) yang sedang sibuk mempersiapkan anaknya, Ricky (Jonathan Tiersten) dan keponakannya, Angela (Felissa Rose) pergi untuk berangkat berkemah di Camp Arawak bersama.

Angela dan Ricky berpamitan untuk pergi ke sebuah perkemahan musim panas

Sesampainya di camp, tentu penginapan camper laki-laki dan perempuan dipisah. Oleh karena itu, Angela terpaksa harus terpisah dari Ricky, padahal Angel sangat pendiam dan seolah susah bergaul. Nggak cuma itu, Angela juga sering bikin orang-orang di sekitarnya jengkel, karena dia tidak pernah menjawab omongan siapapun, kecuali pada Ricky dan temannya, Paul (Christopher Collet). 

Angela kerap bikin sebel karena dia selalu diam seribu bahasa alias tutup mulut kecuali kalau ngobrol sama Ricky dan Paul

Hal ini tentu membuat Angela jadi sasaran bullying baik dari orang laki-laki maupun teman-teman sekamarnya yang perempuan, seperti Judy (Karen Fields) dan Meg (Katherine Kamhi) yang mengingatkan saya dengan peran antagonis Nia Ramadhani dan Gracia Indri kalau di sinetron Indonesia. Untungnya, Angela memiliki sepupu yaitu Ricky yang nggak pernah absen melindungi Angela.

Judy dan Meg yang selalu mengganggu Angela

Tak hanya nggak mau bicara, Angela juga bikin resah pengurus camp karena dirinya tidak mau makan makanan apapun. Oleh karena itu, pengurus camp menyuruh Angela untuk ke dapur dan minta tolong kepada koki untuk memberikan makanan yang disukai Angela. Eits di sini mulai terjadi konflik pemirsa. Pasalnya, kepala koki di situ justru nakal alias agak p*dofil nih. 

Angela lagi digodain koki

Untungnya Ricky datang, sehingga Angela bisa selamat. Kepala koki tersebut juga meminta mereka untuk tidak melaporkan perbuatannya pada siapapun. Tak disangka, kepala koki ini mendapatkan pembalasan akibat perbuatannya pada Angela, yaitu tubuhnya melepuh karena masuk ke dalam panci yang berisi air mendidih. 


Sederet peristiwa aneh dan mengerikan akhirnya muncul satu persatu di camp Arawak ini. Banyak peserta camp yang ditemukan tewas, dan semuanya yang tewas sebelumnya memang sempat membully dan menghina Angela habis-habisan. Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan bagi setiap orang yang nonton, siapa nih pelaku utamanya? 

A Perfect Place to meet young girls, might just be the perfect place to die!

Film Sleepaway Camp seolah memberikan formula yang hampir sama pada setiap horor slasher. Yaitu orang yang nyebelin, genit, sok dan suka bully orang lain, biasanya akan tewas secara mengenaskan terlebih dahulu. Ending yang disajikan pun sukses bikin saya ngeri dan ngakak bersamaan hahaha (maap). Tapi, twist yang diberikan Sleepaway Camp ini sebetulnya udah diisi dari awal, udah dikasih petunjuknya gitu. Mulai kejadian keluarga yang terlindas kapal boat, ibunya Ricky alias tantenya Angela yang terlihat sangat ceria dan creepy itu, ternyata saling berhubungan dan masuk akal membentuk kepribadian pelaku utama pembunuhan di Camp Arawak ini.

You will go there in a bus...and come home in a box!

Btw, setelah saya nonton film ini, saya jadi sadar. Walau kisah film ini hanya fiktif belaka, rasanya cukup bisa memberi gambaran kepada saya kalau kecerobohan atau kesalahan yang kita lakukan itu nggak hanya akan berhenti di satu waktu saja. Seperti contohnya peristiwa mengerikan yang dialami oleh korban yang terlindas kapal boat yang ditunggangi remaja tanggung sok keren itu ternyata memberikan trauma yang mendalam pada keluarga yang ditinggalkannya, dan akhirnya malah menimbulkan rentetan tragedi pembunuhan yang mengenaskan. Yah, memang sebaiknya hidup ini harus dijalankan hati-hati, baik dari sikap maupun perkataan. (Huhuhu)

Nah itu tadi review singkat tentang film horor Sleepaway Camp (1983) yang bikin saya ngeri sekaligus ngakak saat nonton endingnya. Buat kamu yang penasaran dengan film ini, silakan nonton dulu deh. Nah buat kamu yang udah nonton, gimana perasaanmu saat nonton adegan endingnya itu? Hahahaha! (*)

Review Film: The Invisible Man (2020)

6 comments
Review Film: The Invisible Man (2020) Indonesia via Imdb.com

Film The Invisible Man yang mulai tayang pada Februari tahun 2020 dan disutradarai oleh Leigh Whannell ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita bernama Cecilia (Elisabeth Moss) yang berusaha untuk melarikan diri dari pasangannya, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen) yang dikenal memiliki perilaku abusive dan toksik.

Cecilia diam-diam kabur dari rumahnya via imdb.com
Agar rencana melarikan dirinya mulus, Cecilia pun melakukannya dengan serapi dan sehati-hati mungkin. Mulai memberikan obat tidur kepada Adrian hingga memanipulasi CCTV di rumahnya. Meski begitu, ada saja yang bikin jantungan seperti saat anjing Cecilia tidak sengaja menyenggol mobilnya yang membuat alarm jadi berbunyi.

Hal ini tentu membuat Adrian jadi terbangun dan mau tidak mau Cecilia harus mengambil langkah seribu alias lari terbirit-birit menunggu saudaranya yang akan menjemput dirinya.

Apakah Cecilia lolos?

Tentu saja tidak ahahah. Karena tiba-tiba Adrian bikin kaget saat menghantam jendela mobil yang ditumpangi Cecilia. Singkat cerita akhirnya Cecilia bisa bernapas lega karena bisa lolos dari Adrian. Keesokan harinya, justru ia malah mendapatkan berita mengejutkan bahwa, Adrian telah tewas bunuh diri. Dirinya bahkan juga mendapatkan harta warisan dalam jumlah yang banyak. Hal ini tentu aneh, karena Cecilia tahu betul watak Adrian yang menyebalkan layaknya sosiopat, dan tidak akan melepaskan Cecilia begitu saja.

Adrian dinyatakan tewas bunuh diri via imdb.com
Seperti yang bisa kita lihat di trailernya, meski Adrian sudah dinyatakan meninggal, Cecilia justru curiga dan merasa bahwa ada sesuatu yang aneh yang menyelinap masuk ke dalam rumah yang dia tinggali saat itu. Tak hanya itu saja, sesuatu yang diam-diam masuk ke rumahnya tersebut juga berusaha untuk mencelakakan Cecilia. Hingga suatu saat Cecilia yakin, bahwa yang berusaha mencelakakannya adalah Adrian, dan dia yakin jika mantannya tersebut belum benar-benar meninggal.

Cecilia merasa ada sesuatu yang menyelinap masuk ke kediamannya via imdb.com
WHAT YOU CAN’T SEE CAN HURT YOU
Tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang susah dipercaya jika diceritakan kepada anggota keluarga di rumah yang ia tinggali tersebut. Bahkan Cecilia sampai dikira gila. Meski begitu, Cecilia sadar dirinya harus segera bertindak, karena Adrian dalam wujud yang tidak dapat dilihat alias invisible ini semakin berani menjauhkan Cecilia dari orang terdekatnya. Nggak cuma itu saja, Adrian juga berusaha untuk membunuh orang-orang di sekitar Cecilia.



Film berdurasi 124 menit ini cocok banget buat kamu yang suka menikmati tayangan bergenre horor, science fiction dan thriller. Saat menonton film ini, saya jadi mendapatkan gambaran pria-pria toksik dan abusive yang tampaknya memang selalu ingin mengontrol dan mengatur kehidupan pasangannya. Nggak cuma itu saja, pria tersebut juga berusaha untuk menjauhkan si wanita dari orang-orang terdekatnya, agar wanita ini tetap mau tidak mau bergantung pada dirinya. Pria abusive juga sering menyerang mental dengan mengerdilkan kepercayaan diri pasangan wanitanya, dengan ucapan seolah wanita ini tidak bisa hidup apa-apa tanpa dirinya. Kisah pasangan tersebut beberapa pernah saya lihat, seperti Hunter dan Richie di film Swallow (2019), Beverly dan Tom Rogan di film It Chapter Two (2019), John dan pasangannya di serial TV Dirty John, dan sebagainya (ada yang mau nambahin? hehe). Jadi buat kamu cewek-cewek, hati-hati ya kalau dapetin cowok atau pria dengan ciri-ciri seperti itu hehehe.


Lalu apakah Cecilia berhasil mengetahui rahasia Adrian menjadi sosok tidak terlihat dan bagaimana dirinya menyelesaikan masalah ini?

Menurut saya, film ini memang menarik untuk ditonton dan diikuti hingga akhir, tapi kurang terasa greget atau penasaran, karena sebagian dari cerita di film ini justru sudah ada di trailernya. Itu sih kekurangannya hehe. Nah buat kamu yang sudah nonton, menurut kamu gimana nih? Boleh tulis di kolom komentar ya. (*)

Review Film: Friday the 13th (1980)

4 comments
Review Film: Friday the 13th (1980)

Beberapa hari ini saya lagi seneng banget buat nonton film horor. Mungkin karena sama-sama merasa dihantui seperti karakter di film horor, tapi bedanya sekarang kita lagi dihantui oleh virus corona yang membuat kita harus banyak beraktivitas di rumah saja. Sedih dan serem banget. Oleh karena itu, menonton film apalagi film horor mungkin jadi sebuah sarana coping stress saya biar tetap waras untuk bekerja dan beraktivitas seperti biasa, meski keadaan lagi nggak biasa.


Salah satu film yang menarik untuk saya bahas kali ini adalah Friday The 13th (1980). Film besutan sutradara Seans S. Cunningham ini bercerita tentang sebuah area camp bernama Crystal Lake yang baru saja dibuka lagi, setelah ditutup selama 21 tahun lalu karena kejadian pembunuhan mengerikan yang menimpa pasangan muda-mudi. 


Layaknya sebuah camp, tentu para pendamping yang biasanya berusia anak SMA terlebih dahulu hadir di Crystal Lake, guna mempersiapkan camp sebelum dibuka untuk anak-anak. Annie Philips (Robbi Morgan) petugas logistik camp ketika di jalan menuju Crystal Lake, sebetulnya telah diperingatkan oleh seorang yang dikenal gila bernama Ralph, untuk segera membatalkan rencana ke Crystal Lake, karena dikhawatirkan akan terjadi kejadian serupa 21 tahun yang lalu. Tak mengindahkan nasehat itu, Annie Philips tetap berangkat hingga ia tak sadar telah menumpang mobil seseorang yang ternyata merupakan serial killer yang akan menghantui Crystal Lake.


Film yang dibintangi Kevin Beacon (yang masih muda banget hahaha), Betsy Palmer, Adrienne King, Harry Crosby, Laurie Bartram, Mark Nelson, Jeannine Taylor, Robbi Morgan ini mengingatkan saya dengan novel series Fear Street karangan RL Stine. Buat kamu yang suka baca Goosebumps pasti tahu RL Stine hehe. Nah di Fear Street memang kerap diceritakan kalau anak SMA banyak yang menghabiskan waktu musim panasnya dengan menjadi pendamping camp, seperti yang dilakukan para tokoh utama di Friday 13th ini. 


Seperti remaja SMA Amerika biasanya, di dalam kelompok tersebut tentu ada pasangan yang akhirnya memanfaatkan kondisi jauh dari orangtua, sehingga sekalian saja mereka mantap-mantap di camp. Ada yang suka usil, nge-prank sesama pendamping camp, dan sebagainya. Mereka tidak sadar kalau sedang diawasi oleh sesosok makhluk dari jauh. Camp Crystal Lake mulai mencekam karena akhirnya anggota camp menghilang satu persatu.


Pada akhirnya, anggota camp yang tersisa mau tidak mau harus mencari tahu keberadaan teman-temannya yang menghilang dan tetap berjuang untuk mempertahankan hidup melawan serial killer yang berusaha membunuhnya, yang ternyata berkaitan dengan kejadian 21 tahun lalu sebelum Crystal Lake ditutup.


Meski plotnya terbilang sederhana, saya cukup menikmati suasana diteror di film horor ini. Kayak lagi baca Fear Street banget, apalagi ini settingnya juga pada tahun 90-an jadi kesan jadulnya mirip. Hari Jumat ke 13 atau yang kerap disebut Friday The 13th tampaknya memang kerap jadi momok oleh banyak orang, termasuk orang Amerika. Bahkan film yang membawa cerita tentang Jumat ke 13 ini juga dibilang sudah sangat banyak. Kalau di Amerika ada Friday The 13th, kalau di Indonesia mungkin lebih akrab malam Jumat Kliwon haha. 

Nah, buat kamu yang pengin nonton horor tapi ringan dan biasa aja, tidak ada salahnya untuk mencoba nonton film Friday the 13th.

Well, happy watching! (*)

Review Film: The Wicker Man (1973)

2 comments
Review Film: The Wicker Man (1973) Indonesia

Film bergenre horor, thriller sekaligus misteri yang rilis tahun 1973 hasil karya sutradara Robin Hardy ini bercerita tentang seorang Sersan Howie (Edward Woodward) dari Kepolisian West Highland yang mendapatkan surat untuk menyelidiki hilangnya gadis bernama Rowan Morrison di pulau terpencil bernama Summerisle. Anehnya, ia datang jauh-jauh dari West Highland ke Summerisle ini hanya karena ada surat tanpa nama yang memohonnya menyelidiki anak yang hilang tersebut.


Sersan Howie (Edward Woodward) dari Kepolisian West Highland menyelidiki hilangnya gadis bernama Rowan Morrison di pulau terpencil bernama Summerisle
Keanehan nggak berhenti sampai di situ saja, ketika di Summerisle, semua orang yang ditanya Howie tak ada yang tahu kalau gadis bernama Rowan Morrison menghilang. Hal itu tentu tidak wajar, karena Summerisle itu pulau kecil dan penduduknya tidak banyak, jadi tentu setiap orang yang mendiami Summerisle mengenal satu sama lain. Nggak cuma itu, ketika Howie mengunjungi kantor pos milik May Morrison, mereka juga bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tidak ada anak putrinya yang hilang. Bahkan salah satu anak keluarga Morrison mengatakan bahwa Rowan Morrison adalah seekor kelinci.

Menyadari belum bisa kembali dari Summerisle karena penyelidikannya belum selesai, Howie akhirnya menginap di sebuah motel bernama Green Man Inn. Di motel tersebut banyak pria termasuk putri pemilik motel bernama Willow (Britt Ekland) saling bernyanyi dan berdansa. Nggak cuma itu, Howie juga melihat ada seorang pria yang dipersembahkan Lord Summerisle (pemimpin pulau Summerisle) untuk bereksperimen ena-ena dengan Willow, bahkan para pria di lantai bawah motel ikut bernyanyi dan menghadap ke kamar Willow, seolah sengaja bernyanyi mengiringi kegiatan ena-ena mereka. Tak hanya di dalam kamar, banyak pasangan muda-mudi saling ena-ena massal berjamaah di lapangan terbuka. Tentu saja hal ini mengusik jiwa Howie yang diceritakan sebagai sosok yang religius. Sinting! Saya yang cuma nonton aja langsung stres apalagi Howie.

Willow (Britt Ekland)
Film ini sangat horor menurut saya. Kita digiring perlahan-lahan untuk mengetahui bahwa ada yang tidak beres di pulau Summerisle. Misteri tidak hanya tentang hilangnya Rowan Morrison, tapi perilaku "tidak wajar" yang dilakukan oleh penduduk Summerisle. Semua orang di Summerisle melakukan hal yang menurut Howie aneh dan tidak wajar, tapi justru mereka memandang aneh Howie yang seorang religius. Bahkan menjadikannya seperti lelucon.

Menonton film ini, mau nggak mau saya jadi membandingkan dan teringat dengan film Midsommar yang tayang tahun 2019 lalu. 

Baca juga: Review Film Midsommar (2019)

Di Summerisle isinya orang menari, bernyanyi, bercocok tanam dan...bereproduksi
Di Midsommar dan The Wicker Man sama-sama banyak orang suka menari, bernyanyi bahkan sambil telanjang bulat di lapangan terbuka, dan juga ada festival May Day di The Wicker Man yang membuat saya ingat festival serupa yang ada di Midsommar. Bahkan, di penginapan yang ditinggali Dani selama di desa Harga pada film Midsommar juga terdapat foto-foto May Queen, hampir mirip dengan adegan di film The Wicker Man yang juga ada adegan Howie melihat foto gadis-gadis pada setiap acara May Day.


The Wicker Man sukses menyajikan cerita mencekam akan teror justru dari manusia biasa, bukan berwujud makhluk halus atau monster. Bahkan The Wicker Man sama sekali nggak ada adegan gore berdarah-darah tapi tetap bisa bikin saya merinding sampai sekarang. Akhir cerita film ini juga dikemas secara apik dan memuaskan. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penduduk Summeisle juga sangat enak didengarkan sekaligus bikin makin creepy.

Nah buat kamu yang belum nonton, saya sarankan untuk nonton deh, apalagi yang seneng sama Midsommar. Please, saya nggak mau gelisah sendirian gara-gara nonton The Wicker Man! Kalau yang udah nonton, cerita dong gimana rasanya nonton The Wicker Man, apakah sama-sama gelisah kayak saya ini huhu. (*)

Sumber gambar: Imdb.com