Sejarah yang Tak Lengkap

16 comments

Saya sering menikmati membeli buku tanpa membaca resensinya terlebih dahulu. Seringkali dengan hanya melihat cover buku dan foto buku yang artsy di Instagram membuat saya tergoda untuk memilikinya. Persis seperti orang lain yang tergoda membeli peralatan make up, tas, baju, sepatu dan gadget, hanya saja saya lebih tergoda dengan buku.

Perbudakan Seksual via Susano Books

Perbudakan Seksual, Perbandingan Antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasisme Orde Baru yang disusun oleh Anna Mariana terbitan Marjin Kiri, salah satu buku yang sejak dulu saya incar namun belum tahu kapan bisa memilikinya. Beruntung, seorang kawan memberikan buku ini sebagai kado wisuda saya. Awalnya, saya pikir buku ini tentang perbudakan seksual namun dengan arti tersirat, namun ternyata buku ini menyajikan sejarah dan narasi secara tersurat. Tentang wanita yang dijadikan budak seks ketika masa peperangan.

Saya teringat ketika pelajaran sejarah semasa sekolah. Sejak SD sampai SMA, diceritakan bahwa penjajahan Jepang lebih kejam dibandingkan dengan penjajahan Belanda. Romusha, istilah kerja paksa yang diperintahkan pemerintahan Jepang bagi warga negara Indonesia. Belakangan, menurut buku ini, saya sadar. Ada yang absen untuk diceritakan, mungkin karena persoalan yang dianggap “tabu” jika harus berkata sejujurnya kepada anak sekolahan. Kerja paksa seksual, atau menjadi budak seks yang dikenal dengan jugun ianfu (perempuan penghibur).

Seluk beluk perihal jugun ianfu hampir-hampir tidak pernah mewacana dalam narasi utama historiografi kita. Penulisan sejarah tentang masa penjajahan Jepang didominasi oleh kisah mengenai kekerasan terhadap golongan Islam, “pemasungan” media massa, hingga pengerahan tenaga kerja romusha, tetapi dampak luka perang yang secara khusus dialami oleh para perempuan nyaris tak tercatat. Telah ada testimoni mantan jugun ianfu yang berani mengungkapkan kisahnya, tetapi upaya penempatan kisah ini dalam sejarah belum banyak berpihak pada korban. Kekerasan yang dialami para perempuan muda pada masa penjajahan Jepang yang kini telah menjadi nenek-nenek itu belum dihargai atau pun ditulis dengan baik.

Perempuan memang rentan menjadi korban dalam peristiwa kekerasan yang mengiringi transisi politik. Dalam buku ini diperlihatkan kekerasan terhadap perempuan Tionghoa pada kerusuhan Mei 1998 yang tidak jauh berbeda dengan kasus pembantaian anggota PKI dan perkosaan yang dialami oleh para tapol (tahanan politik) perempuan dalam peristiwa tahun 1965.

Saya jadi teringat ucapan dr. Sienna Brooks, salah satu tokoh dalam novel karangan Dan Brown, Inferno.
“Pikiran manusia memiliki mekanisme pertahanan ego primitif yang menafikan semua realitas yang menimbulkan terlalu banyak ketegangan untuk ditangani otak. Mekanisme itu bernama penyangkalan. Penyangkalan adalah bagian penting dari mekanisme penyesuaian diri manusia. Tanpanya, kita akan terjaga setiap pagi dengan perasaan tegang tentang berbagai kemungkinan cara kita akan mati. Alih-alih, pikiran kita memblokir ketakutan eksistensial kita dengan berfokus pada stres yang dapat kita tangani. Seperti tiba di kantor tepat waktu atau membayar pajak. Jika kita memiliki ketakutan yang lebih luas dan eksistensial, kita membuangnya dengan segera, berfokus kembali pada tugas-tugas sederhana dan hal remeh-temeh sehari-hari.” 
Namun sayang, wacana agar kasus jugun ianfu, korban kerusuhan, dan tapol 1965 untuk dimasukkan dalam buku sejarah masih harus melewati jalan terjal yang perlu perjuangan panjang. Mungkin, bangsa ini masih berusaha menyembuhkan luka lama yang pernah terjadi, dengan menyangkalnya atau belum menceritakannya. Paling tidak, dengan adanya buku ini menjelaskan bahwa nasib jugun ianfu, tapol dan korban kerusuhan kepada perempuan adalah nyata.

16 komentar:

  1. Jadi pengin baca bukunya, deh. Persoalan perempuan di sini kayaknya memang masih sulit banget, ya? Kalaupun kisahnya dituliskan, apa iya bisa sebebas perihal lainnya buat disebarluaskan? Hmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin bisa disampaikan namun saya juga masih bingung, bagaimana menyampaikannya dengan baik dan benar. Mungkin karena topik yang dibahas adalah sesuatu yang dianggap tabu seperti seks, kita jadi takut membicarakannya.

      Hapus
  2. Benar juga sih, aku baru kenal istilah jugun ianfu kalau ga salah pas smp. itu pun tahunya bukan dari buku-buku sejarah di sekolah. Melainkan tentang berita jugun ianfu yang menuntut hak nya gitu. lupa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah Uda, aku baru tahu pas mau lulus kuliah :( hehe ketauan cupunya.

      Hapus
  3. Luka itu masih ada,..
    Darah itu masih basah,..

    Selain jugun ianfu, masih banyak hal2 tabu yg blum prnah diangkat dan diungkap dari luka peninggalan zaman penjajahan Jepang. Romusha adalah sekian dari puluhan narasi eksistensial yg diungkap.

    Selebihnya, kasus korban kerusuhan minoritas Tionghoa dan tapol 1965 masih mnjadi hal yg tabu untuk dpertanyakan dan diangkat ke buku pelajaran bangku sekolah.

    Kalo dipikir2 mereka para korban perbudakan seksual dari tahun ke tahun, tragedi ke tragedi dikemanakan ya sekarang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya belum tau Rey dikemanakan maksud kamu kasusnya dibawa kemana gitu ya? hhe
      ya yang jelas masih kalah pamor kasusnya sama Jessica, Rey :(

      Hapus
  4. Emmm... Jugun Ianfu kok kayaknya aku baru denger ya ._. di sejarah-sejarah gitu yang aku inget cuma : devide at ampera, dokuritsu Djunbi osakai, dewess dekker, sama kenangan mantan,

    *emaap malah ngerusuhi komentar :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantan kamu masuk buku sejarah feb? Oke fix. Hha. Iya feb, saya sendiri juga baru tahu tentang jugun ianfu ketika mau lulus kuliah. Sedih ya

      Hapus
  5. Wah, gaya nulismu berubah ya. Lebih akrab. Biasanya galak. Waahahahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk komentarmu kali ini di postingan ini, saya harus membalasnya dengan nada seperti ini atau seperti di grup mas? :) hhaaa

      Hapus
  6. Kek nya ini buku rekomendasi bgt bwt yg suka sejarah.. bahkan gw aja baru tau istilah "jugun ianfu" -_#

    Sadis memang.

    BalasHapus
  7. Anjir. Gue nggak nyangka Jepang sekejam itu kepada Indonesia pas menjajah. Ah, tapi udah menduga sebelumnya. Lihat aja JAV. Nafsuan kabeh! :))

    BalasHapus
  8. Kalo saya beda lagi, baca review-reviewnya dulu baru beli bukunya. hahaha. Itulah kenapa jadi gak eksplor penulis-penulis baru yang karyanya keren. :(

    Soal Jugun Ianfu, baru aja semalam Googling soal ini karena lihat berita Jepang protes ke Korsel karena mau bangun semacam patung peringatan tragedi itu. Setelah Googling ternyata Indonesia banyak juga korbannya. :(

    BalasHapus
  9. Kayak harus buat film spotlight versi indo tentang jugun ianfu

    BalasHapus