Persepolis: Kisah Masa Kecil by Marjane “Marji” Satrapi

12 comments
Persepolis via dfuse.in

Persepolis adalah memoar Marjane Satrapi saat tumbuh besar di Iran semasa Revolusi Islam. Melalui goresan hitam-putih, Marji yang cerdas dan tak ragu mengungkapkan pikirannya menceritakan kisah hidupnya di Teheran waktu dia berusia enam hingga empat belas tahun. Kehidupan masa kecil Marji terjalin erat dengan sejarah negerinya, dia menyaksikan rezim sang shah berakhir, kemenangan Revolusi Islam dan akibat mengerikan perang dengan Irak.

Saya mengenal Persepolis kira-kira lima tahun yang lalu ketika saya mulai menginjak bangku perkuliahan. Waktu itu saya tertarik dengan film Persepolis yang ditayangkan salah satu tv swasta dan jujur saja saya tidak begitu mengerti maksudnya. Saya hanya menangkap, film ini sangat bagus, walau belum mengerti sepenuhnya isi dari film ini. Film Persepolis sendiri sudah banyak mendapatkan penghargaan, diantaranya adalah Cannes Film  Festival tahun 2007 dan sempat mendapat nominasi dalam kategori film animasi terbaik Academy Award. Tidak lama kemudian, di kampus saya menyelenggarakan sebuah book sale, dan ada buku Persepolis yang harganya hanya sepuluh ribu rupiah, tanpa pikir panjang langsung saya ambil dan bayar ke kasir. Sayangnya, saya tidak sempat membacanya hingga kemarin, tanggal 27 Oktober 2016 ini. Sebuah penyesalan yang amat sangat mendalam.

Bab pertama dibuka tentang pengenalan Marji (panggilan Marjane Satrapi) dengan jilbab. Ketika umur 10 tahun, sekolah bilingual tempatnya ditutup karena merupakan simbol kapitalisme, serta mulai dilakukan aturan penggunaan jilbab. Marji sangat bingung harus berpendapat bagaimana tentang jilbab, karena di dalam dirinya dia mengaku sangat religius, namun keluarga Marji sangat modern dan avant-grade. Saya berpendapat, Marji berpikir lebih dari orang-orang sebayanya. Dia selalu memikirkan orang lain, tentang pembantunya yang makan terpisah dengan keluarganya, neneknya yang mengalami sakit lutut, oleh karena itu Marji memutuskan bercita-cita menjadi Nabi. Pada bagian ini saya mulai tertawa melihat kelakuan Marji yang sangat menggemaskan, tapi saya tidak jadi melakukannya mengingat usia Marji sekarang mungkin sudah seusia ibu saya :(. Hingga suatu hari, ketika gurunya bertanya apa cita-citanya, yang langsung dijawab Marji dengan mantap: Nabi!, yang berujung dipanggilnya orang tua Marji ke sekolah. Hal yang membuat saya salut adalah ketika gurunya melapor pada orang tuanya, orang tua Marji sangat tidak ambil pusing dengan pola pikir Marji, dan malah memberinya banyak buku sehingga Marji lebih tercerahkan. Marji mengetahui tentang anak-anak di Palestina, Fidel Castro, tentang para pemuda Vietnam yang dibunuh orang Amerika, tentang pejuang revolusi Iran, dan tentang Marx dan Descartes.

Marji ketika menyatakan cita-citanya 

Marji mengetahui bahwa kedua orang tuanya berdemo karena pemerintahan yang terjadi sangat tidak adil. Di satu sisi, orang tua Marji juga melakukan double standard terhadap pembantunya, Mehri, seperti pemisahan tempat ketika makan, atau melarang Mehri untuk memiliki hubungan kekasih dengan tetangganya, karena Mehri hanya seorang "pelayan". Pada malam itu, Mehri menangis di kasur Marji.
"Kami tidak berada dalam kelas sosial yang sama, tapi setidaknya kami di ranjang yang sama."
Tidak hanya bab pertama yang menarik, secara keseluruhan, novel berbentuk novel grafis ini sangat luar biasa. Kisah masa kecil Marjane Satrapi sangat menarik untuk disimak, bahwa dia hidup ketika perang antara Irak dan Iran terjadi. Doktrin yang disampaikan di sekolah, selalu ditolak oleh Marji, karena Marji sendiri tahu akan kebenarannya. Hal ini yang kemudian dikhawatirkan oleh ibunda Marji, karena ibunya mengerti nasib yang akan diterima Marji jika dia ditangkap petugas pengawal revolusi, yaitu sebelum dihukum mati, petugas tersebut akan "menikahinya" dengan mas kawin hanya 500 tuman. Sangat murah sekali jika dibandingkan harga jeans Marji yang harganya 1000 tuman. Oleh karena itu, di akhir buku Persepolis yang pertama, Marji diperintah ibunya untuk pindah ke Austria. Pada saat malam sebelum keberangkatannya ke Austria, dia tidur dengan neneknya yang memberi nasihat sangat bijak

"Dalam hidup kau akan bertemu banyak orang jahat. Kalau mereka menyakitimu, katakan pada dirimu sendiri, itu karena mereka bodoh. Hal itu akan membantu mencegahmu bereaksi pada kekejaman mereka. Karena tidak ada yang lebih buruk daripada kebencian dan balas dendam. Selalu jaga martabatmu dan jujurlah pada dirimu sendiri."
Nasihat dari nenek Marji menurut saya sangat tepat tidak hanya untuk Marji, tapi juga untuk kita semua. Bahwa kita hidup berdampingan, tidak mungkin jika kita hidup selalu dalam keadaan damai. Namun kita tidak selayaknya untuk membalas dendam atau berbuat sesuatu berdasarkan kebencian. Mungkin nasihat dari nenek Marji dapat mencegah kita untuk saling memusuhi sesama manusia, seperti yang sekarang sering terjadi. Well, selamat membaca dan menonton Persepolis :)


12 komentar:

  1. Sepertinya menarik untuk baham bacaan ringan.

    BalasHapus
  2. AAAAAKKKK! AKU MESTI BACAK INI!
    Tindakan orangtua Marji saat dipanggil ke sekolah itu emang lain, ya. Seandainya para orangtua bisa menangani anak-anaknya setepat itu.
    Dan, ya, setuju banget! Nasihat nenek Marji jelas bukan hanya untuk Marji, tapi berlaku buat kita semua. Tanpa batas waktu, selalu bisa dipakai.
    Ah, Njus! Makasih referensi bacaannya :*

    BalasHapus
  3. Ini judul film yng kemarin kamu saranin ke saya ya lan? Persepolis trnyata ada novel nya juga! Wah, kren! Sya serasa mmbaca tulisn Jostein gardeer versi komik. Tpi psti gaya bahasa nya beda.

    Untuk skarang saya lbih trtarik nnton filmnya dulu.
    Oiya, kata2 dari neneknya Marji keren! Ada sbuah pesan yg universal dn nggk cuma dpesankan utnuk Maarji saja. Tpi untuk seluruh dunia...

    Jdi mkin tmbah pnasaran...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, novel grafis rey hehe. Selamat membaca dan menonton :D

      Hapus
  4. Novel ini ada di Gramedia, Njus? Kepengin punya. Menarik banget ini cara kamu mengulasnya. Bikin yang baca jadi kepo. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mungkin sekarang susah carinya Yog, padahal terbitan Gramedia juga. Saya pernah lihat pdfnya sih, tapi versi bahasa Inggris hhe.

      Hapus
  5. Ini novel dari kisah nyata bukan yah njus..? Tp kalo dari latar cerita memang seperti kisah nyata..

    Dari novelnya, ini rekomendasi bgt..

    So, kalo baca2 disini selalu beda, kayak membuka sejarah lama yg menjadi baru. Ahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kisah nyata dian, asik banget bacanya, engga kerasa udah abis aja.

      Hapus
  6. Kalau ini ada versi bahasa Indonesianya, pengin banget nyari. Ceritanya menarik buat sekelas bacaan berat. Capek baca buku betat terus (baca: buku paket Biologi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang sudah diterbitkan memang versi bahasa Indonesia, Robby. Kalau belum dapet bukunya, kamu juga bisa nonton filmnya dulu. :D

      Hapus