Review Film: Call Me By Your Name (2017)

1 comment
Review Film: Call Me By Your Name (2017) Directed by Luca Guadagnino
Jujur, awal saya menonton film Call Me by Your Name (2017) karya sutradara Luca Guadagnino ini sempat bikin malas ngelanjutin nontonnya. Hal ini mungkin disebabkan karena Call Me by Your Name yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya André Aciman bergenre drama dan romance ini mungkin kurang masuk di genre film favorit saya, hehe. Tapi yah, itu semua terobati karena visual dan jalan cerita yang dikemas yang sangat apik serta unik di film Call Me by Your Name ini. 

Elio Perlman (Timothée Chalamet) dan Oliver (Armie Hammer) di Call Me by Your Name (2017)
Alasan lain yang bikin saya penasaran untuk ikut nonton film ini adalah just follow the hype karena Call Me by Your Name sering masuk nominasi, baik di Golden Globe Awards 2018, dan juga sebagai peraih Oscar dari Academy Awards USA 2018 untuk kategori Best Adapted Screenplay. Saking seringnya Call Me by Your Name disebut dalam tiap nominasi, saya jadi bertanya-tanya apakah Call Me by Your Name ini lebih keren daripada Dunkirk-nya Christopher Nolan? Yah, saya bukan Nolan fan girl, tapi memang saya lebih menjagokan Dunkirk, Christopher Nolan, dan Hans Zimmer di ajang Golden Globes 2018 dan Oscar dari Academy Awards USA 2018, tapi ternyata Christopher Nolan dan Hans Zimmer nggak menang sih, hehe. 

Singkat cerita, saya harus tetap nonton film ini karena ini adalah jalan ninjaku. Call Me by Your Name mengambil setting di musim semi tahun 1983 di Italia bagian utara. Film ini bercerita tentang kehidupan Elio Perlman (Timothee Chalamet) yang merupakan anak dari seorang professor bernama Samuel Perlman (Michael Stuhlbarg). Seperti sebuah kebiasaan, Samuel Perlman yang seorang professor ini selalu mengajak mahasiswanya untuk mengunjungi dan tinggal di rumahnya ketika liburan. Dan kali ini yang diajak adalah Oliver (Armie Hammer). Di rumah Samuel Perlman, Oliver menempati kamar tidur yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidur milik Elio. 

Timothee Chalamet berperan sebagai Elio Perlman di film Call Me by Your Name (2017)
Elio merupakan seorang remaja beranjak dewasa berumur 17 tahun. Seperti sewajarnya seorang remaja yang sedang asik menikmati masa pubernya, Elio juga turut menikmati fase di mana ia menyukai orang lain. Pada awal film, kita pasti sudah tahu bahwa Elio seperti sedang menjalin hubungan dengan Marzia (Esther Garrel). Tapi, seiring berjalannya waktu, ia merasa bahwa dirinya sudah berbeda. 

Elio Perlman (Timothee Chalamet) dan Marzia (Esther Garrel) di film Call Me by Your Name (2017)

By the way, saya yang bukan makhluk penyuka visual yang aesthetic ini bisa takjub dengan visual yang disajikan oleh film Call Me by Your Name.
Isi rumah Elio Perlman dan keluarga, asik banget nggak sih huhu
Pemandangan buku bertumpuk-tumpuk, berserakan, dan Elio sendiri yang memang suka membaca buku ini memang layak untuk dipandangi selama berjam-jam.   

Elio Perlman dan buku, sungguh kombinasi yang membuat mata susah untuk berkedip
Tak hanya itu, scoring dan original music dari Sufjan Stevens yang digunakan dalam film Call Me by Your Name ini memang enak sekali didengar. Ya walau scoringnya enak, di film ini kamu tetap bisa merasakan bagaimana suasana yang ada di dalam film. Seperti terasa panas, dan banyaknya lalat yang ada di film Call Me by Your Name ini. 

Saat kita menonton Call Me by Your Name, pasti akan terasa atmosfernya yang panas serta banyak lalat di film ini
Saat saya menonton film ini sampai selesai, hal yang saya sadari adalah: bingung. Ya, saya bingung terhadap cerita yang ingin disampaikan oleh film ini. Karena seperti film dan buku, biasanya pada awal cerita kita akan diperkenalkan oleh tokoh-tokohnya, lanjut kemudian perkenalan konflik, beneran ada konflik, kemudian ada solusi mengatasi konflik tersebut, kemudian berakhir. Nah, di film ini ternyata tidak ada jalan cerita seperti itu. 

Elio Perlman dan Oliver lagi sepedaan walau cuaca panas tapi tetap cetar dan cakep
Kita memang pada awalnya diperkenalkan oleh berbagai tokoh yang terlibat dalam film ini, namun kemudian ya kita dibawa untuk menonton apa yang mereka lakukan. Begitu saja. Konflik utama di film ini juga tidak digambarkan secara jelas. Tapi, jadi berasa benar-benar hidup. Kita seperti diceritakan kehidupan sehari-hari mereka semua. Ya bersepeda, ya diskusi dengan orangtua, pacaran, berenang, dan sebagainya. 

Keluarga Perlman sedang berdiskusi bareng
Saya sempat melihat, ada review di Goodreads tentang novel Call Me by Your Name ini yang mengatakan bahwa novelnya membosankan, dan ya, tidak sebagus filmnya. Eum, bisa jadi sih. Ya, film ini aja ceritanya memang tidak jelas, tapi di antara ketidakjelasannya itu, Call Me by Your Name mampu menceritakan ketidakjelasannya dengan baik. Sangat baik. Saya bahkan sampai menonton dan mendengarkannya berulang kali.

Nah, buat kamu yang penasaran terhadap cerita dari film Call Me by Your Name, well, selamat menonton!

1 komentar:

  1. Well, setuju dengan review di Goodgreads itu. Tapi ke filmnya alias gue bosan sama filmnya wkwkwk

    BalasHapus