Review The Florida Project (2017): Orang Pinggiran di Tengah Kemewahan Disney World

1 comment

Jujur saja saya menyesal baru menonton dan mereview film ini sekarang. Kenapa waktu si Icha Perawan Kalimantan itu rame di twitter tentang film The Florida Project, saya nggak ikutaaaaan? Kenapaaa? 
Oke, film ini bukan tentang Icha Icha itu kok, cuma prolog aja hehe. Yah, hal tersebut sebagai pengingat saya bahwa kita harusssss follow the hype menjaga momentum, ya mungkin itu adalah jalan ninjaku untuk menjadi blogger hits ya. Hehe (abis ini dijitak banyak orang).

Film yang disutradarai oleh Sean Baker ini bercerita tentang kehidupan di Florida, di mana ada Disney World di daerah tersebut. Halley (Bria Vinaite) seorang ibu dan anaknya, Moonee (Brooklynn Prince) yang berumur 6 tahun berusaha bertahan hidup setiap hari, di balik hingar bingar kemewahan yang disajikan oleh Disney World.

Halley dan  Moonee mau berjualan apa saja asal besok masih bisa makan dan membayar uang sewa motel
Awal nonton film ini, saya cuma iseng sih, karena banyak yang rame ngomongin film ini. Dan ada juga yang menyayangkan The Florida Project ini tidak masuk nominasi Oscar 2018, padahal banyak yang memuji film ini bagus. 

Singkat cerita, saya akhirnya nonton di sebuah situs streaming, yang menyajikan subtitle suka-suka dia.
"Kalau pengin dapet subtitle yang bagus ya lihat yang ori woi, jangan yang bajakan."
Tapi, saya malah makin suka nonton The Florida Project karena subtitle suka-suka ini, hahaha. Sumpah lucu banget! Masak iya ada Andre Stinky, Rumah Uya, sampe minuman dawet juga dimasukin di subtitle ini, hahaha!

Film ini intinya cuma satu sih, bagaimana bertahan hidup sehari-hari yang digambarkan oleh orang-orang yang tinggal di motel murahan dekat Disney World. Adegan yang disajikan pun sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti berteriak saat ada pesawat yang melintas, bermain bersama teman-teman, melihat pelangi, makan es krim, dan sebagainya.

Seriously, kamu bakal disuguhi pemandangan orang-orang yang bisa dibilang 'terbuang'. Nonton tv sepanjang hari, merokok, nongkrong di taman motel sambil makan bersama anak-anak. Apalagi untuk Halley yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi ia tetap butuh duit untuk bertahan hidup. Ia makan makanan yang diselundupkan temannya dari restoran tempat temannya itu bekerja. Kemudian Halley mencari uang dengan cara apa saja, termasuk berjualan parfum murah agar dapat membayar uang sewa motel tersebut.

"Mau parfum aroma surgawi nggak bu? Baunya kayak rancangan desainer loh."
Begitu pula dengan Moonee. Ia sama berantakannya dengan ibunya. Bisa dibilang ia termasuk anak yang sedikit nakal. Kelakuannya benar-benar bikin pusing dan bikin saya membatin, semoga anak saya nggak begini hehe. Kelakuannya sudah terlihat dari awal film, ia bersama teman-temannya meludahi mobil penghuni baru di motel Future Land. Tak hanya itu, ia juga sering meminta uang kepada orang asing, agar bisa membeli 1 cone es krim yang ia santap bersama Scooty dan Jancey. Aaa heartwarming banget deh lihat adegan kaya gitu.

Makan es krim bareng teman, satu es krim dimakan rame-rame
Tokoh lain yang benar-benar bikin film ini makin keren yaitu Bobby yang diperankan oleh Willem Dafoe. Yea, saya jadi bandingin dong, muka Willem Dafoe saat menjadi ilmuwan nerd Norman Osborn alias Green Goblin di film Spiderman, dan saat ia jadi Bobby, penjaga motel Magic Castle, tempat Moonee dan Halley berlindung dan melupakan masalah mereka sehari-hari. 

Willem Dafoe saat menjadi ilmuwan di Oscorp dan saat menjadi penjaga motel Magic Castle
But, Willem Dafoe memerankan tokoh Bobby dengan sangat baik di sini. Kita jadi melihat sosok ayah yang melindungi penghuni motel Magic Castle. Ia memperbaiki ac yang mati, menjaga motel, menertibkan peraturan, menegur kelakuan penghuni motel yang menyebalkan termasuk Halley, dan juga mengusir seorang kakek yang dicurigai menjadi predator anak.

"Ngapain kamu ke motel mbah? Cari soda? Aku tahu apa yang lebih enak daripada soda, yaitu dawet!"
Walau ia sering ribut dengan Halley dan Moonee, tapi Bobby sangat peduli dengan kehidupan mereka. Bahkan ketika petugas kepolisian menciduk Halley, dan akan membawa Moonee ke keluarga yang lain, Bobby memilih mengasingkan diri. Sangat terlihat bahwa ia bingung dan kacau melihat pemandangan tersebut.


Walau film ini tidak menyuguhkan efek CGI dan bahkan hanya menyajikan cerita sehari-hari, The Florida Project bikin kita merasa tersentuh. Terasa miris sekali, ketika ada taman hiburan mewah seperti Disney World yang sering menarik banyak orang di seluruh penjuru dunia untuk mengunjunginya, ternyata malah banyak orang miskin di sekitarnya. Seperti yang dilansir dari laman BBC, The Florida Project adalah istilah awal yang diberikan ke Walt Disney World saat pertama direncanakan pada 1960-an. Di balik semua keceriaan Moonee, Baker memberikan pernyataan akan harapan palsu yang ditawarkan keajaiban Disney.

Di balik kelebihan dari film tersebut, ada hal-hal yang masih saya rasa kurang dari The Florida Project. Seperti asal-usul Halley dan Moonee, atau mostly penghuni motel pinggiran tersebut, mengapa mau tinggal di situ. Apakah Halley tidak memiliki orang tua, atau mereka semua di situ pergi berlibur tapi ngga bisa balik? Hehehe.

Yeah tapi film ini masih terbilang sangat bagus untuk ditonton kok! Well, happy watching!

1 komentar:

  1. "Kalau pengin dapet subtitle yang bagus ya lihat yang ori woi, jangan yang bajakan."

    Njus subtitle-nya pasti bukan dari Mas Pein Akatsuki atau Lebah Ganteng.

    BalasHapus