About 13 Reasons Why (TV Series 2017)

6 comments
13 Reasons Why
We create our own demons-Tony Stark
Film series yang yang diangkat dari novel karya Jay Asher  dan salah satu sutradaranya adalah Tom McCarthy ini rupanya sedang sering menjadi bahan obrolan di twitter. Film seputar depresi yang biasa dialami oleh orang yang sedang berada di masa peralihan dari remaja beranjak dewasa yang sedang dalam proses mencari jati diri dan nilai dirinya serta haus akan perhatian.

Film ini dibagi menjadi 13 episode sesuai judulnya dan sampai sekarang saya masih salut kepada pembuatnya, karena masih belum tergoda untuk membuat episode yang lebih panjang daripada yang disebutkan di judul, seperti membuat episode berjudul : Episode Final chapter A, atau Revenge Episode, Special Episode dan sebagainya. 13 Reasons Why bercerita tentang Hannah (Katherine Langford) yang menghantui orang-orang di sekitarnya melalui rekaman yang dia rekam di kaset tape sebelum dia tewas karena bunuh diri. Hannah merekam di tiap kaset, tentang pendapatnya dan apa yang benar-benar terjadi terhadap rumor yang menimpa dirinya, yang ketika masih hidup tidak sempat untuk diceritakan. Hal tersebut tentu menjadi ancaman beberapa orang yang pernah menyakiti hati dan membully Hannah. Mulai dari mantan gebetan Hannah yang menyebarkan foto mereka ketika berciuman, teman Hannah yang menyebarkan isi buku harianya, dan sebagainya. Hannah menjadi seperti demons yang tidak sengaja diciptakan teman-temannya yang selalu menyakitinya. Ketika menonton ini saya jadi ingat film series asal Thailand, Hormones. Ya, Hormones juga memiliki jalan cerita yang mirip dengan Hannah, seputar masalah remaja usia sekolah menengah atas yang mendapatkan masalah masing-masing dan bagaimana mereka menyelesaikan masalah tersebut.
Hormones
Dan karena nonton 13 Reasons Why, saya jadi baper. Ini Hannah kok jadi orang gini amat sih, if life gives you a suck, kenyot balik dong! Gitu kalau kata Indra Herlambang. Hehehehe. Menonton 13 Reasons Why juga membuat saya membayangkan kalau karakter Hannah diganti dengan Margo Roth Spiegelman di Paper Towns yang dibintangi oleh Cara Delevingne. Jangan-jangan Hannah kemudian ketika malam hari, menyusup ke kamar Clay, meminjam mobil, terus membuat daftar belanja dengan huruf aL4y kesukaan dia, membalas perbuatan orang-orang yang menyakitinya, kemudian pergi, ke Paper Towns.
Paper Towns
Selain Paper Towns, saya juga jadi membayangkan kalau Hannah tiba-tiba berkarakter seperti Olive Penderghast di film Easy A yang digosipkan sebagai pelacur dan apalah itu, yang kemudian dia menerimanya dan seperti menantang orang-orang yang memberinya julukan seperti itu. Walau kemudian akhirnya dia merasa terpuruk, dia tetap mampu menertawakan nasib sialnya itu dan selalu berjuang untuk memperbaiki keadaan.
Easy A
Saya juga jadi membayangkan kalau karakter Hannah diganti dengan sosok Amazing Amy di film Gone Girl. Hannah akan memulai balas dendam kepada teman-teman yang menyakitinya dengan mengumpulkan simpati dari orang di sekitarnya betapa menyedihkan kehidupannya, kemudian membuat dirinya seolah dibunuh oleh teman-temannya, hingga polisi serta masyarakat turun tangan dan mengecam perbuatan bully dari temannya, sehingga secara tidak langsung, peluang temannya masuk universitas akan terhambat. Ah Hannah, andai kau tidak sebodoh itu.
Gone Girl
Apaan sih nih kok jadi baper gini ahahaha. Tapi 13 Reasons Why sukses membuat saya bernostalgia kembali ke masa-masa SMA yang enggak indah-indah amat hehe. "High school is tough" kalau kata Ponytail Derek (Nicholas Braun) di film The Perks of Being A Wallflower. Tapi seburuk-buruknya masa SMA akan ada satu momen (ya cuma satu momen saja) yang membuat kita menjadi saudara, saling bermaafan dan berjuang bersama, yaitu ketika Ujian Nasional. Oh, ternyata Ujian Nasional ada sisi baiknya juga ya dari segi sosial murid SMA. Hehehehe. Tapi, bagi kamu yang tidak terlalu stabil kondisi kejiwaannya, lebih baik berhati-hati ketika menonton film ini. Di film ini seolah Hannah ingin menyatakan bahwa dirinya adalah benar dan yang menyakitinya benar-benar salah, dan melalu bunuh diri, semua akan terbalaskan. Ya enggak gitu lah. Tapi, tetap saja, balas dendam atau bunuh diri itu bukanlah suatu solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah. 
"Dalam hidup kau akan bertemu banyak orang jahat. Kalau mereka menyakitimu, katakan pada dirimu sendiri, itu karena mereka bodoh. Hal itu akan membantu mencegahmu bereaksi pada kekejaman mereka. Karena tidak ada yang lebih buruk daripada kebencian dan balas dendam. Selalu jaga martabatmu dan jujurlah pada dirimu sendiri."
Tapi yah well, begitulah 13 Reasons Why menurut saya, kalau menurutmu bagaimana?

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Gue belum nonton ini, sih, tapi kalo misalnya mau nostalgia "highschool is tough" kebetulan baru nonton Central Intelligence (2016) yg nyeritain korban bully di SMA dengan secara komedik, gak baper-baperan. Kayaknya film ini baper, gitu, ya? Hmm.. pengen nonton tapi takut, nangis, hahahaha. Btw, gue juga nonton Hormones, tapi season 2-nya, doang. Ternyata, gak cocok ditonton sama anak SMP, waktu nonton ini gue nonton sama adik gue, banyak yang saru-nya, sampe gue harus nutupin mata dia tiap ada adegan gituan. Tapi seru. Gue suka banget tuh quotes-nya Indra Herlambang, hahahaha. If life give you suck, kenyot balik. Pertanyaan gue adalah: emang ada yang mau ngenyot gue gitu?

    BalasHapus
  3. Gara2 klean pada ngomongin di twitter akhirnya saya juga penasaran dan ngikut nonton.... Tapi baru menit ke 10 tergoda untuk nonton Castle season 8. Hahaha. Kirain ini film hantu-hantuan gitu... Tapi okelah. Mau coba nonton sehari 1 episode. 😀

    BalasHapus
  4. Wkwkwk. Kalau Njus pernah baca Looking for Alaska, mungkin bakalan bilang mirip juga sama 13RW ini.

    BalasHapus
  5. kasian hannah nya, maunya setelah tewas bunuh diri, hannah menjadi Valak, agar dia bisa balas dendam ke semua yang pernah menyakitinya,

    sepertinya harus nonton ini, begitu juga dengan hormones

    BalasHapus
  6. bentar... Hannah ga boleh jadi Amy di Gone Girl

    BalasHapus