Hello!
My name is Justina Landhiani

Writer // Thanks for taking a look at my blog

Review Film: Rosemary's Baby (1968)

Leave a Comment
Review Film: Rosemary's Baby (1968) Indonesia
Review Film: Rosemary's Baby (1968) Indonesia

Film horor biasanya identik dimulai dengan sesuatu yang baru. Entah sekolah baru, teman baru, kehidupan baru atau rumah baru. Hal itu pula yang dialami oleh Rosemary Woodhouse (Mia Farrow) bersama suaminya Guy Woodhouse (John Cassavetes) di film Rosemary's Baby (1968) ini. Film horor psikologis garapan sutradara Roman Polanski ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karangan Ira Levin. Lewat film Rosemary's Baby (1968), Roman Polanski berhasil masuk jadi Nominee dan salah satu aktris di film ini yaitu Ruth Gordon memenangkan kategori Best Supporting Actress pada ajang Academy Awards. Film yang bertema satanic panic ini juga disebut-sebut memulai tren bertema serupa seperti The Exorcist (1973) dan The Omen (1976).


Film Rosemary's Baby (1968) mengisahkan kehidupan rumah tangga pasangan pengantin baru, Rosemary Woodhouse (Mia Farrow) dan Guy Woodhouse (John Cassavetes) yang berprofesi sebagai seorang aktor. Seperti pasangan suami istri muda pada umumnya, Rosemary dan Guy sibuk memilih apartemen untuk hunian mereka berdua. Hingga akhirnya, mereka mantap memilih apartemen Bramford di New York, meski apartemen tersebut memiliki reputasi yang cukup buruk. Yup, apartemen tersebut sebelumnya dikenal memiliki penghuni seperti pemuja setan dan penyihir seperti Trench Sister, Keith Kennedy, Pearl Ames dan Adrian Marcato.

Guy dan Rosemary Woodhouse pada film Rosemary's Baby (1968) di apartemennya yang baru
Guy dan Rosemary Woodhouse pada film Rosemary's Baby (1968) di apartemennya yang baru

Rosemary digambarkan sebagai seorang ibu rumah tangga yang pemalu dan lembut sedangkan Guy yang merupakan seorang aktor tampak ambisius ingin mengembangkan karir dan menghasilkan banyak uang. Sampai akhirnya mereka berkenalan dengan tetangga sepasang kakek nenek, Minnie (Ruth Gordon) dan Roman Castevet (Sidney Blackmer) yang cukup menyebalkan karena seolah selalu ingin ikut campur urusan rumah tangga Rosemary dan Guy Woodhouse. Tapi anehnya, yang semula awalnya Guy ogah-ogahan berkunjung ke apartemen Minnie dan Roman, berikutnya ia justru yang selalu akrab dengan pasangan Castevet tersebut. 

Minnie (Ruth Gordon) dan Roman Castevet (Sidney Blackmer) menjadi tetangga menyebalkan di film Rosemary's Baby (1968)
Minnie (Ruth Gordon) dan Roman Castevet (Sidney Blackmer) menjadi tetangga menyebalkan di film Rosemary's Baby (1968)

Keanehan nggak berhenti di situ saja, usai akrab dengan Roman Castevet, Guy Woodhouse mendapat kabar bahwa saingan utamanya, Donald Baumgart tiba-tiba menjadi buta. Oleh karena itu, Guy menggantikan Donald berperan di drama barunya. Ia juga masih takut jika Donald tidak lagi buta, maka posisinya di drama baru tersebut akan terancam. Oleh karena itu, Guy mulai merencakan untuk memulai memiliki anak dengan Rosemary, bahkan dia juga sudah mempelajari siklus ovulasi istrinya dan kapan mereka bisa anuan biar cepat punya anak hehe. Lagi-lagi tetangga menyebalkan pasangan Castevet ikut campur saat mereka akan bercinta. Pada malam sebelum pasangan Woodhouse mengeksekusi rencananya, Minnie Castevet memberikan semacam dessert dengan sebutan 'Chocolate Mousse' yang rasanya agak aneh saat dimakan Rosemary. Nggak lama kemudian, Rosemary justru merasa pusing dan akhirnya pingsan dengan mimpi yang aneh. Dia seperti sedang dalam setengah sadar, bercinta dengan sosok makhluk yang bukan manusia, bahkan suaminya juga tampak hadir melihatnya. Keesokan harinya, ia terbangun dengan luka goresan di tubuhnya, dan suaminya mengatakan bahwa itu ulahnya karena tak mau melewatkan 'Baby Night' tersebut.

Rosemary di film Rosemary's Baby (1968) terbangun dengan tubuh tergores
Rosemary terbangun dengan tubuh tergores usai 'Baby Night'

Nggak cuma saat sebelum 'Baby Night', pasangan Castevet juga ikut campur urusan rumah tangga Woodhouse setelah Rosemary dinyatakan hamil. Mulai dari merekomendasikan dokter pilihan mereka, dan memberikan obat-obatan jika kondisi Rosemary sedang down. Sementara sang suami, Guy Woodhouse justru terlihat sibuk dengan karirnya dan seolah menghindari Rosemary. 

Dari sini saja saya sudah merasa ngeri melihat Rosemary yang dikelilingi tetangga cerewet yang selalu ikut campur, serta tidak ada perhatian dari suami saat dirinya sedang hamil. Hingga akhirnya ketakutan saya semakin memuncak saat hampir di akhir film, Rosemary tampak sendirian, tidak lagi memiliki seseorang yang dapat dipercaya termasuk suaminya. 

Rosemary di film Rosemary's Baby (1968) seolah tak lagi memiliki orang yang bisa dipercaya
Rosemary di film Rosemary's Baby (1968) seolah tak lagi memiliki orang yang bisa dipercaya

Meski memiliki pace yang lambat terutama pada bagian awal, film ini mampu mengajak kita menyelami perasaan tokoh utamanya. Kita dapat merasakan naluri seorang ibu lewat kekhawatiran Rosemary terhadap nasib bayinya, bahkan saat ia mengetahui kenyataan yang terjadi di akhir film. Kita juga merasakan kejengkelan Rosemary menghadapi pasangan Castevet meski dirinya adalah wanita yang lembut dan serba nggak enakan.


Film Rosemary's Baby (1968) sangat cocok buat kamu yang ingin nonton film horor psikologis tanpa jumpscare berupa makhluk seram yang muncul secara mendadak. Rosemary's Baby (1968) mungkin juga relevan buat kamu pasangan pengantin baru, yang baru saja membeli rumah baru, dan punya tetangga cerewet suka ikut campur. Well, selamat menonton dan jangan lupa selalu hati-hati dengan tetangga rumahmu! (*)

Review Film: Carrie (1976)

2 comments
Review Film: Carrie (1976)
Review Film: Carrie (1976) Indonesia

Film Carrie (1976) merupakan film yang diadaptasi dari novel berjudul sama dari novelis horor Stephen King. Film horor Carrie (1976) yang disutradarai oleh Brian De Palma ini bahkan menuai sukses besar hingga aktrisnya yaitu Sissy Spacek dan Piper Laurie masuk sebagai Nominee di Oscar sebagai Best Actress dan Best Supporting Actress. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang jarang diraih oleh film horor biasanya. 

Film Carrie (1976) ini mengisahkan seorang gadis SMA bernama Carrie White (Sissy Spacek) yang polos, pemalu, tidak memiliki banyak teman serta sering jadi sasaran bully. Dirinya bahkan tidak mengerti apa itu darah haid, yang membuatnya histeris pada saat mandi di sekolah. Hal ini membuat banyak teman-temannya merundungnya hingga melempari Carrie White dengan pembalut.

Carrie White di film Carrie (1976) panik saat mendapatkan haid pertamanya
Carrie White di film Carrie (1976) panik saat mendapatkan haid pertamanya

Tak hanya di sekolah, Carrie White juga mengalami hal yang tidak menyenangkan saat berada di rumah. Yup, ibunya, Margaret White (Piper Laurie) digambarkan sebagai seorang religius yang kadang kelewatan saat mengajarkan atau menerapkan agama di kehidupannya sehari-hari. Bahkan ibunya menguncinya di sebuah ruangan kecil dan memintanya berdoa saat mengetahui Carrie White sudah mendapatkan haid pertamanya. Tanpa diketahui ibu dan teman-teman serta gurunya, Carrie White ternyata memiliki kemampuan telekinesis. 

Margaret White  di film Carrie (1976) digambarkan seorang religius yang sangat takut anaknya berbuat dosa
Margaret White  di film Carrie (1976) digambarkan seorang religius yang sangat takut anaknya berbuat dosa

Kehidupan suram Carrie White seolah tak pernah berakhir sampai seorang cowok populer, yaitu Tommy Ross (William Katt) yang kebetulan adalah pacar dari Sue Snell (Amy Irving) meminta Carrie White mengikuti prom night bersamanya. Konflik bertambah karena ibu Carrie White tak mengizinkan dirinya datang ke prom night, karena ia takut kalau Carrie White akan melakukan perbuatan dosa. Padahal hal ini mungkin saja menjadi awal Carrie White untuk menimmati hidup dengan melakukan hal yang biasa dilakukan gadis seusianya, sebelum terlambat.

Carrie White di film Carrie (1976) mengikuti pesta prom night di sekolahnya
Carrie White di film Carrie (1976) mengikuti pesta prom night di sekolahnya


Film Carrie (1976) memang bukan film horor biasa yang langsung memberikan adegan gore penuh darah yang mengerikan. Tapi, penonton justru diajak menyelami kehidupan menyedihkan Carrie White yang seolah tidak punya tempat untuk kembali, baik itu di sekolah atau di rumahnya. Hal ini tentu menyeramkan dan horor banget. Di sekolah di-bully, di rumah justru dihukum dan selalu disalahkan oleh ibunya, satu-satunya orang yang seharusnya bisa membantu dan menyayanginya. Hal ini tentu membuat Carrie White kesulitan untuk memercayai orang lain, bahkan yang benar-benar tulus berbuat baik kepada dirinya. Nggak hanya akting para aktor dan aktrisnya yang menjanjikan, scoring yang indah juga mengiringi film Carrie (1976), baik saat adegan drama yang sedih atau saat-saat mengerikan pada akhir film. (*)

Review Film: The Omen (1976)

Leave a Comment
Review Film: The Omen (1976) Indonesia
 Review Film: The Omen (1976) Indonesia

Film horor The Omen (1976) garapan sutradara Richard Donner dibuka dengan lagu opening berjudul Ave Satani yang dinyanyikan oleh kelompok paduan suara yang sukses bikin saya merinding. The Omen (1976) yang jalan ceritanya ditulis oleh David Seltzer ini mengisahkan tentang kehidupan seorang duta besar Amerika Serikat yaitu Robert Thorn (Gregory Peck) dan istrinya, Katherine Thorn (Lee Remick) yang menginginkan kehadiran seorang anak. Meski begitu, ketika kelahiran sang bayi yang dinanti tersebut tiba, bayi tersebut justru meninggal. Karena tak ingin istrinya sedih, mau tidak mau Robert Thorn menyetujui saran seorang pastur bernama Father Spiletto (Martin Benson) untuk mengadopsi seorang bayi yang lahirnya bersamaan dengan anaknya. Kebetulan, bayi tersebut juga tidak memiliki orangtua.

Kehidupan keluarga Robert Thorn dan istrinya serta anaknya yang dinamai Damien (Harvey Stephens) tampak baik-baik saja. Terlihat sangat family goals sekali, Robert Thorn yang akhirnya menjadi duta besar Amerika Serikat di Inggris, memiliki rumah mewah, serta Katherine Thorn juga bahagia dengan anaknya yang lucu. 

Keluarga Robert Thorn, Katherine Thorn dan Damien di film The Omen (1976)
Keluarga bahagia ala Robert Thorn, Katherine Thorn dan Damien di film The Omen (1976)

Tapi keanehan justru mulai terlihat saat perayaan ulang tahun Damien yang dihadiri banyak orang termasuk para fotografer untuk mendokumentasikan pestanya, mengingat Damien merupakan anak orang penting. Holly, pengasuh Damien melihat seekor anjing hitam dan tiba-tiba dia seolah kerasukan dan menjadi terobsesi dengan Damien. Holly naik ke atas gedung dengan tali melilit di lehernya, dan berteriak kepada Damien bahwa ini semua demi Damien, dan akhirnya tewas tergantung. Meski begitu, Damien yang juga melihat seekor anjing hitam yang dilihat Holly tersebut justru menyapanya dan terlihat akrab.

Katherine Thorn dan Damien di film The Omen (1976) menyaksikan pengasuhnya, Holly tewas
Katherine Thorn dan Damien di film The Omen (1976) menyaksikan pengasuhnya, Holly tewas

Kejadian ini nantinya akan membawa kita ke tragedi berikutnya yang nggak kalah mengerikan dan mengancam keselamatan keluarga Robert Thorn. Apalagi setelah datangnya Pastor Brennan (Patrick Troughton) menemui Robert Thorn dan memberi tahu identitas Damien serta apa yang harus ia lakukan, yaitu membunuh Damien.


Meski terkesan seperti film horor biasanya, The Omen (1976) justru terasa mencekam lewat jalan cerita serta akting pemainnya, khususnya Damien. The Omen (1976) memang tidak memberikan sosok hantu atau makhluk menyeramkan, tapi sukses membangun suasana mencekam dan menegangkan lewat scoring, munculnya anjing hitam, dan ekspresi Damien saat tersenyum sinis, marah dan sebagainya. Btw, adegan di makam dan ada anjing hitam di situ bikin saya merinding banget! 

Damien di film The Omen (1976) yang mukanya nyeremin abis
Damien di film The Omen (1976) yang mukanya nyeremin abis

(SPOILER!) Film The Omen (1976) ditutup dengan ending yang bikin saya shock dan merinding, apalagi saat tahu Damien diadopsi oleh Presiden Amerika Serikat, yang membuat saya bertanya-tanya. Apakah selama ini Damien hanyalah alat penguasa di atasnya atau dia sendiri yang mengendalikan orang-orang di sekitarnya. Lalu apa yang akan terjadi jika ia sudah dewasa nanti, mengingat Damien diadopsi oleh orang penting yaitu Presiden Amerika Serikat. Buat yang udah nonton, gimana menurut kamu?

Nah buat kamu yang belum menyaksikan film ini dan lagi pengin nonton film horor tanpa jumpscare hantu tapi tetap menegangkan, boleh coba The Omen (1976) sebagai tontonanmu kali ini. Well selamat menonton! (*)

Review Film: Don't Look Now (1973)

Leave a Comment
Review Film Don't Look Now (1973) Indonesia
Review Film Don't Look Now (1973) Indonesia

Film horor Don't Look Now (1973) garapan sutradara Nicolas Roeg ini mengisahkan kehidupan keluarga yang terdiri dari sang suami bernama John Baxter (Donald Shuterland) dan istrinya, Laura Baxter (Julia Christie). Mereka memiliki dua anak yang masih kecil yaitu Christine (Sharon Williams) dan Johnny Baxter (Nicholas Salter). Namun kedamaian kehidupan keluarga mereka tiba-tiba harus berakhir setelah tragedi kematian putrinya, Christine yang tewas setelah jatuh dan tenggelam di kolam dekat rumah mereka. 

Anak John dan Laura Baxter di film Dont Look Now (1973) yang bernama Christine tewas tenggelam
Anak John dan Laura Baxter di film Dont Look Now (1973) yang bernama Christine tewas tenggelam

Meski putri mereka baru saja meninggal, mau tidak mau John dan Laura Baxter harus melanjutkan kehidupan. Mereka akhirnya pindah ke Venice, karena John mendapatkan proyek merenovasi gereja kuno. Ketika di Venice inilah, Laura kebetulan bertemu dengan dua bersaudara yang sudah tua yaitu Heather (Hilary Mason) dan Wendy (Clelia Matania). Meski baru saja bertemu, Heather yang seorang tuna netra ini tiba-tiba mengatakan bahwa Christine, putri Laura, sudah bahagia di alam baka. Yup, hal ini tentu mengguncang mental Laura karena sebelumnya dia tidak menceritakan apapun mengenai kondisi keluarganya kepada kedua kakak beradik tersebut.

Heather di film Don't Look Now (1973) merupakan seorang cenayang atau psychic
Heather di film Don't Look Now (1973) merupakan seorang cenayang atau psychic

Heather yang tuna netra tersebut ternyata merupakan seorang cenayang atau psychic, dan ia memperingatkan Laura agar dia dan keluarganya segera pergi dari Venice agar terhindar dari bahaya yang mengancam mereka. Sementara itu, Venice sendiri juga sedang tidak aman karena banyak kasus pembunuhan. 


Nggak hanya hal itu saja, keanehan mulai menghampiri John karena saat di Venice, dia sering melihat sosok anak kecil menggunakan hoodie atau tudung berwarna merah, mirip dengan yang digunakan anaknya saat tewas tenggelam. Sosok bertudung merah ini nantinya akan menjadi benang merah sejak dari awal film hingga endingnya. 

Sosok bertudung merah di film Don't Look Now (1973) yang membuat John teringat dengan putrinya
Sosok bertudung merah di film Don't Look Now (1973) yang membuat John teringat dengan putrinya

Film Don't Look Now (1973) yang memiliki score 7,2/10 di situs Imdb ini cocok buat kamu yang menyukai horor berbalut misteri dan thriller. Film Don't Look Now (1973) sukses memberikan suasana mencekam lewat scoring dan setting di Venice yang dipenuhi kanal-kanal, serta jalan yang memiliki banyak persimpangan dan menyeramkan ketika sudah malam. Tak hanya itu, akting Julia Christie dan Donald Sutherland juga mampu menggambarkan sosok pasangan suami istri yang perasaannya hancur akibat kematian anaknya. Sentuhan horor supranatural lewat kemampuan psychic Heather dan John (walau dirinya menyangkalnya karena lebih memilih hal yang logis) membuat film ini jadi makin seru dan menegangkan hingga akhir. Saya juga sempat kebingungan membedakan apakah ini kenyataan di dalam film atau merupakan penampakan yang hanya dilihat oleh John. Hal ini tentu membuat rasa penasaran makin memuncak yang jawabannya bisa kita tahu pada akhir cerita. 

Well, selamat menonton! (*)

Review Film: Phenomena (1985)

Leave a Comment
Review Film: Phenomena (1985) Indonesia
Review Film: Phenomena (1985) Indonesia via Imdb.com 

Nama Dario Argento, sutradara film Phenomena (1985) tentu sudah tak asing lagi buat para "sinefil" hehehe. Yup, Dario Argento merupakan sutradara asal Italia yang dikenal lewat filmnya seperti Deep Red (1975), Suspiria (1977), Inferno (1980) dan masih banyak lagi. Btw, film Phenomena (1985) ini juga dibintangi oleh Jennifer Connelly saat masih remaja. Buat kamu fans Jennifer tentu nggak boleh ketinggalan nonton film Phenomena (1985) ini, hehehe.

Jennifer Connelly sebagai Jennifer Corvino di film Phenomena (1985)
Jennifer Connelly sebagai Jennifer Corvino di film Phenomena (1985)
Film Phenomena (1985) yang mengambil setting di Swiss ini dibuka dengan adegan seorang gadis yang berlari karena ketinggalan bis yang akan ia tumpangi. 

Seorang gadis ketinggalan bis
Seorang gadis yang lagi apes ketinggalan bis
Nah karena di tempat tersebut cukup terpencil dan sepi banget, gadis tersebut berinsiatif mengunjungi sebuah rumah yang terletak tak jauh dari tempat ia akan menumpang bis, untuk mencari pertolongan. Setibanya di rumah tersebut, bukannya mendapat pertolongan, gadis tersebut justru diserang menggunakan senjata berupa gunting yang tajam, hingga dirinya tewas dan kepalanya terlepas dari tubuhnya.

Kepala gadis tersebut yang diketahui bernama Vera Grandt (Fiore Argento) kemudian berhasil ditemukan oleh Inspektur Rudolf Geiger (Patrick Bauchau) dan asistennya, Kurt (Michele Soavi), dan diselidiki bersama ahli entomologi (ahli serangga) John McGregor (Donald Pleasance). Hal ini karena John McGregor mampu memperkirakan waktu kematian dengan memeriksa belatung yang terdapat pada sisa tubuh korban.

Inspektur Rudolf Geiger dan asistennya, Kurt menyelidiki jasad gadis tersebut bersama ahli entomologi, John McGregor
Inspektur Rudolf Geiger dan asistennya, Kurt menyelidiki jasad gadis tersebut bersama ahli entomologi, John McGregor
Sementara itu, seorang anak bintang film ternama bernama Jennifer Corvino (Jennifer Connelly) tiba di Swiss Richard Wagner Academy for Girls sambil didampingi oleh Frau Bruckner (Daria Nicolodi). Di sekolah yang sekaligus asrama tersebut ia mendapatkan teman sekamar bernama Sophie (Federica Mastroianni).


Jennifer Corvino (Jennifer Connelly) tiba di Swiss Richard Wagner Academy for Girls
 Jennifer Corvino (Jennifer Connelly) tiba di Swiss Richard Wagner Academy for Girls
Menjadi seorang murid baru sekaligus anak dari bintang film terkenal tentu membuat Jennifer Corvino selalu menjadi sorotan. Dirinya disorot nggak hanya karena ketenaran ayahnya, tapi ia juga dikenal aneh karena menyukai serangga serta sering sering tidur sambil berjalan. Bahkan, Jennifer Corvino pernah menyaksikan seorang siswa terbunuh hingga berakhir tersesat di hutan karena masih tidak sadar, apakah hal itu mimpi atau nyata.

Jennifer Corvino tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan seorang gadis
Jennifer Corvino tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan
Jennifer Corvino yang masih linglung dan hampir tertabrak mobil kemudian ditemukan dan ditolong oleh Inga, seekor simpanse yang selalu mendampingi ahli entomologi John McGregor. Di situlah akhirnya Jennifer Corvino menemukan sosok sahabat yaitu John McGregor sendiri, karena John menganggap kemampuan Jennifer bukanlah hal yang aneh. Bahkan, John McGregor menugaskan Jennifer Corvino menjadi seorang detektif bersama lalat Sarkofagus atau Sarcophaga sp. untuk menyelidiki pembunuhan yang sering terjadi di wilayah tersebut. Hal ini karena John mengetahui Jennifer memiliki bakat yaitu mampu berkomunikasi dengan serangga, untuk mengetahui lokasi di mana mayat-mayat serta rumah pembunuh tersebut. 

John McGregor menugaskan Jennifer Corvino menjadi seorang detektif bersama lalat Sarkofagus untuk menyelidiki pembunuhan
John McGregor menugaskan Jennifer Corvino menjadi seorang detektif bersama lalat Sarkofagus untuk menyelidiki pembunuhan
Sementara itu, Jennifer Corvino juga kerap mendapatkan bully dari teman sekolahnya, serta guru dan pendampingnya, Frau Bruckner juga tidak ikut membelanya. Bahkan orang-orang terdekat Jennifer justru tewas dibunuh secara mengenaskan, sehingga Jennifer makin kacau. Hal ini tentu membuat dirinya kesepian, sedih dan ingin segera pulang, namun lagi-lagi dia terjebak dalam suatu keadaan yang mengancam nyawanya. Sebab, Jennifer Corvino tanpa sengaja melihat sang pelaku yang sedang membunuh seorang gadis.

Jennifer Corvino tidak tahan tinggal lebih lama di sekolah dan asrama tersebut
Jennifer Corvino tidak tahan tinggal lebih lama di sekolah dan asrama tersebut
Saat menonton film Phenomena (1985) ini, saya seneng banget karena disuguhi pemandangan alam Swiss yang menakjubkan, ditambah ada Jennifer Connelly yang kayak ubin masjid alias adem dan sejuk banget hehehe. Film horor Phenomena (1985) ini juga unik karena tokohnya menggunakan serangga untuk menyelidiki suatu kasus pembunuhan. Saat melihat kemampuan Jennifer Corvino, saya langsung jadi inget tokoh Shino Aburame di anime Naruto karena sama-sama menggunakan serangga untuk membantunya menyerang lawan, hehehe. Oh iya, karena banyak serangga di film ini, tentu kamu ingat dalam daur hidup serangga (dalam film ini serangga yang digunakan adalah lalat) terdapat satu fase setelah telur menetas yaitu fase larva alias belatung. 
Daur hidup flesh fly Boettcherisca peregrina (Diptera: Sarcophagidae)
Daur hidup flesh fly Boettcherisca peregrina (Diptera: Sarcophagidae)*
Nah, kalau kamu agak jijik dengan belatung saya sarankan nggak nonton film ini saat makan ya hehe, takut jadi nggak doyan makan. Meski begitu, Phenomena (1985) tetap terasa menegangkan dan mencekam hingga di bagian akhir film. Endingnya juga masuk akal karena kita diberikan banyak clue dari awal film hingga menjelang akhir, contohnya seperti bentuk senjata yang dipakai si pelaku.

Jennifer Corvino ditemani lalat untuk memecahkan misteri pembunuhan
Jennifer Corvino ditemani lalat untuk memecahkan misteri pembunuhan

Bisakah Jennifer Corvino yang hanya berbekal lalat Sarkofagus menemukan dan memecahkan misteri pembunuhan berantai ini? Lalu apakah dirinya berhasil selamat dari pembunuh tersebut? Daripada penasaran, mending coba nonton aja deh. Well, selamat menonton! (*)

*Tropical Biomedicine 36(1): 131–142 (2019), judul: Boettcherisca peregrina (Diptera: Sarcophagidae): A flesh fly species of medical and forensic importance

Review Film: Black Christmas (1974)

Leave a Comment
Review Film: Black Christmas (1974)
Review Film: Black Christmas (1974) via Imdb.com

Jika kamu menginginkan horor slasher yang tidak biasa, kamu bisa menonton film Black Christmas (1974). Yup, sesuai dengan judulnya, film horor karya sutradara Bob Clark ini mengisahkan teror yang bertepatan pada hari Natal. Seperti biasanya, tentu Hari Raya Natal kerap dilaksanakan dengan berkumpul bersama sahabat, atau keluarga. Hal ini jugalah yang dilakukan oleh penghuni asrama putri Pi-Kappa-Sigma. 

Penghuni asrama Pi Kapp Sigma berkumpul merayakan Hari Raya Natal
Penghuni asrama Pi Kappa Sigma berkumpul merayakan Hari Raya Natal  
Setelah adegan pembuka tersebut, tiba-tiba kita dibawa ke sudut pandang pelaku teror, yang nggak tahu kenapa pengin membuat asrama tersebut sebagai target aksi berikutnya. Pelaku teror yang wajahnya tidak disorot ini tampak berhasil masuk ke dalam asrama kemudian memilih bersembunyi di loteng.

Kebahagiaan penghuni asrama Pi Kappa Sigma merayakan Hari Natal ternyata tak berlangsung lama. Usai para tamu laki-laki pulang karena sudah jam malam, teror pun mulai berdatangan. Awalnya, teror ini berupa seringnya telepon iseng yang diterima Jess (Olivia Hussey) di asrama tersebut. Tapi, isengnya tuh nyebelin banget yang jorok berbau mesum gitu. Hal ini tentu membuat para penghuni asrama jadi jijik, sehingga Barb (Margot Kidder) yang memang anaknya rebel banget nggak tahan buat membalas omongan si penelepon tersebut. Bukannya malah takut, si penelepon malah mengancam akan membunuhnya.

Jess menerima telepon iseng
Jess menerima telepon iseng
Salah satu penghuni asrama bernama Clare (Lynne Griffin) yang tak tahan dengan perilaku Barb, kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan berkemas, karena besok dia akan dijemput oleh orangtuanya. Tapi, tiba-tiba dia melihat keanehan pada lemarinya, yang semula ia kira Claude, kucingnya tapi justru ternyata adalah pelaku teror yang telah bersembunyi dan akan membunuh kemudian membungkusnya dengan plastik dan dibawa ke loteng asrama.

Clare dibungkus plastik dan diikat di kursi yang terdapat pada loteng
Clare dibungkus plastik dan diikat di kursi yang terdapat pada loteng
Bukan, dia bukan Gilang Bungkus, tahan, walau setelah melakukan hal menyeramkan pada Clare si pelaku malah nyanyi tentang bungkus-bungkus juga.

If this picture doesn't make your skin crawl...it's on TOO TIGHT.

Seperti yang kita tahu, Clare sebetulnya sudah janjian di suatu tempat untuk dijemput orangtuanya. Nah, ayah Clare yang sudah menunggu di tempat penjemputan ini merasa janggal karena anaknya nggak nongol-nongol. Akhirnya ayah Clare pergi ke asrama, mencari keterangan dari Chris Hayden  (Art Hindle) kekasih Clare hingga minta bantuan kepada polisi yang juga tetap hasilnya nihil.

Ayah Clare menunggu anaknya untuk menjemputnya pulang ke rumah
Ayah Clare menunggu anaknya untuk menjemputnya pulang ke rumah
Nggak berhenti di situ, teror ternyata masih berlangsung. Mulai dari seringnya telepon aneh dan mesum hingga mulai terbunuhnya satu persatu penghuni asrama tersebut.


Meski ceritanya agak terkesan repetitif seperti film horor slasher pada umumnya, ternyata ada hal-hal unik pada film Black Christmas (1974) ini. Yup, kita diberikan rasa mencekam sekaligus penasaran sampai akhir film, siapa sih sebenarnya pelaku teror ini, yang pada di akhir film kita diberikan sesuatu "yang tidak biasa" (sukses bikin saya masih kepikiran sampai sekarang). Selain itu, biasanya kan kalau di film horor slasher yang duluan mati terbantai adalah anak rebel dan nyebelin gitu, tapi di Black Christmas justru yang pertama tewas adalah Clare yang bisa dibilang adalah cewek baik-baik. Jadi ya pelakunya tampak seperti asal aja milih korbannya. Tak hanya menegangkan, film Black Christmas (1974) juga menyajikan sedikit selingan humor dari ibu asramanya yang nyentrik, pemabuk dan agak rebel sekaligus kocak yang harus berhadapan dengan ayah Clare yang tampaknya adalah orang yang "lurus". Btw waktu lihat ayahnya Clare yang tampak anteng, diem dan tetap kepala dingin mencoba mencari keberadaan putrinya ini bikin saya jadi sedih huhu.

Ayah Clare dan ibu asrama Pi Kappa Sigma
Ayah Clare dan ibu asrama Pi Kappa Sigma
Nah buat kamu yang pengin nonton film horor slasher yang agak beda dari biasanya, atau penasaran dengan nasib Jess dan teman-temannya menghadapi teror yang tak kunjung berakhir tersebut, film Black Christmas (1974) bisa jadi pilihanmu kali ini. 

Well, selamat menonton! (*)

Review Film: Happy Birthday To Me (1981)

4 comments
Review Film: Happy Birthday To Me (1981) Indonesia

Film horor Happy Birthday To Me (1981) garapan sutradara J. Lee Thompson, mengisahkan tentang Virginia Wainwright (Melissa Sue Anderson), seorang remaja yang baru saja kembali ke sebuah private school yaitu Crawford Academy setelah berhasil selamat dari kecelakaan maut yang menewaskan ibunya, serta sembuh dari operasi otak. Usai kembali lagi bersekolah, dia juga berhasil menjadi anggota kelompok elit di Crawford Academy, yang tentunya beranggotakan murid-murid high class. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Virginia kembali ke Crawford Academy

Seperti siswa kelompok elit pada umumnya, saat malam hari tentu mereka juga kerap hang out bersama di bar, kalau zaman sekarang ya mungkin buat konten Story di Instagram mungkin ya hehe. Di pembukaan film kita sudah diperlihatkan sebuah konflik, yaitu salah satu siswa elit yang bernama Bernadette O'Hara (Lesleh Donaldson) tiba-tiba dicekik dari belakang saat dirinya akan mengendarai mobilnya. Beberapa saat setelah dia berhasil melarikan diri, terlihat bahwa Bernadette bertemu dengan seseorang yang ia kenal. Tapi, sosok yang mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam itu justru mengeluarkan pisau yang digunakan membunuh Bernadette.

Bernadette melihat pembunuh tersebut seperti orang yang ia kenal

Sementara itu, para siswa elit telah berkumpul di bar, dengan Virginia yang terakhir muncul sebelum Alfred Morris (Jack Blum). Jika kamu memerhatikan dengan cermat, Virginia ini juga mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam, mirip dengan yang dikenakan si pelaku pembunuhan Bernadette. Singkat cerita, karena keadaan di bar makin chaos (ya gara-gara mereka sendiri sih), akhirnya mereka berlomba menyeberang jembatan meski jembatan tersebut akan dibuka agar bisa dilewati kapal. Salah satu mobil dari siswa elit tersebut ada yang nekat menyeberang jembatan, padahal jembatannya udah dibuka tinggi banget, dan membuat mobil yang mereka tumpangi jatuh. Virginia yang ikut menumpang di mobil tersebut tentu merasa kaget. Hal ini karena "permainan" tersebut merupakan hal yang belum pernah ia lakukan. Virginia yang langsung ngambek kemudian berlari menuju makam ibunya yang terletak di dekat rumahnya, di dekat TKP tempat mobil mereka jatuh. 

Setelah peristiwa tewasnya Bernadette, satu persatu anggota siswa elit ini mulai menghilang misterius, yang membuat pihak Crawford Academy mulai menyelidiki kasus-kasus tersebut. 

Satu persatu teman Virginia menghilang dan tewas secara misterius

Nggak cuma itu, Virginia yang diketahui sedang dalam proses pemulihan cedera dan kehilangan sebagian memorinya setelah kecelakaan tahun lalu, tiba-tiba diserang perasaan ketakutan dan bersalah. Takut kalau semua itu terjadi karena ulah dirinya. Tapi, pembunuhan ini terus berlanjut bahkan sampai hari ulang tahunnya yang nantinya penonton akan diberikan kejutan atau twist akan identitas pelaku dan motifnya.

Virginia yang kehilangan sebagian ingatannya merasa takut, jangan-jangan ia yang menyebabkan temannya hilang secara misterius

Film Happy Birthday To Me (1981) ini sebenarnya cukup menarik dan membuat saya penasaran hingga akhir film, cuma ada beberapa bagian yang bikin bingung, seperti adegan flashback yang agak nyaru dengan adegan sebelum atau sesudahnya. Twist di akhir film sebetulnya juga cukup make sense, karena mulai di awal film sudah banyak clue yang disajikan. Tapi mungkin saya merasa agak janggal dengan trik si pelaku, mengingatkan dengan trik yang sering digunakan Vermouth di anime atau komik Detektif Conan hahaha. 


Meski begitu, film ini tetap asyik ditonton, apalagi buat kamu yang lagi ulang tahun. Well selamat menonton! (*)