Hello!
My name is Justina Landhiani

Writer // Marvel addict // Thanks for taking a look at my blog

Review Film: Call Me By Your Name (2017)

1 comment
Review Film: Call Me By Your Name (2017) Directed by Luca Guadagnino
Jujur, awal saya menonton film Call Me by Your Name (2017) karya sutradara Luca Guadagnino ini sempat bikin malas ngelanjutin nontonnya. Hal ini mungkin disebabkan karena Call Me by Your Name yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya André Aciman bergenre drama dan romance ini mungkin kurang masuk di genre film favorit saya, hehe. Tapi yah, itu semua terobati karena visual dan jalan cerita yang dikemas yang sangat apik serta unik di film Call Me by Your Name ini. 

Elio Perlman (Timothée Chalamet) dan Oliver (Armie Hammer) di Call Me by Your Name (2017)
Alasan lain yang bikin saya penasaran untuk ikut nonton film ini adalah just follow the hype karena Call Me by Your Name sering masuk nominasi, baik di Golden Globe Awards 2018, dan juga sebagai peraih Oscar dari Academy Awards USA 2018 untuk kategori Best Adapted Screenplay. Saking seringnya Call Me by Your Name disebut dalam tiap nominasi, saya jadi bertanya-tanya apakah Call Me by Your Name ini lebih keren daripada Dunkirk-nya Christopher Nolan? Yah, saya bukan Nolan fan girl, tapi memang saya lebih menjagokan Dunkirk, Christopher Nolan, dan Hans Zimmer di ajang Golden Globes 2018 dan Oscar dari Academy Awards USA 2018, tapi ternyata Christopher Nolan dan Hans Zimmer nggak menang sih, hehe. 

Singkat cerita, saya harus tetap nonton film ini karena ini adalah jalan ninjaku. Call Me by Your Name mengambil setting di musim semi tahun 1983 di Italia bagian utara. Film ini bercerita tentang kehidupan Elio Perlman (Timothee Chalamet) yang merupakan anak dari seorang professor bernama Samuel Perlman (Michael Stuhlbarg). Seperti sebuah kebiasaan, Samuel Perlman yang seorang professor ini selalu mengajak mahasiswanya untuk mengunjungi dan tinggal di rumahnya ketika liburan. Dan kali ini yang diajak adalah Oliver (Armie Hammer). Di rumah Samuel Perlman, Oliver menempati kamar tidur yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidur milik Elio. 

Timothee Chalamet berperan sebagai Elio Perlman di film Call Me by Your Name (2017)
Elio merupakan seorang remaja beranjak dewasa berumur 17 tahun. Seperti sewajarnya seorang remaja yang sedang asik menikmati masa pubernya, Elio juga turut menikmati fase di mana ia menyukai orang lain. Pada awal film, kita pasti sudah tahu bahwa Elio seperti sedang menjalin hubungan dengan Marzia (Esther Garrel). Tapi, seiring berjalannya waktu, ia merasa bahwa dirinya sudah berbeda. 

Elio Perlman (Timothee Chalamet) dan Marzia (Esther Garrel) di film Call Me by Your Name (2017)

By the way, saya yang bukan makhluk penyuka visual yang aesthetic ini bisa takjub dengan visual yang disajikan oleh film Call Me by Your Name.
Isi rumah Elio Perlman dan keluarga, asik banget nggak sih huhu
Pemandangan buku bertumpuk-tumpuk, berserakan, dan Elio sendiri yang memang suka membaca buku ini memang layak untuk dipandangi selama berjam-jam.   

Elio Perlman dan buku, sungguh kombinasi yang membuat mata susah untuk berkedip
Tak hanya itu, scoring dan original music dari Sufjan Stevens yang digunakan dalam film Call Me by Your Name ini memang enak sekali didengar. Ya walau scoringnya enak, di film ini kamu tetap bisa merasakan bagaimana suasana yang ada di dalam film. Seperti terasa panas, dan banyaknya lalat yang ada di film Call Me by Your Name ini. 

Saat kita menonton Call Me by Your Name, pasti akan terasa atmosfernya yang panas serta banyak lalat di film ini
Saat saya menonton film ini sampai selesai, hal yang saya sadari adalah: bingung. Ya, saya bingung terhadap cerita yang ingin disampaikan oleh film ini. Karena seperti film dan buku, biasanya pada awal cerita kita akan diperkenalkan oleh tokoh-tokohnya, lanjut kemudian perkenalan konflik, beneran ada konflik, kemudian ada solusi mengatasi konflik tersebut, kemudian berakhir. Nah, di film ini ternyata tidak ada jalan cerita seperti itu. 

Elio Perlman dan Oliver lagi sepedaan walau cuaca panas tapi tetap cetar dan cakep
Kita memang pada awalnya diperkenalkan oleh berbagai tokoh yang terlibat dalam film ini, namun kemudian ya kita dibawa untuk menonton apa yang mereka lakukan. Begitu saja. Konflik utama di film ini juga tidak digambarkan secara jelas. Tapi, jadi berasa benar-benar hidup. Kita seperti diceritakan kehidupan sehari-hari mereka semua. Ya bersepeda, ya diskusi dengan orangtua, pacaran, berenang, dan sebagainya. 

Keluarga Perlman sedang berdiskusi bareng
Saya sempat melihat, ada review di Goodreads tentang novel Call Me by Your Name ini yang mengatakan bahwa novelnya membosankan, dan ya, tidak sebagus filmnya. Eum, bisa jadi sih. Ya, film ini aja ceritanya memang tidak jelas, tapi di antara ketidakjelasannya itu, Call Me by Your Name mampu menceritakan ketidakjelasannya dengan baik. Sangat baik. Saya bahkan sampai menonton dan mendengarkannya berulang kali.

Nah, buat kamu yang penasaran terhadap cerita dari film Call Me by Your Name, well, selamat menonton!

Rekomendasi 4 Anime Horor yang Wajib Kamu Tonton

5 comments

4 Rekomendasi Anime Horor yang Wajib Kamu Tonton
Hai halo semua. Maaf sudah lama saya tidak menulis di sini. Saya tergoda untuk melakukan aktivitas lainnya, seperti membaca buku dan menonton series. Hehe. Akhir-akhir ini saya sering menonton series Agent of Shield, Sherlock Holmes, Game of Thrones, dan 13 Reasons Why. Iya, 13 Reasons Why. Jangan salah, saya bahkan sampai bikin list nonton per harinya, agar tahu seberapa besar pencapaian dalam hal menonton. Hehe.

Oiya, untuk anime, akhir-akhir ini saya memutuskan untuk menonton Gintama.  Eh sejak tahun lalu deh saya memutuskan untuk menonton anime ini. Padahal hypenya Gintama itu udah lama banget, tapi saya baru nonton sekarang, ya karena banyak orang yang bilang kalau Gintama itu keren banget. Sejak saat itu, saya bertekad untuk menonton Gintama, paling tidak 1 episode setiap hari. Hahaha niat banget ya, woiya jelas kan itu adalah wujud jalan ninjaku.

Selain anime bergenre komedi seperti Gintama, saya juga penggemar anime bergenre horor. Ya, Cuma anime saja saya berani nonton yang horor-hororan. Sampai saya coba satu-satu, mana nih yang creepy banget, mana nih yang biasa aja, dan sebagainya.

Nah, buat kamu yang pengin nonton anime horor, tapi masih bingung apa aja sih anime yang recommended? Saya akan membagikan anime horor yang menurut saya layak untuk ditonton ya, dimulai dari nomor 4 berarti saya ngga begitu creepy waktu nonton, sampai yang nomor 1.

Yuk cus!

4. Jigoku Shoujo

Jigoku Soujo
Jigoku Shoujo, seperti dari namanya, jigoku berarti neraka, dan shoujo berarti gadis. Anime ini menceritakan tentang Enma Ai, seorang gadis neraka yang "membantu" orang-orang dengan cara yang unik, yaitu membantu orang di dunia membalaskan dendamnya. Jadi, misal kamu memiliki dendam terhadap seseorang, tinggal mengakses website 'Tautan Neraka' milik Enma Ai, dan tulis nama orang yang akan dikirim neraka di laman website tersebut.

Sebuah website bernama Tautan Neraka untuk membalaskan dendam di anime Jigoku Shoujo
Setelah itu, Enma Ai akan datang, dan memberikan sebuah boneka jerami yang terdapat tali berwarna merah. Jika benar-benar ingin mengirim seseorang ke neraka, maka tinggal tarik tali tersebut, kemudian orang tersebut akan disiksa terlebih dahulu, kemudian dikirim ke neraka. Namun, hal ini bukan tanpa konsekuensi, yaitu  orang yang mengirim orang lain ke neraka, akan mendapat sebuah tanda di bagian dadanya, kemudian ketika mati juga akan berada di neraka. Tanda yang muncul ini juga tidak akan hilang, walau dihilangkan dengan cara apapun.

Tapi anime ini nggak hanya bercerita tentang hal itu saja, melainkan ada kisah tentang latar belakang masa lalu Enma Ai yang kelam, dan ada orang yang menyelidiki keberadaan Enma Ai ini yang membuat anime ini terasa nagih untuk selalu ditonton.

3. Yamishibai: Japanese Ghost Stories

Yamishibai: Japanese Ghost Storis
Anime besutan sutradara Takashi Shimizu dan Noboru Iguchi ini telah mencapai 5 season. Anime yang termasuk dari jaringan TV Tokyo ini benar-benar sangat unik. Ketika menontonnya, kita seperti sedang diceritakan oleh seorang kakek, yang bercerita tentang kisah-kisah menyeramkan. Kakek yang bertopeng tersebut juga seperti sedang menceritakan kepada anak-anak, tepat pukul jam 5 sore. Anak-anak yang sering bermain, kemudian berkumpul mendengarkan kakek tersebut bercerita tentang kisah-kisah menyeramkan.

Anime ini unik dan beda dari yang lain, karena teknik penyajiannya yang berbeda. Yaitu seperti sedang menggerak-gerakkan kertas, yang telah lebih dahulu digambar. Kemudian cerita dimulai. Anime yang telah selesai tayang ini per episode sangat pendek, yaitu sekitar 4 menit. Namun melalui jalan cerita tentang berbagai dongeng di Jepang, teknik penyajian, serta scoring musicnya yang sangat creepy, membuat saya ingin merekomendasikan anime ini untuk kamu.

2. Another

Another
Anime ini bercerita tentang keseharian Kouichi Sakakibara, murid pindahan di SMP Yomiyama Utara, yang menempati kelas 3-3. Ternyata, pada tahun 1972 terjadi tragedi tewasnya seorang murid populer bernama Misaki, yang juga merupakan siswa kelas 3-3 SMP Yomiyama Utara, dan setelah itu terasa atmosfer gelap pada sekolah tersebut.

Ketika pindah di kelas 3-3, Sakakibara Kouichi merasa aneh, karena ada satu anak perempuan yang tidak pernah diajak bicara, dan tidak pernah dianggap ada. Gadis itu juga pernah ditemui Sakaibara Kouichi saat ia dirawat di rumah sakit. Kebetulan, gadis itu juga bernama Misaki, yang namanya sama dengan gadis yang tewas pada tahun 1972 tersebut.

Lalu, apakah rahasia dari Misaki, teman sekelas Sakakibara Kouchi tersebut? Serta apa rahasia dari teror yang menyelimuti kelas 3-3 SMP Yomiyama Utara? Kamu harus menonton 12 episode dari anime Another ini deh! Scoringnya yang creepy dan tone yang cukup gelap serta adegannya yang cukup sadis, memang sukses bikin merinding dan tegang.

Hati-hati, ada banyak adegan muncrat darah di anime ini

1.  Junji Ito: Collection

Junji Ito: Collection
Karena saya selalu mencari suasana yang creepy dan tone dark dalam menonton anime horror, akhirnya saya puas ketika menonton anime dari Junji Ito, dengan judul Junji Ito: Collection ini. Anime yang telah selesai tayang 21 Maret 2018 lalu dengan total 12 episode ini memang sesuai ekspektasi saya. Ada adegan gore, serta hantu atau jump scare yang pas. 

Sayangnya, menurut website myanimelist.net, anime ini hanya mendapat rating 6.19 saja, so sad. Tapi untuk kamu yang suka dengan anime horror, anime dari Junji Ito ini sangat layak kamu coba. Jangan lupa baca komiknya juga ya!

Well, selamat menonton!

Review The Florida Project (2017): Orang Pinggiran di Tengah Kemewahan Disney World

1 comment

Jujur saja saya menyesal baru menonton dan mereview film ini sekarang. Kenapa waktu si Icha Perawan Kalimantan itu rame di twitter tentang film The Florida Project, saya nggak ikutaaaaan? Kenapaaa? 
Oke, film ini bukan tentang Icha Icha itu kok, cuma prolog aja hehe. Yah, hal tersebut sebagai pengingat saya bahwa kita harusssss follow the hype menjaga momentum, ya mungkin itu adalah jalan ninjaku untuk menjadi blogger hits ya. Hehe (abis ini dijitak banyak orang).

Film yang disutradarai oleh Sean Baker ini bercerita tentang kehidupan di Florida, di mana ada Disney World di daerah tersebut. Halley (Bria Vinaite) seorang ibu dan anaknya, Moonee (Brooklynn Prince) yang berumur 6 tahun berusaha bertahan hidup setiap hari, di balik hingar bingar kemewahan yang disajikan oleh Disney World.

Halley dan  Moonee mau berjualan apa saja asal besok masih bisa makan dan membayar uang sewa motel
Awal nonton film ini, saya cuma iseng sih, karena banyak yang rame ngomongin film ini. Dan ada juga yang menyayangkan The Florida Project ini tidak masuk nominasi Oscar 2018, padahal banyak yang memuji film ini bagus. 

Singkat cerita, saya akhirnya nonton di sebuah situs streaming, yang menyajikan subtitle suka-suka dia.
"Kalau pengin dapet subtitle yang bagus ya lihat yang ori woi, jangan yang bajakan."
Tapi, saya malah makin suka nonton The Florida Project karena subtitle suka-suka ini, hahaha. Sumpah lucu banget! Masak iya ada Andre Stinky, Rumah Uya, sampe minuman dawet juga dimasukin di subtitle ini, hahaha!

Film ini intinya cuma satu sih, bagaimana bertahan hidup sehari-hari yang digambarkan oleh orang-orang yang tinggal di motel murahan dekat Disney World. Adegan yang disajikan pun sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti berteriak saat ada pesawat yang melintas, bermain bersama teman-teman, melihat pelangi, makan es krim, dan sebagainya.

Seriously, kamu bakal disuguhi pemandangan orang-orang yang bisa dibilang 'terbuang'. Nonton tv sepanjang hari, merokok, nongkrong di taman motel sambil makan bersama anak-anak. Apalagi untuk Halley yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi ia tetap butuh duit untuk bertahan hidup. Ia makan makanan yang diselundupkan temannya dari restoran tempat temannya itu bekerja. Kemudian Halley mencari uang dengan cara apa saja, termasuk berjualan parfum murah agar dapat membayar uang sewa motel tersebut.

"Mau parfum aroma surgawi nggak bu? Baunya kayak rancangan desainer loh."
Begitu pula dengan Moonee. Ia sama berantakannya dengan ibunya. Bisa dibilang ia termasuk anak yang sedikit nakal. Kelakuannya benar-benar bikin pusing dan bikin saya membatin, semoga anak saya nggak begini hehe. Kelakuannya sudah terlihat dari awal film, ia bersama teman-temannya meludahi mobil penghuni baru di motel Future Land. Tak hanya itu, ia juga sering meminta uang kepada orang asing, agar bisa membeli 1 cone es krim yang ia santap bersama Scooty dan Jancey. Aaa heartwarming banget deh lihat adegan kaya gitu.

Makan es krim bareng teman, satu es krim dimakan rame-rame
Tokoh lain yang benar-benar bikin film ini makin keren yaitu Bobby yang diperankan oleh Willem Dafoe. Yea, saya jadi bandingin dong, muka Willem Dafoe saat menjadi ilmuwan nerd Norman Osborn alias Green Goblin di film Spiderman, dan saat ia jadi Bobby, penjaga motel Magic Castle, tempat Moonee dan Halley berlindung dan melupakan masalah mereka sehari-hari. 

Willem Dafoe saat menjadi ilmuwan di Oscorp dan saat menjadi penjaga motel Magic Castle
But, Willem Dafoe memerankan tokoh Bobby dengan sangat baik di sini. Kita jadi melihat sosok ayah yang melindungi penghuni motel Magic Castle. Ia memperbaiki ac yang mati, menjaga motel, menertibkan peraturan, menegur kelakuan penghuni motel yang menyebalkan termasuk Halley, dan juga mengusir seorang kakek yang dicurigai menjadi predator anak.

"Ngapain kamu ke motel mbah? Cari soda? Aku tahu apa yang lebih enak daripada soda, yaitu dawet!"
Walau ia sering ribut dengan Halley dan Moonee, tapi Bobby sangat peduli dengan kehidupan mereka. Bahkan ketika petugas kepolisian menciduk Halley, dan akan membawa Moonee ke keluarga yang lain, Bobby memilih mengasingkan diri. Sangat terlihat bahwa ia bingung dan kacau melihat pemandangan tersebut.


Walau film ini tidak menyuguhkan efek CGI dan bahkan hanya menyajikan cerita sehari-hari, The Florida Project bikin kita merasa tersentuh. Terasa miris sekali, ketika ada taman hiburan mewah seperti Disney World yang sering menarik banyak orang di seluruh penjuru dunia untuk mengunjunginya, ternyata malah banyak orang miskin di sekitarnya. Seperti yang dilansir dari laman BBC, The Florida Project adalah istilah awal yang diberikan ke Walt Disney World saat pertama direncanakan pada 1960-an. Di balik semua keceriaan Moonee, Baker memberikan pernyataan akan harapan palsu yang ditawarkan keajaiban Disney.

Di balik kelebihan dari film tersebut, ada hal-hal yang masih saya rasa kurang dari The Florida Project. Seperti asal-usul Halley dan Moonee, atau mostly penghuni motel pinggiran tersebut, mengapa mau tinggal di situ. Apakah Halley tidak memiliki orang tua, atau mereka semua di situ pergi berlibur tapi ngga bisa balik? Hehehe.

Yeah tapi film ini masih terbilang sangat bagus untuk ditonton kok! Well, happy watching!

Review Film: Before I Fall (2017)

2 comments
Before I Fall
Maybe for you there's a tomorrow. Maybe for *you*, there's 1,000 or 3,000, or 10... So much time, you can bathe in it. So much time, you can waste it. But for some of us, there's only today, and what you do today matters - in the moment, and maybe into infinity... But I didn't know any of that... Until right before I fell.
Film yang disutradarai oleh Ry Russo-Young dan bergenre drama misteri ini rilis 3 Maret 2017 lalu. Sempat nge-hype sih setelah rilis. Dan ya, ketika saya menonton, film ini keren banget menurut saya. Tapi rating di Imdb hanya 6,4 dari 10 sih.

Film ini bercerita tentang kehidupan Samantha Kingston (Zoey Deutch) atau yang sering disapa Sam. Sam diceritakan sebagai seorang yang memiliki segalanya. Orang tua yang sayang kepadanya, hidup berkecukupan, wajah yang cantik, teman yang menyayanginya, serta pacar yang ganteng dan populer. Yah kebanggaan seperti anak sekolah seperti biasanya lah.

Sam, Lindsay (Halston Sage), Ally (Cynthy Wu), Elody (Medalion Rahimi)
Seperti biasa, Sam berangkat sekolah dengan dijemput teman-temannya. Berjalan ke sekolah bersama, khas anak-anak populer seperti biasanya. Apalagi di hari cupid day. Sebuah hari di mana siswa perempuan menerima mawar bersama ucapan yang ada di kartunya. Termasuk satu orang, Juliet Sykes (Elena Kampouris), yang dianggap orang aneh, orang gila, dan sebagainya oleh Sam dan kawan-kawan.

Suatu malam, ia bersama gengnya mengunjungi rumah teman masa kecil sekaligus teman sekelasnya, Kent (Logan Miller) (namun Sam sering menghindarinya), untuk menghadiri pesta yang diadakan. 
Sam dkk di rumah Kent
Tak disangka, di pesta seperti itu, Juliet Sykes yang dijuluki si sosiopat juga hadir. Hal itu tentu membuat Lindsay marah dan akhirnya membully Juliet habis-habisan. Tak disangka, di perjalanan pulang, dalam satu kedipan mata, ia meninggal akibat kecelakaan mobil bersama tiga sahabat baiknya.

Esoknya, ia terbangun, dan menyangka hal kemarin hanyalah sebuah mimpi. Namun, ia tak menyangka, bahwa ternyata ia tak beranjak dari hari yang sama. Dan berulangkali ia mengalami hal ini saat membuka mata, hingga ia frustasi.

Sam selalu bangun di hari yang sama, berkali-kali
Sam mulai mencoba menguak apa yang sedang terjadi di dalam hidupnya. Dan akhirnya, mau tak mau ia harus mengungkap masa lalu kelam orang-orang terdekatnya, seperti teman segengnya.
Mau tak mau, Sam harus mencari tahu apa yang selama ini salah pada dirinya, agar terlepas dari perangkap ini
Ia akhirnya melakukan inovasi setiap hari agar terus bisa mencari akhir dari masalah yang membuatnya terjebak di hari yang sama ini.

Namun, sampai kapan?


Film ini walau hanya mendapatkan rating 6,1 dari Imdb, namun menurut saya sangatlah bagus. Dengan scoring film yang asik dan mendukung tiap adegan filmnya, tone film yang berwarna biru yang juga ikut membuat kesan film ini makin misterius. Seperti film Gone Girl gitu.
If I was going to live the same day over and over, I wanted it to mean something... and not just to me
Selain itu, film ini juga sarat akan makna. Salah satunya adalah, bagaimana kita harus selalu berbuat baik dan menjadi diri kita sendiri. Tak perlu ikut-ikutan teman agar dianggap sebagai seorang yang populer dan mendapat pengakuan orang lain.

Become who you are
Well, happy watching!

Review Film: Sunny / Sseo-ni (2011)

1 comment
Sunny
Film asal Korea garapan sutradara  Hyeong-Cheol Kang ini bisa dibilang bukan termasuk film yang baru, namun menurut saya, tetap cukup bagus untuk disimak. Saya memang tidak merupakan penggemar film Korea, tapi yang satu ini ya note bad lah. Apalagi dengan rating 7,1 dari Imdb.

Film ini dibintangi oleh Shim Eun Kyung / Yoo Ho Jeong sebagai Im Na Mi, Park Jin Joo/ Hong Jin Hee sebagai Hwang Jin Hee, Kim Min Young/ Go Soo Hee sebagai Kim Jang Mi, Min Hyo Rin / Yun Jung sebagai Jung Su Ji, Kim Bo Mi / Kim Sun Kyung sebagai Ryu Bok Hee, Kang Sora / Jin Hee Kyung sebagai Ha Cheon Hwa, Nam Bo Ra / Lee Yeon Kyung sebagai Seo Geum Ok, Kim Shi Hoo / Lee Geung Young sebagai Oh Jun Ho.

Film dimulai dengan cerita dari sudut pandang Im Na Mi yang sudah dewasa. Ia menjadi seorang ibu rumah tangga, yang benar-benar merawat suami, anak serta rumahnya dengan baik. Dia juga terkadang merindukan masa-masa bersekolahnya dulu, ketika tak sengaja melihat siswi sekolah yang berseragam.
Sambil liat ke jendela dan bergumam "Duh dek..dek zaman kae Mamah sekolah mbiyen"
Suatu saat, ia mengunjungi mertuanya di rumah sakit, dan tanpa sengaja melihat seorang pasien yang kesakitan di kamar sebelah. Dan ketika tahu namanya, dia tersadar. Ia sangat mengenalnya. Ialah Cheon Hwa, salah seorang anggota di gengnya, bahkan Cheon Hwa menjadi ketua geng tersebut.
Cheon Hwa si Bos Geng
Kini Cheon Hwa menjadi pasien kanker, dan walaupun ia menderita, ia tetap tegar seperti dulu. Ia pun meminta kepada Im Na Mi untuk mempertemukan teman-teman segengnya sebelum ia mati. Di sinilah petualangan Im Na Mi mengumpulkan teman-teman segengnya dimulai. 

Cheon Hwa yang menderita kanker dan didiagnosis akan meninggal, ingin segera berkumpul bersama teman lamanya
Pada saat Im Na Mi mengumpulkan teman-temannya lagi, film dibawa flashback ke kenangan Im Na Mi saat sekolah. Seperti biasa, film ini menyajikan konflik khas anak sekolah, seperti persaingan mendapatkan teman, tawuran antar geng, persaingan mendapatkan gebetan, dan mempertahankan persahabatan dalam geng sendiri.
Im Nami dkk saat masih sekolah
Yang paling seru menurut saya sih, ketika adegan tawuran. Jadi, antar geng ini memang benar-benar suka tawuran. Dan mereka tawuran dengan nebeng arena saat demonstrasi berlangsung. Jadi biar suasananya makin dapet kali ya. Hahaha.
Tempat demonstrasi malah buat tawuran antar geng
Di film ini saya jadi ingat omongan temennya Awkarin, Sarah Gibson, saat mendampingi Awkarin yang nangis-nangis ditinggal Gaga.
"Roda hidup itu berputar Ga..."
"Roda itu berputar Ga..." via Youthmanual
Kalimat Sarah Gibson itu mungkin berlaku di film ini. Ada temannya yang dulu terobsesi menjadi Miss Korea, namun kenyataan sekarang sungguh terbalik 180 derajat dari keinginannya.
Dulu pengin jadi Miss Korea, malah jadi mis..em ya gitu
Ada yang dulu anak tunggal seorang dokter gigi, namun akhirnya ia tak memiliki pekerjaan untuk bertahan hidup. Begitu pula Im Nami, yang mulai kehilangan keinginan untuk mewujudkan mimpinya, karena ia sadar, sudah terlalu tua untuk bermimpi.
Ketika masih muda, masih memiliki keyakinan untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita yang tinggi 
Menurut saya film ini cukup bagus untuk ditonton. Komedinya pas, dramanya pas, serunya juga pas. Seperti mengajarkan bagaimana persahabatan, tetap menjaga persahabatan selalu erat, dan selalu membantu sahabatnya saat susah. Selain itu film ini juga mengajarkan untuk tetap bermimpi, dan jangan melepas mimpi saat setelah menikah. Seperti yang dikatakan Cheon Hwa kepada Im Na Mi.

Well, happy watching!

Review: How To Be Single (2016), Cara Menyenangkan Jadi Seorang Jomblo

4 comments
How To Be Single
Walau film yang disutradarai oleh Christian Ditter ini bisa dibilang nggak baru-baru amat, namun saya sangat menyukai film ini. Sampai sering saya putar ulang dan sebagian besar hafal dialognya. Ahahahak. Padahal film ini bukan film dengan budget besar loh. Namun dengan bintang yang eum mungkin bisa dibilang terkenal dan sering mondar-mandir di film kesukaan kalian.

Sebut saja si pemeran Alice (Dakota Johnson) yang pasti udah familiar dong dengan peran Annastasia Stelle di Fifty Shades of Grey, dan Robin (Rebel Wilson) yang sering muncul di film Pitch Perfect. Tak hanya itu, Josh (Nicholas Braun) juga pernah nongol di The Perks of Being A Wallflower, Tom (Anders Holm) di film The Intern, serta Lucy (Alison Brie), salah satunya di film Sleeping With Other People.

Film ini bercerita tentang kehidupan percintaan Alice, Lucy, Meg (Leslie Mann), dan Tom. Walau bergenre comedy romantis dan seputar masalah percintaan, namun bagi orang yang tidak menyukai film romantis seperti saya, film ini benar-benar menyenangkan. Saya tidak bosan memutarnya sampai sekarang.

Cerita dimulai dari sudut pandang Alice, yang mulai memutuskan pacarnya, Josh, untuk sementara (break), agar ia bisa mengalami kehidupan yang benar-benar sendiri. Hal ini disebabkan karena Alice, sudah muak dengan kehidupannya yang monoton, dan selalu memiliki orang di sampingnya. Dia memutuskan untuk benar-benar dalam keadaan sendiri, tanpa ditemani pacar. Padahal saat itu hubungannya dengan Josh sedang dan selalu baik-baik saja.

Alice dan Josh yang harus break sementara
Namun keputusan Alice sudah bulat, dan tak mau lagi berkompromi dengan Josh, sehingga ia mulai berpisah, berpindah ke New York bersama kakaknya, dan menjadi seorang paralegal. Pekerjaannya sebagai paralegal membuatnya bertemu dengan Robin. Dan menurut saya, Robin lah yang membuat film ini sangat lucu dan menyenangkan. Robin juga ikut membantu Alice keluar dari keterpurukan karena benar-benar jomblo.
Walau terkesan acak-acakan, Robin membuat hidup Alice lebih berwarna
Tak hanya persoalan Alice, film ini juga membahas kehidupan Lucy dan Meg. Lucy yang seorang jomblo, mencoba mencari calon suaminya melalui aplikasi kencan online. Data yang ia hasilkan dari aplikasi tersebut, ia masukkan ke dalam algoritma di ms. Excel, kemudian ia akan mendapatkan kandidat yang tepat untuknya. Di sinilah cerita tentang Lucy mulai menarik, mengetahui ia berjuang mati-matian untuk mendapatkan “kandidat” calon suami yang pas untuknya.
Lucy menggunakan algoritma untuk mendapatkan pria yang sesuai dengan kriterianya
Lucy menggunakan aplikasi kencan online dengan menumpang wifi di bar milik Tom karena wifi di apartemennya rusak. Tom merupakan seorang pemilik bar dan benar-benar disukai oleh banyak wanita (diceritakan juga dia sering tidur dengan banyak wanita). Ia juga tak mau menjalin hubungan dengan seorang wanita pun, dan merancang kamar tidurnya sedemikian hingga agar tak ada wanita yang betah tinggal dengannya, kecuali saat bercinta saja. Wanita yang termasuk terpikat dengan Tom, salah satunya adalah Alice. 
Salah satu  penggemar Tom ya..Alice haha
Tom memiliki prinsip, bahwa wanita hanyalah ingin mendengar apa yang ingin ia dengar, dan tidak ingin sesuatu yang jujur. Oleh karena itu, ia selalu sukses mendapatkan banyak penggemar wanita. Yeah mungkin bagi kamu yang laki-laki, ingin memiliki banyak penggemar wanita, sebaiknya mulai lah menggunakan kalimat yang ingin didengar oleh wanita. Ahahak.

Sedangkan Meg, diceritakan merupakan seorang wanita karir yang benar-benar workaholic bekerja sebagai seorang dokter anak dan sering menangani proses kelahiran. 
Meg adalah seorang dokter yang workaholic
Ia malu mengakui dirinya sebagai seorang jomblo atau single, namun juga tidak mau memiliki hubungan dengan seorang laki-laki. Dirinya juga bersikukuh tidak mau memiliki anak karena merasa, masyarakat tidak akan membiarkan dirinya meraih mimpi saat memiliki anak. 
I'm so obsessed with the idea of being in love that I just, it's like, I completely lose myself. Like, I forget what I want and I just disappear. I'm like the horse in 'The Neverending Story'.
Cerita makin menarik ketika konflik dimulai. Yaitu ketika Alice selesai dalam “breaknya” dan ingin kembali dengan Josh namun Josh menolaknya, Lucy yang tidak kunjung mendapatkan kandidat calon suami sesuai algoritma yang ia rancang, serta Meg yang malah menginginkan anak (melalui donor sperma) setelah bertemu seorang bayi di saat ia bekerja.
Film ini ringan, nggak membutuhkan energi ekstra untuk mencerna tiap adegannya, selain itu juga diselingi humor yang lucu dari Robin yang membuat film ini terasa menyenangkan untuk ditonton. Endingnya menurut saya juga nggak seperti film romantis seperti biasa, bagus malah. Sebaiknya, kamu nonton aja deh! Apalagi lagi ditonton saat liburan bareng temen atau ehmm..pacar or gebetan.

Okay, selamat menonton!

Film-film yang Enak Ditonton Setelah Lulus Kuliah

7 comments
Film-Film yang Enak Ditonton Setelah Lulus Kuliah
Setelah susah-susah mengerjakan skripsi yang ternyata baru kita sadari enggak terlalu susah, dan malah terasa menyenangkan, enggak ada salahnya jika kita refreshing sejenak dengan menonton film. Karena, setahu saya, film adalah salah satu cara untuk merayakan kehidupan. Tentu saja saran film di bawah ini bukan mutlak layak untuk kamu semua, hanya saja mungkin related saja dengan masa-masa peralihan dari dunia perkuliahan dengan dunia kerja yang baru saya alami dan saya ingin berbagi dengan kamu semua. Here they are.

1. Get A Job
Get A Job

Sial juga ya nomor pertama malah dapet judul film seperti ini. Hehe, dibawa santai saja, film ini asik buat ditonton apalagi untuk jobseeker, seperti saya ini. Film yang dibintangi oleh Anna Kendrick, Bryan Cranston, dan Miles Teller menceritakan berbagai pengalaman setelah lulus kuliah. Jatuh bangun mereka, mulai dari awal diterima kerja, di-PHK secara mendadak, di-PHP oleh perusahaan yang sebelumnya menyatakan dirinya diterima, merintis startup, dipromosikan sebagai wakil general manager namun harus mengemban tugas "khusus" dan sebagainya. Yah, pokoknya tentang lika-liku jobseeker banget. Yang saya suka dari film ini, yaitu ada pada caption di akhir film,
"Is it tough out there? No doubt. But we all need a job. So, what do you do? Find the thing that you were meant to do. Work your ass off to get it. Never stop believing. Never quit. In other words, don't just feel special, be special."

2. The Internship
 The Internship

The Internship bercerita tentang dua orang sales jam analog, Billy dan Nicky. Sayangnya, pemimpin perusahaan mereka sadar, bahwa ini adalah akhir dari era jam  analog. Semua orang beralih ke jam digital yang telah tersedia di perangkat mobile phone mereka. Otomatis Billy dan Nicky terkena PHK. Walau merasa frustasi, mereka tetap tidak menyerah. Akhirnya mereka mendaftar ke dalam sebuah program magang yang disediakan oleh Google. Magang di sana tentu bukan perkara mudah. Selain tidak adanya skill, mereka juga cukup tua dibandingkan peserta magang yang lain.
Film ini bagus banget menurut saya. Mengajarkan bagaimana bekerja sama dalam sebuah tim, mencari kekuatan tiap anggota tim, dan bagaimana kita tidak boleh berprasangka buruk dan sok berkuasa. Walau kemampuan dan skill kita cukup memadai. Oh iya, saya pernah sedikit bercerita tentang film ini di sini.

3. The Intern
The Intern

Film yang dibintangi oleh Robert De Niro dan Anne Hathaway ini masih sama seputar start up. Robert De Niro berperan sebagai Ben, seorang pensiunan yang telah ditinggal mati oleh istri tercintanya. Namun sebagai seorang yang workaholic, dia merasa kesepian akan kehidupannya yang sekarang berstatus pensiunan. Akhirnya Ben mendapatkan tawaran magang di sebuah start up e-commerce di bidang fashion yang dipimpin oleh Jules Ostin (Anna Hathaway). Menjadi pensiunan yang magang di e-commerce merupakan sebuah tantangan yang berat bagi Ben. Menyesuaikan ritme kerja, generation gap, dan sebagainya bukan hal yang mudah. Selain itu masalah rumah tangga Jules Ostin juga dimunculkan yang mampu membuat film ini makin menarik.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini, oh iya saya pernah mereviw film ini di sini.

4. Pitch Perfect 2
Pitch Perfect 2
Film kedua yang dibintangi oleh (lagi-lagi) Anna Kendrick ini sangat patut untuk ditonton. Ringan tapi asik. Why Pitch Perfect 2? Hehehe
Alasannya simpel sih, karena ketika Pitch Perfect 1 tentang kehidupan awal kuliah dan lika-liku mengikuti unit kegiatan mahasiswa eh club maksudnya, bidang kesenian acapella, yang diberi nama Barden Bella. Nah di Pitch Perfect 2 ini, Barden Bella mulai harus menyesuaikan diri, antara club mereka, kehidupan kuliah, dan pasca kuliah. Ada yang mulai terpecah konsentrasinya mengikuti kegiatan magang, ada yang tidak ingin cepat lulus kuliah karena takut menghadapi kehidupan sebenarnya.
Hehe, ya iyalah. Kuliah memang surga banget. Sekolah dibayarin, nggak masuk ngga masalah asal nilai dan tugas selalu ngumpulin. Main ke sana kemari, ngopi-ngopi cantik terus di-upload di instagram seolah menjadi sebuah rutinitas kekinian yang wajib diikuti. Nah ketika mau lulus, kaget deh hehe.

Nah itu dulu deh rekomendasi film dari saya. Suatu saat akan saya update lagi rekomendasi film yang cocok buat kamu tonton setelah kuliah ini. Kalau kamu punya rekomendasi film yang cocok dengan tema ini, boleh banget ditulis di kolom komentar ya. Tetap semangat dan be special!
Yuhuuu!